buku / Resensi

Review: The Series of The Immortal Nicholas Flamel

“The two that are one must become the one that is all. One to save the world, one to destroy it.”

Catatan: ini adalah review borongan dari buku 1-6. Jadi jangan harap nggak nemu spoiler di sini.

 Judul:

The Secret of The Immortal Nicholas Flamel Series

The Alchemyst

The Magician

The Sorceress

The Necromancer

The Warlock

The Enchantress

Penulis: Michael Scott

Gue mulai membaca novel ini setahun yang lalu dari rekomendasi beberapa teman. Ketika itu kira-kira baru sampai seri keempat yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Cukup telat, tapi tetep geregetan ya ngikutin serta nunggu buku kelima dan keenam.

Sekarang seri ini sudah selesai diterbitkan, hanya edisi Bahasa Indonesia dari buku keenam, The Enchantress yang belum rilis. Gue sendiri selesai membaca seri ini sekitar bulan Juni lalu. Baru sekarang (setelah kemarin mereview Dari Asap dan Tulang yang juga berseri) gue tergerak membuat review novel berseri ini dan tentu saja karena seri ini adalah salah satu novel favorit gue sepanjang masa.

The series of The Immortal Nicholas Flamel terdiri dari enam buku yaitu, The Alchemyst, The Magician, The Sorceress, The Necromancer, The Warlock, dan The Enchantress. Seluruh seri ini ceritanya bersambung dari satu buku ke buku lainnya. Jadi, nggak bisa mulai baca di tengah-tengah, menurutku wajib diikuti dari pertama.

The Alchemyst

Ini adalah cerita pendahuluan. Perkenalan tokoh-tokoh utama yang terlibat di dalam cerita yaitu Josh Newman, Sophie Newman, Nicholas Flamel, Perenelle Flamel, dan Dr. John Dee. Cerita dimulai dari Josh dan Sophie yang merupakan saudara kembar menghabiskan liburan mereka di San Fransisco. Oleh orang tua mereka yang arkeolog, Richard dan Sara, mereka dititipkan di rumah Bibi Agnes. Selama musim panas itu juga, Josh bekerja di toko buku milik Nick Fleming (nama samara Nicholas Flamel) dan Sophie bekerja di kedai kopi seberang toko buku tersebut.

Semua kekacauan di seri ini dimulai dengan kedatangan John Dee, yang juga seorang manusia abadi, ke toko buku Nicholas untuk mengambil Codex—sebuah buku/kitab yang ditulis oleh Abraham Sang Magi dengan berbagai macam pengetahuan. Salah satu hal yang ada di dalam buku tersebut adalah rahasia umur panjang Nicholas dan pembangkitan Tetua-Tetua.

Dari situlah akhirnya, Nicholas dan Perenelle mengungkapkan siapa Josh dan Sophie sebenarnya. Bahwa mereka memiliki sihir dan ditakdirkan sebagai anak kembar emas dan perak dalam ramalan. Satu akan menyelamakan dunia, satu akan menghancurkannya. Josh dan Sophie awalnya tidak percaya, tapi melihat sihir demi sihir yang ditunjukkan oleh Nicholas akhirnya mereka percaya.

Meski Perenelle diculik oleh John Dee, Nicholas memilih membawa si kembar kepada Hatake, salah seorang Tetua. Hatake memiliki kemampuan untuk membangkitkan kemampuan sihir seseorang. Bersama Scathach, Nicholas mengunjungi Hatake. Hatake baru sempat membangkitkan Sophie ketika John Dee bersama Bastet menyerang alam bayangan Hatake. Yggdrasil, pohon dunia, yang menaungi beberapa alam bayangan dihancurkan oleh Dee menggunakan Excalibur.

Nicholas, Scathach, Sophie dan Josh berhasil melarikan diri dari alam bayangan Hatake. Mereka semua menemui Penyihir Endor di Ojai, California. Oleh Penyihir Endor, Sophie dikaruniai pengetahuannya serta diajarkan sihir udara. Di sini, John Dee berhasil mengikuti mereka dan nyaris menganggu Sophie dan Penyihir Endor. Di saat-saat terakhir, ketika John Dee mendapatkan kesempatan untuk menghancurkan toko Penyihir Endor, Nicholas, Scathach, Sophie, dan Josh berhasil melarikan diri lewat gerbang ley ke Paris.

The Magician

Bagian kedua dari The Secret of The Immortal Nicholas Flamel ini berlatar di Paris. Di Paris, Nicholas bertemu dengan Saint-Germain serta Joan d’Arc, yang juga manusia abadi. Meski punya sekutu, Nicholas dan teman-temannya juga diincar oleh manusia abadi lain yaitu, Niccolo Machiavelli. Karena kekuasaannya di intelejen Prancis, Machiavelli sampai mengerahkan orang-orangnya untuk mengejar Nicholas dan teman-temannya. Dibantu oleh tiga saudara Disir yang membangkitkan makhluk Nidhogg dengan izin dari John Dee. Nidhogg menghancurkan beberapa bagian kota Paris, hingga akhirnya dibunuh oleh Josh menggunakan pedang Clarent.

