buku / Resensi

Review: The Mortal Instruments

“Where there is love, there is often also hate. They can exist side by side.”

– City of Bones

—-

The Mortal Instruments

Pengarang: Cassandra Clare

The Mortal Instruments (book one): City of Bones

(Ufuk, 2010 – penerjemah: Melody Violine)

The Mortal Instruments (book two): City of Ashes

(Ufuk, 2010 – penerjemah: Meda Satrio)

The Mortal Instruments (book three): City of Glass

(Ufuk, 2011 – penerjemah: Melody Violine)

 

Seri ini memancingku untuk membacanya ketika tahu bahwa buku pertamanya, City of Bones akan segera difilmkan dan rilis tahun depan. Sebab gue tipe-tipe orang yang nggak mau keduluan orang lain, maka, gue pun memutuskan untuk mulai membaca. Memang agak telat baca sekarang, karena versi aslinya sendiri sudah terbit dari tahun 2007 dan terjemahannya rilis pada tahun 2010. Akan tetapi, nggak apa-apalah, daripada baca setelah filmnya keluar (#ngeles) dan kebetulan memang lagi getol baca fantasi. Sebenarnya udah tertarik untuk baca ini sejak lama, karena ngeliat selalu nangkring di rak best seller. Akan tetapi, gue kurang suka sampulnya (padahal pakai ilustrasi yang sama dengan seri asli), jadinya ditunda-tunda sampai akhir November lalu deh.

Ini adalah review borongan dari tiga buku seri The Mortal Instruments. Kenapa tiga? Kan masih ada seri selanjutnya. Ya, jadi sebenarnya setelah City of Glass, sudah rilis juga City of Fallen Angels dan City of Lost Souls. Namun, ternyata enam buku seri The Mortal Instruments ini memang aslinya hanya tiga (trilogi). Jadi, tiga buku selanjutnya adalah sekuel dari second trilogy The Mortal Instruments.

The Mortal Instruments ini berkisah tentang manusia yang disebut Fana; Nephilim, manusia keturunan malaikat yang bertugas sebagai Pemburu Bayangan (Shadowhunters); serta makhluk-makhluk lainnya yang dikenal sebagai Penghuni Dunia Bawah (downwolrder), seperti vampir, fey, peri, dan warlock. Sebagian besar kisahnya terjadi di New York dan Idris (sebuah negara kecil dan tersembunyi di Eropa). Kisahnya sih masih tentang kebaikan versus kejahatan. Penjahat tunggalnya adalah Valentine. Sementara ceritanya sendiri berkutat di antara Clarissa Fray (Fairchild), Jace (tanpa nama belakang; harusnya ada tapi nanti jadi spoiler :p), Simon Lewis, serta beberapa tokoh pembantu yaitu Alex Lightwood, Isabella Lightwood, Luke/Lucian Graymark, Magnus Bane, dan Jocelyn Fray (Fairchild). Instrumen mortal sendiri merupakan pemberian malaikat Raziel yang berupa pedang mortal, piala mortal, dan cermin mortal.

City of Bones

 

Jadi, di sinilah semua bermula ketika ibu dari Clarissa Fray atau Clary tiba-tiba hilang diculik. Dalam sekejap kehidupan Clary berubah, ia bertemu dengan sekelompok orang aneh: Jace, Isabelle dan Alec; yang menyebut diri mereka sebagai Pemburu Bayangan. Clary juga menyadari bahwa New York tidak lagi sama, ada tudung-tudung pesona yang melingkupi banyak tempat rahasia.

Jace membantu Clary mencari ibunya, namun yang ditemukan Clary adalah apartemennya yang sudah berantakan dan ada Yang Terabaikan di sana. Jace pun membunuh Yang Terabaikan (bentuknya monster) dan mengajak Clary kembali ke institut, semacam tempat tinggal dan belajar para Pemburu Bayangan muda. Simon sebagai sahabat Clary pun terpaksa Clary libatkan. Usut punya usut ternyata ibu Clary, Jocelyn Fray, dulunya juga Pemburu Bayangan dan ayah Clary adalah Valentine. Sementara itu, Clary juga tahu jika Luke yang selama ini mendampingi Jocelyn dan Clary adalah manusia serigala.

Kemudian mereka mencari salah satu instrumen mortal yang disembunyikan oleh Jocelyn dan berhasil menemukan Piala Mortal. Saat mengambil piala itu, mereka harus melawan iblis kuat dan Simon menyelamatkan mereka semua. Piala Mortal itu pun dibawa ke institut dan ternyata, Hodge, kepala institut bersekutu dengan Valentine. Maka, diambillah Piala Mortal itu oleh Valentine. Selain mengambil Piala Mortal, Valentine juga memberi tahu Jace, kalau dia sebenarnya adalah anak dari Valentine.

Jreeeeeng…. Padahal, Clary dan Jace sudah sama-sama suka, tapi mereka harus menerima kenyataan.

