buku / film / Resensi

(Bukan) Review: “The Hobbit: An Unexpected Journey”

Gandalf: You’ll have a tale or two to tell when you come back.
Bilbo Baggins: You can promise that I will come back?
Gandalf: No. And if you do, you will not be the same.

(The Hobbit: An Unexpected Journey)

*mengandung spoiler untuk film kedua dan ketiga. Tapi spoiler itu juga udah beredar sejak tahun 1937. Jadi, ya… bukan spoiler juga sih. ^^*

Butuh dua minggu untuk menuliskan ini: dua kali duduk di bioskop untuk menikmati The Hobbit: An Unexpected Journey dan sehari-semalam untuk menamatkan novel The Hobbit.

Gue tahu tentang film The Hobbit: An Unexpected Journey beberapa bulan sebelum dirilis karena ada teman di timeline yang heboh dengan film ini dan juga si @iiphche yang fans berat Tolkien dan selalu cerita nggak tamat-tamat baca The Hobbit. Dulu, ketika ngikutin trilogy The Lord of The Rings, gue juga sempat baca dua buku J.R.R. Tolkien sebelum nonton filmnya. Waktu itu, gue menjura kepada Peter Jackson atas trilogi The Lord of The Rings yang beliau sutradarai. Meski menurut gue The Lord of The Rings adalah salah satu karya adaptasi terbaik yang pernah gue lihat, tapi nggak kemudian menjadikan gue fans dari Peter Jackson. Gue hanya sampai pada titik mengakui bahwa beliau adalah sutradara hebat dan (mungkin) film-filmnya akan jadi selalu masuk daftar film yang harus gue tonton, seperti halnya Jason Reitman dan Christopher Nolan.

Maka, ketika gue mendengar Peter Jackson kembali menyutradarai The Hobbit, gue udah memastikan akan nonton film ini di bioskop. Dulu waktu trilogi The Lord of The Rings gue masih bermukim di tanah jauh yang jauh dari bioskop, jadi deh nontonnya cuma dari VCD doang. Beberapa waktu sebelum rilis, gue sempat ngecek berita-beritanya, termasuk karakter-karakternya, dan gue inget nemu satu yang charming banget, karakter yang namanya Kili.

Ya, hanya sebatas itu, gue belum tertarik untuk baca buku atau sekedar cari tahu tentang The Hobbit itu berkisah tentang apa. Pada akhirnya, si @iiphche yang cerita ke gue mengisahkan tentang apa sebenarnya The Hobbit itu: Bilbo bersama kurcaci-kurcaci dan Gandalf melakukan perjalanan bersama. Gue pun lupa-lupa inget aja. Pada akhirnya memang yang bikin gue tertarik banget nonton The Hobbit itu karena Laini Taylor, penulis favorit gue, ngetweet tentang siapa yang pantes jadi Akiva sehabis dia nonton The Hobbit. Alhasil, itu bikin followernya nebak-nebak, siapa? Richard Armitage-kah atau Aidan Turner-kah?

Di situlah gue jadi bener-bener penasaran.

Fili, Thorin, dan Kili, pewaris tahta Durin.

Lalu, nontonlah gue The Hobbit: An Unexpected Journey.

Ternyata memang sebuah perjalanan yang nggak terbayangkan….

Di scene pertama, berlatar Shire, gue langsung tersenyum. Pun gue ngerasa terharu. Ngeliat Shire inget jaman-jaman SMA dulu waktu gue masih belajar ‘membaca’. Kembali lagi ke Bag’s End, itu bener-bener, entahlah tapi semacam ada nostalgia di dalam hati. Kemudian muncul pula tokoh Frodo, Bilbo, dan Gandalf. Makin bertebaran deh memori di kepala.

Perjalanan yang sebenarnya pun dimulai. Gandalf menghampiri Bilbo di suatu pagi yang indah di Shire dan menawarkan Bilbo untuk ikut dalam perjalanannya. Bilbo menolak. Akan tetapi, tanpa diduga-duga, malam harinya rumah Bilbo didatangi tamu-tamu yang tidak diharapkannya, sekelompok kurcaci, tepatnya 13 orang kurcaci dan Gandalf sendiri. Malam itu juga, Bilbo tahu perjalanan apa yang akan dilakukan Gandalf dan para kurcaci. Bilbo ditawari kontrak perjalanan. Bilbo sempat menolak tapi akhirnya menyetujuinya.

Dalam perjalanan tersebut banyak kejadian yang menimpa mereka. Kuda-kuda mereka yang diculik oleh troll, dihadang dan dikejar kawanan orc yang dendam, terjebak di perkelahian raksasa batu, ditawan goblin, dan disudutkan oleh warg dan orc. Meskipun begitu, semua anggota perjalanan tersebut selamat sampai akhir cerita. Dan kisahnya sendiri bersambung ke bagian kedua dari The Hobbit, The Hobbit: The Desolation of Smaug.

Bersambung?

Ya, film yang berdasarkan sebuah novel ini dijadikan trilogy oleh Peter Jackson, The Hobbit (Desember 2012), The Hobbit: Desolation of Smaug (Desember 2013), dan The Hobbit: There and Back Again (Summer 2014). Banyak yang pesimistis tentang satu buku dijadikan tiga film—nggak bertele-tele tuh?

Saat menonton film pertama memang terasa tempo ceritanya yang perlahan. Tempo yang pelan itu penceritaannya bisa detail sih. Gue sendiri nyaman dan menikmati cara membawakan ceritanya, jadi gampang dicerna, apalagi buat gue yang nggak baca bukunya dulu. Lagi pula, latar film ini bagus banget. Kalau suka gambar lanskap, pasti suka dengan pengambilan gambar outdoor di film ini. Versi 3D dari film ini juga bagus banget. Gue udah terkesan dari scene pertama.

