buku / Resensi

Periplaneta Jakartana

Judul buku : Periplaneta Jakartana

Penulis : Anom Farid

Tahun terbit : 2011

Penerbit: Nomofilo (dapat dipesan lewat http://www.nulisbuku.com)


Mereka terbang, mereka terbang

Memikul ketakutan, menggendong kecemasan

Kami tidak, kami tidak

Karena kami tunduk di bawah, setia memeluk tanah

Meski bersayap, kami tetap merayap

Kwehehihihi

Penggalan sajak di atas merupakan salah satu sajak Modd yang bisa ditemukan di bab 3 buku Periplaneta Jakartana. Aku mengambil sajak tersebut karena mewakili inti cerita dari fabel tersebut. Ya, Periplaneta Jakartana mengambil setting di kota Jakarta dari sudut pandang serangga yang begitu akrab dalam hidup kita, kecoak.

Dalam fabel tersebut kita akan diperkenalkan kepada empat orang kecoak muda, Kopt, Noth, Donn dan Modd. Bagaimana kegelapan dan suasana di dalam got merupakan salah satu hal yang paling mereka rindukan karena di sanalah mereka dilahirkan. Got dan segala tetek bengeknya hanya salah satu hal yang akan kita kenali dalam perjalanan membaca fabel ini, mereka berempat—para kecoak muda pemberani ini—masih punya segudang petualangan yang menegangkan, kocak sekaligus tragis. Berbekal niat dan rasa ingin tahu mendalam, keempatnya pun berusaha melawan rasa takut yang selama ini diemban tetua mereka untuk berkelana ke tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi.

Mereka sadar sebagai makhluk kecil dan cenderung dianggap menjijikkan, mereka tak bisa hidup damai bersama manusia. Manusia diceritakan sebagai salah satu ancaman terbesar kecoak sepanjang hidup mereka yang hanya sekitar 60 minggu. Namun beruntung bagi keempat sahabat ini, pertemanan mereka dengan Ibil, seorang hantu muda, membuat kawanan itu bisa berkawan dengan Nasyirah. Bahkan, salah satu tetua kecoak yang arwahnya dihidupkan lagi oleh Ibil sampai-sampai tidak percaya keempatnya adalah kecoak karena mereka berempat tidak kelihatan takut pada dunia. Kawanan itu pun akan tertawa dengan tawa khas mereka berempat: ‘Hiyayahaha!’, ‘Duhakahuha!’, ‘Jiahahaha!’, dan ‘Kwohohahaha!’.

Empat jenis tawa itu, plus satu lagi pada sajak Modd di atas hanya sedikit dari beragam tawa yang muncul dari berbagai tokoh dalam buku tersebut. Tawa-tawa yang membuatku agak berkerut dahi membayangkan bagaimana bunyinya, tapi sangat cukup membuatku untuk ikut tertawa. Ditambah dengan keluguan para kecoak itu yang kadangkala membikin aku tertawa sekaligus tersadar betapa jahatnya aku selama ini.

Membaca fabel ini mau tak mau membuat kita sadar ada kehidupan lain selain manusia yang sama-sama mencari makanan di atas bumi. Bahwa mereka pun mahluk yang memiliki rasa takut, sama seperti kita. Kadang kita merasa terlalu tinggi dan lupa jika kita sama-sama makhluk hidup hanya karena mereka tinggal di got dan kita di rumah mewah.  Pada salah satu bagian, diceritakan tentang sekawanan kecoak yang berhasil ‘menaikkan derajat’ untuk menjadi hewan peliharaan dan makanan manusia.

Diceritakan dengan pemilihan kata yang lugas dan sederhana, penulis berhasil memberi kita satu pandangan lain tentang hidup ini. Pesan-pesan moral disampaikan tanpa menggurui dan diambil dari kejadian-kejadian yang dekat dengan hidup kita sehari-hari. Terlepas dari penggunaan kalimat oleh penulis yang kadang terlalu panjang (dan membuat aku harus membaca dua kali) serta layouting yang masih belum rapi, ceritanya sangat menyenangkan dan inspiratif untuk dibaca.

Dunia tidaklah hitam dan putih, ada jutaan sudut pandang menarik untuk melihat dunia—mencoba melihat dari kacamata para kecoak bisa kita temukan dalam buku ini.

Adit

Bogor, 29 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s