“Declarations of love amuse me. Especially when unrequited.” – City of Bones

City of Ashes

 

Akibat kejadian itu, Jace ditawan di Kota Hening di bawah pengawasan Saudara Hening karena dianggap sebagai mata-mata Valentine. Akan tetapi, tanpa disangka-sangka, Valentine datang ke sana dan mencuri Pedang Mortal. Setelah kedatangan Valentine yang juga membunuh semua Saudara Hening, Clary bersama Alec, berhasil menyelamatkan Jace. Nyatanya, kisah Valentine dan Piala Mortal itu sudah terdengar ke mana-mana, termasuk para peri. Ratu Peri pun meminta Isabelle, Jace, serta yang lain untuk menemuinya dan menjelaskan keadaan yang terjadi. Mereka pun pergi ke istana peri, termasuk Simon yang juga diajak. Ketika urusan dengan ratu peri selesai, ia tidak membiarkan mereka semua keluar, kecuali Clary melakukan hal yang paling diinginkannya—mencium Jace.

Yah, peri tidak pernah berbohong.

Simon yang awalnya berkencan dengan Clary (setelah tahu Clary dan Jace bersaudara) pun kecewa dan meninggalkan Clary sekeluarnya mereka dari istana peri. Clary ikut pulang ke institut, tapi tidak lama kemudian ada yang menggedor-gedor pintu institut (hanya pemburu bayangan/nephilim dan manusia yang diizinkan masuk ke institut). Tamu tengah malam itu ternyata adalah Raphael, pemimpin kelompok vampir di New York, yang membawa Simon yang sudah bersimbah darah karena digigit oleh vampir. Karena tidak ingin Simon benar-benar mati, akhirnya Clary merelakan Simon menjadi vampir.

Rencana Valentine selanjutnya pun kembali diketahui. Ternyata Valentine ingin memanggil iblis lewat Pedang Mortal. Untuk itu, Valentine harus mengumpulkan darah dari tiap makhluk Penghuni Dunia Bawah (warlock, peri, manusia serigala, dan vampir). Darah warlock dan peri sudah berhasil Valentine dapatkan, maka selanjutnya Valentine mencari manusia serigala dan vampir, Simon pun diculik oleh Valentine.

Pada akhir bagian kedua ini, ada perang kecil di atas kapal Valentine. Meski Valentine berhasil mengeluarkan beberapa iblis, para Pemburu Bayangan berhasil menaklukkan mereka. Rune kuno yang ditorehkan Clary pun membakar hangus kapal tersebut. Simon pun berhasil diselamatkan. Namun Valentine berhasil meloloskan diri.

Simon: “Kau tahu apa perasaan paling buruk yang bisa kubayangkan?”

Clary: “Tidak”

Simon: “Tidak memercayai orang yang kucintai.”

– City of Ashes (halaman 332)

City of Glass

 

Bagian ketiga ini merupakan bagian pamungkan dari seri The Mortal Instruments. Valentine akhirnya mengetahui di mana cermin mortal dan berniat membangkitkan Raziel. Perang besar antara iblis dan Nephilim serta Penghuni Dunia Bawah pun terjadi. Banyak korban berjatuhan, karena kekeraskepalaan Nephilim yang tadinya tidak mau menerima bantuan Penghuni Dunia Bawah.

Jocelyn pun berhasil dibangunkan lagi dengan bantuan Magnus Bane, seorang warlock. Jocelyn pun memberitahu Clary jika sebenarnya Jace bukanlah kakak kandung Clary. Kakak kandung Clary bernama Jonathan Christopher. Clary, Jace, dan Jonathan (alias Sebastian) adalah hasil dari percobaan-percobaan Valentine. Pada Clary dan Jace mengalir darah malaikat, sementara pada Jonathan mengalir darah iblis. Begitu pula, Simon yang vampir dan bisa berdiri di bawah sinar matahari, ia mengakui jika hal tersebut adalah hasil percobaan Valentine kepadanya.

Pada, akhirnya Valentine pun berhasil dibunuh tepat setelah ia memanggil Raziel, Sang Malaikat. Permintaan yang belum diucapkan Valentine pun diberikan kepada Clary. Dan Clary meminta satu hal untuk seseorang yang dicintainya.

Dan… happy ending!

Oke, mari mengulas.

Secara keseluruhan kisah ini adalah kisah yang seru dan menegangkan. Cukup seimbang antara drama dan aksinya. Beberapa hal yang diangkat dalam fantasinya cukup mudah diikuti dan familiar untuk pembaca fantasi. Namun kesan terkuat yang aku tangkap dari serial ini adalah ‘remaja banget’.

Karakter-karakter utamanya memang berusia 16-18 tahun. Jadi, hampir seluruh kejadian yang terjadi memang benar-benar remaja banget. Keputusan-keputusan atas peristiwa-peristiwa juga bener-bener remaja. Beberapa keputusan diambil secara impulsive, kemudian disesali dan diselesaikan dengan kekeraskepalaan khas remaja. Begitu pula bagian romannya, duh, remaja banget deh. Unyu-unyu cinta monyet gitu, tapi mungkin ya nggak monyet-monyet amat juga. Hehehe…

Seluruh yang ada di paragraf sebelumnya sudah bisa ditemukan dari buku pertama, City of Bones. Buku pertama ini buku yang paling lama dan paling sulit aku selesaikan di antara buku lainnya. Pertama, karena obrolannya remaja banget dan dialognya buaaaanyaaak. Kedua, karena ini buku perkenalan, jadi banyak istilah-istilah asing, seperti Stela, rune, dan suluh sihir, serta pengenalan tokoh-tokohnya. Sebenarnya kalau dibaca pelan-pelan akan menarik, tapi dasar gue yang suka baca cepet, akhirnya dilompat-lompat. Sepertiga buku ke belakang, baru gue serius baca… karena di situlah letak twist-nya.