Meski bisa menggunakan Clarent, tetap muncul iri di hati Josh karena Sophie sudah dibangkitkan serta diajari sihir udara, serta sihir api oleh Saint-Germain. Setelah membunuh Nidhogg, John Dee mengajak Josh turun ke katakombe untuk bertemu Mars Ultor, salah seorang Tetua. Oleh Mars Ultor, Josh dibangkitkan kemampuan sihirnya.

Sementara itu, di Alcatraz, Perenelle ditawan dan dijaga oleh Sphinx. Perenella bertarung dengan Morrigan yang berkat bantuan Aero-enap, tetua yang berwujud laba-laba, bisa ditaklukan.

Ini quote favoritku dari buku:

Sophie: “Bagaimana rasanya hidup begitu lama?”

Scathach: “Kesepian.”

 

“Terlalu berat menyaksikan mereka menua dan mati. Itulah kutukan kehidupan abadi: menyaksikan dunia berubah, melihat semua yang kau kenal memudar. Ingat itu, Sophie, kalau ada yang ingin memberimu hadiah kehidupan abadi.”

The Sorceress

Nicholas Flamel membawa si kembar ke London untuk bertemu Gilgamesh. Saint-Germain menitipkan mereka kepada Palamedes, sahabatnya. Di kota ini, kembali mereka diserang oleh makhluk-makhluk suruhan John Dee. Dibantu serta oleh William Shakespeare, mereka melawan Cernunnos, Sang Archon, yang menyerbu tempat tinggal Palamedes dan William. Ketika tempat tersebut akhirnya terbakar habis, mereka dapat melarikan diri dengan selamat dan berhasil bertemu Gilgamesh. Setelah bertemu Gilgamesh, yang menceritakan sedikit tentang riwayat si kembar serta mengajari si kembar sihir air. Cernunnos yang kembali datang, membuat Palamedes segera membawa mereka ke Stonehenge—gerbang ley. Lewat gerbang ley tersebut Nicholas bersama si kembar kembali ke San Fransisco. Namun pedang Clarent berhasil direbut oleh John Dee.

Di Alcatraz, Perenelle membuat sekutu dengan Morrigan. Dan akhirnya bisa kembali ke daratan menggunakan kapal, meninggalkan Billy the Kid dan Niccolo Machiavelli di Alcatraz. Perenelle kemudian mencuri mobil Billy untuk menjemput Nicholas dan si kembar.

The Necromancer

John Dee yang gagal untuk kesekian kali menangkap si kembar akhirnya dinyatakan sebagai buronan oleh majikannya yang tetua gelap. Ia pun kembali ke San Fransisco dan mengajak Virginia Dare untuk bersekutu. Ulah John Dee yang menghancurkan Yggdrasill juga membuat dendam dua tetua lain yaitu Odin dan Hel.

Di tempat lain, si kembar berhasil kembali ke tempat Bibi Agnes, namun ada dua tamu mencurigakan yang mendatangi mereka. Seorang perempuan mirip Scathach, Aoife dan lelaki ras Asia, Niten. Mereka berdua menculik Sophie. Nicholas dan Perenelle mengajak Josh menemui Aoife dan Niten. Dari situ, semuanya beranjak ke alam bayangan Prometheus, untuk mengajari Josh sihir api. Kemudian, John Dee menghipnosis Josh agar datang padanya. John Dee menggunakan Josh untuk membangkitkan Coatlicue, seorang Archon.

Machiavelli dan Billy the Kid ditolong oleh Rajawali Hitam untuk lolos dari Alcatraz dan kemudian menemui majikan Billy. Di Paris, seorang bertudung, Marethyu, mendatangi Palamedes, William Shakespeare, Scathach, Saint-Germain, dan Joan, mengajak mereka untuk pergi ke Danu Talis.

The Warlock

John Dee memisahkan Josh dari Sophie. Bersama Machiavelli, Billy the Kid, dan Virginia Dare, mereka menuju Alcatraz. Di Alcatraz mereka merencanakan untuk melepaskan monster-monster ke San Fransisco. Di sini juga, Virginia Dare mengajarkan Josh sihir angin.

Ketika kembali rumah Bibir Agnes bersama Niten serta Prometheus, barulah Sophie tahu jika Bibi Agnes adalah Tsagaglalal, salah satu manusia pertama. Di rumah itu, berkumpul pula Odin, Hel, Mars Ultor, Rajawali Hitam, Nicholas, dan Perenelle. Tsagaglalal membagikan mereka semua sebuah keping jamrud yang ditulis sendiri oleh Abraham Sang Magus. Mereka membagi diri menjadi dua tim, Odin, Hel, Mars, dan Rajawali Hitam menuju Alcatraz, sedangkan Niten, Prometheus, Nicholas, dan Perenelle menuju teluk San Fransisco untuk menghadapi monster yang dikirim dari Alcatraz. Tsagaglalal mengajari Sophie sihir tanah dan akhirnya mengirim Sophie ke Alcatraz. Saat Sophie bertemu Josh di Alcatraz ada cahaya lain yang menyedot mereka dari sana. Di tempat tujuan mereka selanjutnya, mereka bertemu dengan ayah dan ibu mereka.

