buku / Resensi

Review: City of Lost Souls

“Missing, one stunningly attractive teenage boy. Answers to ‘Jace’ or ‘Hot Stuff”

City of Lost Souls

Judul: City of Lost Souls

Pengarang: Cassandra Clare

Tebal: 535 halaman (English version)

Buku kelima dan bagian kedua second trilogy dari The Mortal Instruments. City of Lost Souls ini baru dirilis tahun ini, sekitar bulan Maret (kalau nggak salah). Kembali mendapatkan kritik beragam dari pembacanya. Akan tetapi, gue yang udah terlanjur cinta sama Simon Lewis, bikin nggak bisa berhenti baca. Cinta itu memang dahsyat yak….

“Love isn’t moral or immoral,” said Clary. “It just is.”

Di City of Lost Souls sendiri tema dasarnya nggak jauh-jauh dari cinta. Bukan cinta unyu munyu seperti yang ada di trilogy bagian pertama—ini cinta yang lebih mendasar. Jadi, sebenarnya apakah yang terjadi di City of Lost Souls? Semoga gue bisa menjelaskannya dengan singkat ya, seharusnya sih bisa. :p

Pada City of Fallen Angels, ceritanya diakhiri dengan Sebastian yang bangkit lagi setelah digigit oleh Simon dan diberi darah oleh Jace. Kemudian mereka berdua pun hilang, ya lenyap dari orang-orang yang ada di apartemen tersebut. Hampir 5/6 bagian cerita dipenuhi usaha Team Good nyari Jace. Team Good ini terdiri dari Simon, Isabelle, Alec, dan Magnus. Lho di mana Clary… kok nggak masuk Team Good?

Clary: “I’m the one with Team Evil over here. You’re Team Good. Keep it in mind.”

Wah, ternyata Clary nggak bersama Team Good, Team Evil yang dimaksud Clary adalah dirinya, Jace, dan Sebastian. Iya, Clary memang bergabung dengan Jace dan Sebastian karena Jace memintanya. Ternyata Jace dan Sebastian itu terikat, Lilith (ibunya para Iblis) memberi mereka tanda yang sama di dada. Oleh karena mereka berdua terikat, maka kalau Jace terluka, Sebastian pun terluka. Makanya, nggak ada yang bisa ngerecokin hubungan Jace dan Sebastian.

Sampai akhirnya Team Good mencari cara untuk ngerusak hubungan itu. Dari manggil iblis, Azazel, dan Azazel minta bayaran sebuah kenangan paling membahagiakan dari masing-masing Team Good (sumpret ini ngeri, gue nggak mau ingatan paling membahagiakan gue diambil!). Gagal dengan Azazel mereka pun mencoba peruntungan dengan memanggil malaikat. Mereka memilih Raziel dengan berbagai pertimbangan antara lain, karena ukurannya nggak terlalu besar (jadi semakin tinggi grade malaikat makin gede juga ukurannya), memang berurusan dengan Shadowhunters, dan ya kira-kira bisa nolong deh. Agak trauma karena memanggil malaikat itu terlarang, maka Simon pun mencalonkan diri untuk jadi pemanggil Raziel. Simon kan punya Mark of Cain yang membuat dia kebal sekaligus terkutuk, jadi mereka berharap tanda itu bisa menghalangi si malaikat membunuh. Pada akhirnya, Simon berhasil mendapatkan pedangnya Archangel Michael, Glorius, bisa untuk memutus ikatan antara Jace dan Sebastian dan hanya bisa digunakan untuk satu orang pada satu waktu—Jace atau Sebastian.

Lewat cincin yang dipakai Simon dan Clary, akhirnya posisi Team Evil bisa dilacak. Ya, kemudian… misi menyelamatkan Jace pun dimulai (ini udah 1/5 bagian terakhir ya….)

Siapa yang terkena tebasan Glorius?

Silakan baca di City of Lost Souls. :p

“History gets written by the winners, little sis.” – Sebastian.

Dari lima buku yang udah gue baca, ini cerita yang paling nggak banget. Ngobrol terus isinya, sampai beberapa kali tuh gue bolak-balik dan cuma nangkep sekilas-sekilas kalimat-kalimatnya. Rame-ramenya cuma di bagian-bagian akhir aja. Ya, tapi namanya cerita berseri kan, ada episode yang bagus ada episode yang nggak.

Yah, mungkin juga karena alasan Simon nggak banyak muncul….

Cerita di buku lima ini memang fokus ke Sebastian, Clary, dan Jace. Jadi, semacam kumpulan clue-clue tentang rencana Sebastian sebenarnya dan apa itu heavenly fire (kalau diterjemahkan jadi Api Surga mungkin ya, gue baca English-nya soalnya). Sebab buku terakhir kan membahas tentang Heavely fire ini.

Aura cerita di dalam sini agak-agak suram gitu. Simon masih terlibat masalah sama nyokapnya, untungnya kakaknya bisa bersikap lebih positif. Alex dan Magnus, yang, astaga… pengin banget deh gue puk-puk Magnus. Pokoknya nggak banyak tawa deh di buku ini, joke-joke yang biasa keluar dari Jace dan Simon juga nyaris nggak ada. Ya karena keadaan yang nggak memungkinkan juga sih, kan mereka ketemu cuma di akhir cerita doang, itu juga lagi perang gimana bisa bercanda.

Tulisan Cassandra Clare masih menyenangkan dan detail untuk dibaca seperti biasa. Dan agak surprise aja ketika tahu Magnus itu ternyata kelahiran Batavia, Indonesia. Nyokapnya native dan bokapnya (yang manusia) adalah Belanda. Di akhir-akhir malah Magnus bilang ‘I love you’ dalam Bahasa Indonesia ke Alec, ‘Aku cinta kamu’.

Buku ini, kalau memang sudah terlanjur ngikutin dari awal ya mau nggak mau harus dibaca. Sayang banget gitu lho, udah hampir akhir tapi berhenti. Buku keenam atau bagian terakhir dari The Mortal Instruments bakal terbit Maret 2014 (lamanyaaaaa…. Nggak sabar nunggunya nih :|). Sambil nunggu buku tersebut terbit, kalau memang suka tulisan Cassandra Clare bisa loh baca seri The Infernal Devices: The Clockwork Angel, The Clockwork Prince, dan yang akan terbit Maret 2013, The Clockcowk Princess. Masih ada kaitannya dengan Shadowhunters kok. Dan film pertama dari seri Mortal Instruments, City of Bones juga bakal tayang Agustus tahun depan.

Segitu aja review gue dan mari kita menunggu! Sampai jumpa di review The Mortal Instruments, City of Heavenly Fire di 2014.😀

“Therefore you can never lose hope, because if you keep hope alive, it will keep you alive.” – Simon

Haaa… yang mau baca City of Lost Souls, boleh dilihat dulu trailernya lho Kakak.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s