Buku kedua dan ketiga, gue lebih enjoy membacanya dan hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikan masing-masing buku. Mungkin karena gue sudah kenal dengan tokoh dan sudah mulai terbiasa dengan cara penulis bercerita, jadi sudah lebih nyaman bacanya. Lebih banyak aksi di bagian kedua dan ketiga ini. Emosi yang terjalin antar tokoh pun terasa makin kuat. Maka dari itu bener-bener bikin pengin cepat baca sampai tuntas karena penasaran dengan akhir ceritanya.

Favorit gue adalah buku kedua, City of Ashes. Bukan tanpa alasan gue memfavoritkan bagian kedua ini. Aku menyukainya karena tentu saja adegan aksinya yang banyak dan karena buku kedua ini benar-benar emosional. Bagian yang emosional itu bukan pas berantemnya sih, tapi ya bagian romannya. Kebetulan buku kedua ini memang banyak menyoroti kebimbangan hati para karakter-karakternya.

Ngomong-ngomong tentang karakter, Simon Lewis, sahabat Clary adalah karakter favorit gue. Dia dideskripsikan sebagai cowok geek, cupu, dan imut. Jelas, karakter inilah yang buat gue mewek di buku kedua dan bikin gue betah ngikutin The Mortal Instrument ini sampai akhir. Pokoknya, Simon ini yang geek tapi unyu gitu, apalagi ketika dia udah berubah… kayaknya makin keren aja!

Sementara itu, karakter lain kayak Clary atau Jace. Ya, ya, ya, aku pribadi nggak terlalu suka kepada Clary karena nyebelin! Kalau Jace, lama-lama aku bersimpati sama dia. Apalagi ketika akhirnya Simon dan Jace berdamai—wogh, proses perdamaian mereka itu juga bagian favoritku dari keseluruhan cerita ini.

Hal-hal lain yang jadi catatan gue adalah tentang kaum utama yang diceritakan di The Mortal Instrument ini, yaitu Nephilim. Gue sama sekali nggak simpati dengan kaum tersebut. Di Harry Potter, kita dihadapkan pada kelompok penyihir yang baik; di Hunger Games, kita disodori kenyataan dari sudut pandang masyarakat yang terdiskriminasi; tapi di seri ini, Nephilim adalah bangsa yang angkuh. Sebab mereka merasa lebih tinggi daripada manusia (Fana) ataupun Penghuni Dunia Bawah. Ternyata asal muasal sikap tersebut adalah karena mereka (Nephilim) iri kepada manusia yang bisa hidup dengan tenang (tanpa gangguan iblis) atau Penghuni Dunia Bawah yang jauh lebih kuat daripada mereka. Sekali dua kali sikap itu membuat gue jadi pro dengan Valentine yang ingin menghancurkan mereka (biar tahu rasa! Hahaha).

Kemudian tentang latar, gue kira dengan latar New York, cerita ini akan lebih menarik diikuti. Ternyata nggak sama sekali. Meski New York sudah familiar karena gue kebanyakan nonton film, tapi lokasi-lokasi yang disodorkan Cassandra Clare agak-agak di luar jangkauan gue. Penginnya sih, Cassandra Clare ini bisa bikin New York itu identik dengan para Pemburu Bayangan, seperti yang JK Rowling lakukan pada London. Atau seenggaknya menceritakannya dengan menarik, seperti yang Laini Taylor lalukan kepada kota Praha yang cantik.

Film City of Bones akan tayang 2013 nanti, sekitar bulan Agustus (kalau nggak salah). Tapi aku kecewa dengan cast Simon Lewis, sama sekali nggak seperti yang aku bayangkan. Aku selama membaca membayangkan Simon itu bertampang macam Q di Skyfall, tapi dengan bodi lebih berisi. Di film tersebut, Clary diperankan oleh Lily Collins, sementara Jace diperankan oleh Jamie Campbell Bower (suara seksi booo….).

Secara keseluruhan seri ini (buku satu, dua, dan tiga) menarik dan seru untuk diikuti. Kalau memang penggemar fantasi, aku merekomendasikan mencicipi novel ini. Apalagi kalau suka yang remaja-remaja banget, pas deh porsi remajanya. Kalau belum baca, belum telat untuk memulai mengikuti kisah Jace dan Clary, serta ikut demen sama si geek nan unyu, Simon.😀

Ini trailer dari City of Bones. Selamat menikmati!


One thought on “Review: The Mortal Instruments

  1. Pingback: Review: City of Fallen Angels « Hero of The Drama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s