buku / Resensi

Review: City of Fallen Angels

“Hearts are breakable.” – Isabelle

“The past always matters. You can’t forget the things you did in the past, or you’ll never learn from them.” – Jordan

Judul: City of Fallen Angels

Pengarang: Cassandra Clare

Tebal: 424 Halaman (English version)

Baru saja semalam aku menyelesaikan bagian keempat dari seri The Mortal Instruments, City of Fallen Angels. Buku ini juga menandai second trilogy dari seri The Mortal Instruments. Awalnya agak ragu untuk mulai baca bagian keempat ini–seperti yang banyak pembaca TMI 1, 2, & 3 tahu, bahwa konflik mereka udah berakhir di City of Glass. Baca reviewku tentang bagian trilogi bagian pertama dari The Mortal Instruments di sini. Kemudian, eh kok muncul lagi terusannya… buat fangirl memang nyenengin bersekuel-sekuel gini. Akan tetapi, buat gue sendiri yang mempertanyakan plot dan ceritanya, seperti apa lagi–maksudnya, ya sebuah cerita yang sengaja dipanjang-panjangin kadang akhirnya nggak selalu bagus. Bukan pesimistis, tapi nggak berekspetasi terlalu tinggi (lumayan tebel loh buku ini). Cek dan ricek tentang buku ini juga, sebagian berkomentar nggak suka, sebagian berkomentar menyuruh untuk tetap mengikutin dong.

Akhirnya gue bimbang dong… tapi karena penasaran dan ‘katanya’ lebih banyak cerita tentang Simon, gue pun membacanya. *emang udah terlanjur cinta sama Simon*.

Jadi, seperti inilah yang kira-kira terjadi di buku empat ini.

Simon dikejar-kejar oleh orang tak dikenal yang ingin menangkapnya. Akan tetapi, tanda Mark of Cain yang dimilikinya membuat orang-orang yang bermaksud jahat itu pun berguguran menjadi butiran garam (untung nggak butiran debu ya XD). Nah, pada saat yang sama, ibu Simon akhirnya bertanya ke Simon apa yang sebenarnya terjadi kepadanya, mengapa Simon sekarang berubah. Simon yang sayang banget sama ibunya pun mengaku kalau dirinya sebenarnya adalah vampire. Ibunya sempat nggak percaya tapi kemudian ketika Simon minta ibunya untuk ngecek denyut nadinya… ibunya pun percaya. Termasuk percaya kalau si ‘vampir’ ini udah mengambil alih tubuh Simon. Ibunya pun mengusir Simon dari rumah, tapi Simon dengan kekuatan vampirnya berhasil membuat ibunya lupa sejenak akan hal tersebut. Karena merasa bersalah, ujung-ujungnya Simon tetap pergi dari rumah.

Sempat luntang-lantung di jalanan, eh nggak sengaja Simon ketemu Raphael. Simon pun menyempatkan menanyakan tentang Camille, vampire perempuan yang sempat mengajak Simon ketemuan beberapa hari sebelumnya. Camille meminta Simon untuk bergabung dengannya menjadi vampire penguasa Kota New York dan membuat cerita versi terbalik dari yang Simon dengan dari Raphael. Sebab Camille minta Simon jangan cerita ke siapa-siapa, akhirnya Simon pun bertanya dengan tidak terang-terangan. Memang, setelah Simon menjadi seorang Daylighter (Pengembara Siang)—vampir yang bisa berjalan di bawah sinar matahari—banyak yang menginginkan Simon karena dia menjadi semacam legenda.

Nggak banyak info yang bisa didapatkan Simon dari Raphael. Simon pun kembali berjalan tanpa arah dan tujuan, nah, ketika menuju ke tempat Eric, teman se-band-nya. Simon bertemu dengan Kyle, vokali band-nya yang baru. Kyle pun mengajak Simon untuk tinggal di apartemennya di Kawasan Manhattan karena dia punya kamar kosong yang bisa ditinggali Simon. Sempat bimbang, tapi akhirnya Simon mengiyakan.

Beberapa hari kemudian ketika habis nemenin Clary fitting baju untuk pesta pernikahan Jocelyn dan Luke, Simon ketemu dengan Jace. Sebenernya mereka nggak sengaja ketemu karena Jace yang ngikutin Clary kemudian Clary naik taksi dan akhirnya Jace pun ngikutin Simon. Di tengah jalan kembali ada yang mau menyerang Simon, tapi yah lagi-lagi mereka hanya jadi butiran garam. Jace pun kaget, terus langsung menghampiri Simon dan bertanya apa yang terjadi. Simon pun mengajak Jace ikut ke apartemen Kyle.