The Enchantress

Sophie dan Josh akhirnya tahu jika Richard Newman dan Sara Newman adalah Isis dan Osiris. Keduanya sudah merencakan serangkaian kejadian ini dalam rentang waktu yang sangat panjang. Begitu pula Marethyu dan Abraham dibantu Chronos yang juga punya rencana.

Yang tersisa di San Fransisco bertarung habis-habisan. Sementara itu, mereka yang berada di Danu Talis, termasuk John Dee dan Virginia Dare, juga bertempur. Danu Talis sudah dalam kondisi gawat, gunung-gunung meletus, gempa terjadi, dan ombak menghempas daratan.

Pada, akhirnya ramalan itu terjadi. Satu menyelamatkan, satu menghancurkan dunia.

——————-

Meski memuat adegan dan karakter yang banyak, seluruh seri Nicholas Flamel ini cukup menyita perhatian gue. Rasanya nggak mau berhenti baca sebelum sampai halaman terakhir. Kisahnya seru, apalagi dengan alur yang cepat dan nggak bertele-tele bikin kadang sampai lupa bernapas *halah*.

Cerita ini bukan drama romantis. Lebih ke aksi dan aksi, makanya gue demen sama seri ini. Jadi, kalau pengin yang fantasi romantis, mendingan baca Twilight, Hush Hush, atau Daughter of Smoke and Bone. Nggak terlalu membahas persahabatan juga sih, lebih ke saudara kalinya. Hubungan darah dan yang berkaitan dengan itu. Karena lebih tersita dengan aksi, jadi ruang untuk cecintaan nyaris sedikit banget.

Selain itu, gue menyukai seri ini karena ceritanya terinspirasi dari mitologi-mitologi yang ada di dunia. Apalagi penulisnya menyertakan nama-nama terkenal yang membuat imajinasi jadi makin liar dan terasa familiar. Hehehe…. Sebab latar-latar tempat yang digunakan juga banyak yang nyata, bikin mudah mengimajinasikannya. Tentu saja, bikin pengin mengunjungi tempat-tempat tersebut, Notre Dame, Katakombe, Jembatan Golden Gate, dan sebagainya.

Di bagian belakang buku, Michael Scott menyertakan artikel tentang latar-latar yang dia pakai, seperti Alcatraz dan Katakombe. Kalau nggak salah, beliau melakukan riset untuk buku ini tuh sampai sepuluh tahun sampai akhirnya mulai menulis. Beliau datengi lokasi-lokasinya, terutama Alcatraz. Banyak orang berpikir nulis fantasi itu mudah, tapi nggak segampang yang dibayangin. Nggak cuma Michael Scott, JK Rowling aja butuh bertahun-tahun ngonsep Harry Potter. *oke cukup OOT-nya*

Karena penceritaannya yang cenderung cepat, adegannya terbagi jadi banyak, dan tokoh yang segudang memang buat beberapa orang bikin susah fokus. Kalau buatku sendiri, nggak terlalu menganggu sih. Malah berasa nonton film gitu, adegannya kan cepat-cepat. Untuk plot sendiri, meski karena terlalu cepat alurnya jadi masih ada plot hole tertinggal, bagiku juga nggak terlalu masalah. Malah aku pribadi ndak ngerasa sih, karena keasikan baca.

Buku favoritku adalaha buku kedua, The Magician, yang berlatar di Paris. Itu paling seru sih menurutku. Sementara itu karakter favoritku adalah Niccolo Machiavelli. Ngebayangin kalau beliau diperankan oleh George Clooney, wibawa dan dinginnya itu lho dapet banget.

Setiap cover dari buku serta judul mencerminkan salah satu tokoh utama. Ada enam buku yang memang tiap buku mewakili setiap tokoh yang terlibat dalam plot utama.

Seri ini menurutku apik sekali menjelaskan tentang kehidupan abadi. Bagaimana hidup selamanya nggak menjamin seseorang jadi bahagia. Malah, makin lama hidup kayaknya tuntutannya makin berat… makin kesepian.

Wah, apalagi ya yang perlu di-review. Pokoknya buku ini mengesankan deh buatku. :)

3 thoughts on “Review: The Series of The Immortal Nicholas Flamel

  1. baru baca yang pertama😀
    mba mau nanya dong, soal surat untuk jodohku apa jadi diterbitkan? kalaupun enggak gpp sih, cuma pengen tau aja akhirnya gimana, makasih kalau mau bales mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s