Kekaguman gue juga untuk kostum, make-up, dan detail senjata-senjatannya. Itu keren banget. Tiga belas kurcaci jadi kelihatan banget bedanya: dari si gendut Bombur, si cakep Kili dan Fili, yang bijak Balin, dan sebagainya. Detail dari kostum-kostumnya keren–Thorin pun kelihatan begitu gagah dan berwibawa.

Para aktor yang memerankan berbagai karakter di film ini juga aktingnya top-top banget.  Gue lebih suka Bilbo daripada Frodo. Gue akui, gue lebih senang dengan karakter-karakter di The Hobbit dibandingkan The Lord of The Rings. Kayaknya lebih ‘fun’ aja semua, kecuali Thorin ya. Karakter favorit gue adalah Thorin Oakenshield (Richard Armitage) dan Kili (Aidan Turner). Tapi gue nggak bisa nggak suka dan kagum sama karakter yang lain. Gue sayang sama semua kurcaci yang ada di situ. Gue suka Bilbo. Gue suka Gandalf. Gue nggak suka Smaug.

Rasa sayang sama kurcaci-kurcaci inilah yang membuat gue akhirnya membaca The Hobbit. Setelah baca gue nonton lagi filmnya dan tetep aja masih bagus banget. Gue nonton lagi sebagai perbandingan detail aja. Karena memang ada beberapa adegan yang nggak ada di buku dan dibedakan dari bukunya. Tapi secara keseluruhan filmnya sendiri menggambarkan dengan apik apa-apa yang ada di buku.

Film pertama ini ceritanya hanya sampai Bab 6 dari bukunya. Jadi, sekarang gue udah tahu keseluruhan dari cerita The Hobbit.  Di film kedua mungkin bakal dipotong setelah kejatuhan Smaug dan film ketiga adalah pucak dari Battle of Five Armies. Keingetan lagi deh waktu perang di Return of The King—itu luar biasa!

Setelah membaca bukunya dengan detail, rasanya masuk akal aja kok dibagi jadi tiga film. Di bukunya sendiri ada beberapa bagian yang terkesan nggak dikembangkan dan juga terasa aneh (kalau misalnya disesuaikan dengan teori-teori menulis), misalnya kemunculan tokoh yang tiba-tiba. Gue rasa hal-hal inilah yang bakal dikembangin Peter Jackson dalam film kedua dan ketika. Beberapa pengembangan yang bakal ada itu antara lain ketika Gandalf berpisah dengan rombongan Thorin Oakenshield di perbatasan Mirkwood. Di buku, adegan itu nggak dijelaskan dengan terperinci si Gandalf ngapain, tahu-tahu aja pas Battle of Five Armies dia muncul. Nah, ternyata Gandalf sedang menuntaskan si Necromancer—nah ini yang bakal diceritakan. Selain itu, juga kemunculan Bard, kelihatannya bakal diperhalus, jadi nggak kerasa muncul tiba-tiba. Di buku, si Bard ini tiba-tiba muncul dan kemudian jadi pahlawan—membunuh Smaug.

Selain itu adalah karakterisasi juga diperdalam di versi filmnya. Di buku, nggak dijelaskan secara detail setiap kurcaci—di film, bisa dibedakan dengan jelas. Selain itu, menurut salah satu wawancara yang gue tonton, nanti ketika Battle of Five Armies setiap kurcaci bakal punya momen heroiknya tersendiri. Pastinya, kenapa bisa panjang jadi tiga film ada dramatisasi dong ya. Menurut bocoran sih bakal ada cinta yang bertepuk sebelah tangan—dari salah satu kurcaci dan bangsa elf. Di buku sih yang begini-begini nggak ada sama sekali.

Cerita The Hobbit ini, di bukunya sendiri adalah dongeng untuk anak kecil. Sementara filmnya itu sendiri, gue rasa terlalu berat ya kalau ditonton anak kecil. Meskipun perubahan sikap Thorin begitu kentara–dari nggak percaya Bilbo jadi percaya di akhirnya–tapi, pesannya sih kayaknya implisit. Gue paling suka ketika membahas ‘rumah’. Itu salah satu benang merah–motivasi yang menggerakan konflik di The Hobbit bagian pertama ini. Bilbo yang ingin sekali kembali ke rumah dan para kurcaci yang ingin merebut kembali rumah mereka.

Menurut gue, film The Hobbit ini pantas banget ditonton untuk yang suka fantasi, apalagi penggemar J.R.R. Tolkien. Setiap penggemar novel fantasi, punya impian untuk bisa melihat apa yang difantasikannya ketika membaca buku favorit itu dalam gambar bergerak. Nah, adaptasi fantasi The Hobbit dari Peter Jackson ini adalah salah satu yang terbaik menurut gue. Gue puas nontonnya karena rasanya tiap detail yang ada di buku bisa tervisualisasikan dengan baik di layar lebar. Ah, rasanya jadi nggak sabar untuk nunggu film keduanya yang akan tayang Desember nanti.😀

Ah ya, selamat tahun baru! Mari berpetualang!

 

 

Sumber gambar: thorinoakenshield.com

Bonus: Misty Mountain song (Thorin dkk)

One thought on “(Bukan) Review: “The Hobbit: An Unexpected Journey”

  1. Pingback: The Hobbit An Unexpected Journey Extended Edition | Catatan Tia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s