Eh tak disangka-sangka, Jace tahu siapa sebenarnya teman seapartemen Simon ini…. Kyle adalah werewolf (manusia serigala). Kyle bukan manusia serigala biasa, nggak masuk klan si Luke juga, karena dia adalah Praetor Lupus. Apa tuh Praetor Lupus? Jadi, mereka tuh semacam kelompok yang mendedikasikan diri untuk ‘memandu’ para Downworlder (Penghuni Dunia Bawah) yang baru. Biasanya Penghuni Dunia Bawah yang baru ini suka bingung—manusia serigala yang ngerasa marah; vampire yang nggak tahu gimana caranya mendapatkan darah (dan malah bunuh manusia. Vampir di TMI dilarang bunuh manusia karena melanggar perjanjian); atau warlock yang nggak ngerti kalau dirinya warlock—nah, para Preator Lupus ini jadi semacam ‘guardian’ untuk ngasih tahu etika hidup Downworlder. Kyle ini—Jordan Kyle—adalah Praetor Lupus yang ditugaskan untuk mengawasi Simon.

Ketika tahu situasi yang dihadapi Simon sekarang mereka bertiga pun berkasak-kusuk untuk mengungkap siapa sebenarnya dalang dibalik penyerang-penyerangan yang dilakukan terhadap Simon.

Hmm… rasanya cerita lengkapnya sampai di situ aja. Pada akhirnya, ketahuan sih siapa yang menyerang Simon. Cukup mengagetkan ketika tahu siapa yang menyerang. Tapi udah cukup banyak spoiler yang gue kasih. Lagian itu cuma cerita tentang Simon aja, bagaimana dengan Jace dan Clary? Lengkapnya baca sendiri aja ya… hahaha….

Memang benar kalau bagian pertama dari trilogi kedua ini banyak fokus kepada Simon. Cerita bahkan dimulai oleh Simon. Fangirl-fangirl Simon pasti puas dengan banyaknya kemunculan Simon di City of Fallen Angels ini. Cerita tokoh utama, Jace dan Clary, bahkan terasa minor (dan kurang penting) di buku ini.

Ceritanya sendiri temponya lebih lambat daripada cerita di trilogi pertama. Banyak adegan ngobrol yang sampai berlembar-lembar (sampai gue sendiri menjerit dalam hati ‘buseeet dah ini ngobrol kagak kelar-kelar udah macam cewek curhat aja’). Sekali lagi, gue diselamatkan dengan cinta gue kepada Simon. Bahkan gue ngerasa, kalau aja novel ini dipadatkan, bisa lebih menyenangkan untuk dibaca. Namun dengan tempo lambat itu gue bisa banyak napas ya (plus ngetwit), jadi bisa menurunkan ketegangan.

Seperti halnya sebuah kisah pembuka, ada klue-klue baru yang dikasih (mungkin hal tersebut yang bikin buku ini alurnya puanjaaang dan temponya lambaaaat), karakter-karakter baru (Jordan, Camille, Lilith), dan sub-konflik-sub-konflik baru. Jadi ya, mesti sabar baca buku ini, kayak baca City of Bones-lah (bagian pertama TMI).

Di sini, karakter-karakternya lebih agak dewasa dan terasa lebih suram. Jace yang dihantui mimpi-mimpinya, Simon yang berkonflik dengan keluarganya, dan Clary yang bimbang mikirin Jace (sumpah yang terakhir ini nggak penting banget). Yang paling ngebuat gue simpati tentu saja Simon, gue nggak tahu perasaan dia gimana—tapi, tiap kali adegan makan-minum dan ada Simon, gue ngerasa kasihan karena dia nggak bisa makan dan minum apa-apa. Ngapain hidup selamanya kalau nggak bisa makan macam-macam makanan?

Tapi, obrolan Simon dan Magnus tentang hidup selamanya itu adalah favoritku di bagian ini.

“I suppose I’d better remember it. After all, in a hundred, two hundred, years, it’ll be just you and me.” Magnus regarded Simon thoughtfully. “We’ll be all that’s left.”

The thought that he would stay sixteen while Clary got older, Jace got older, everyone he knew got older, grew up, had children, and nothing ever changed for him was too enormous and horrible to contemplate.

Being sixteen forever sounded good until you really thought about it. The it didn’t seem like such a great prospect anymore.

Magnus’s cat eyes were a clear gold-green. “Staring eternity in the face,” he said. “Not so much fun, is it?”

Entahlah, obrolan itu bikin gue berpikir mungkin Simon nggak akan berakhir selamanya di akhir trilogy nanti. Ya itu cuma pikir-pikir gue aja sih, makanya gue gemes mau ngikutin sampai akhir.

Ada baiknya ketika meneguhkan hati membaca ini… anggaplah sebagai karya terpisah dari seri trilogi pertama. Walau mungkin nggak bisa selepas itu karena kalau nggak baca buku 1, 2, & 3 maka akan bingung. Eng… ing… eng….

Jadi, kesimpulannya, kalau memang fans berat The Mortal Instruments tentu buku ini aku rekomendasikan untuk dibaca dan diikuti. Kalau nggak ngefans banget, ya baca boleh juga, untuk seru-seruan. Tapi memang beberapa part memang seru sih. Hal-hal yang seru itu membuat aku tidak ragu melanjutkan ke City of Lost Souls, buku kelima atau bagian kedua dari trilogi kedua The Mortal Instruments.

“Or maybe it’s just that beautiful things are so easily broken by the world.” – Jocelyn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s