Resensi

Cinta Tak Kenal Arah

Richard Armitage membawaku sampai ke sini.

Catatan: ini adalah review dari miniseri North & South.

—-

North & South

Episode: 4

Tayang: 2004 di BBC One

 

Kisah cinta di era akhir tahun 1800-an ini tidaklah menjadi sesuatu yang membosankan ketika diangkat ke layar kaca. North & South adalah mini seri yang diangkat dari novel berjudul sama hasil karya Elizabeth Gaskell. Novel ini ditulis pada tahun 1885 di victorian era, ketika industri-industri tumbuh di kawasan Inggris. Yang mau gue review di sini adalah mini serinya, bukan novelnya ya.

Ceritanya sendiri tidak rumit, berpusat pada dua tokoh utama Margaret Hale dan John ThorNton. Kisahnya dimulai ketika Margaret pindah dari daerah selatan ke daerah utara Inggris, tepatnya di kota Milton. Keputusan pindah tersebut berasal dari ayahnya yang ingin mengedukasi pekerja-pekerja yang ada di sana. Sesampainya di sana, Margaret dan keluarganya mengalami gegar budaya, dari daerah selatan yang adem ayem ke daerah utara yang bising, penuh polusi dan hiruk pikuk.

Di Milton, Margaret mencoba membantu ayahnya untuk mencarikan properti yang akan mereka sewa. Di rumah yang akan mereka sewa, Margaret tidak berhasil bertemu dengan si pemilik, akhirnya Margaret pun harus menemui di pemilik, yaitu Mr. Thornton, di pabrik penggilingan kapas miliknya. Pertemuan John Thornton dan Margaret Hale untuk pertama kalinya, tidaklah manis. Margaret melihat John sedang memukuli salah satu pekerjanya karena merokok di dalam pabrik.

John Thornton

Sejak saat itu, Margaret dan John sering sekali berbeda pendapat. Mereka berdua sering bertemu karena John sering datang untuk berdiskusi dengan ayah Margaret. Bahkan perkenalan pertama John, tidak ditanggapi oleh Margaret.

Di Milton, Margaret berteman dengan beberapa pekerja dari pabrik John. Margaret pun tahu bagaimana kehidupan para pekerja itu sebenarnya. Hal tersebut membuat Margaret makin tidak simpatik kepada John. Ketidaksimpatikan Margaret ditambah pula dengan faktor keluarga John yang menganggap Margaret dan keluarganya aneh karena berbeda budaya.

Bagi John, perbedaan pandangan Margaret itu justru membuatnya tertarik dan akhirnya mengungkapkan perasaannya terhadap Margaret. Akan tetapi, Margaret menolak John. John pun patah hati dan nelangsa, ia bekerja lebih kerasa karena hal itu. Tidak lama setelah itu, ibu Margaret meninggal dunia. Ketika ibu Margaret sekarat, adik Margaret yang tersandung masalah hukum dengan pemerintah Inggris dan menerap di Prancis, memaksakan diri untuk datang. John yang waktu itu menjenguk ibu Margaret tidak diperbolehkan masuk oleh Margaret. John yang mengira ada laki-laki lain (alasan Margaret menolak dirinya), pun kembali kecewa kepada Margaret. Kecemburuan itu diperparah dengan John yang melihat Margaret bersama adik laki-lakinya di stasiun kereta tengah malam.

Ketika itu, ada orang yang mengenal adik lelakinya memergoki Margaret dan adiknya. Tanpa sengaja adiknya mendorong si laki-laki sampai jatuh. Keesokan harinya si laki-laki tersebut meninggal dunia. Inspektur polisi mendapatkan keterangan jika Margaret malam itu ada di stasiun kereta, tapi Margaret tidak mengakuinya. Saat si inspektur bertanya kepada John, John bilang juga tidak pernah melihat Margaret di sana. Akhirnya, Margaret bisa bebas dari hukuman.

Margaret pun berterima kasih kepada John, tapi John merasa tidak melakukan hal apa-apa kepada Margaret. Hubungan mereka tidak menjadi lebih baik setelah itu.

Tak lama kemudian, ayah Margaret menyusul ibunya meninggal dunia. Oleh bibinya, Margaret diminta segera pindah ke London. Margaret menyempatkan berpamitan ke John dan memberikan buku Plato milik ayahnya ke John.

Margaret setelah kematian ayahnya.

Setelah beberapa minggu tinggal di Inggris, sahabat ayahnya yang tidak memiliki anak, Mr. Bell, memberitahu Margaret jika dirinya akan segera pensiun. Mr. Bell menyerahkan semua kekayaannya untuk Margaret. Di saat yang sama, usaha John mengalami kebangkrutan. Mengetahu hal itu, Margaret segera menuju Milton untuk menawarkan proposal kerjasama. Ketika Margaret tiba di Milton, ternyata John sedang tidak berada di sana. Ternyata John sedang berada di rumah lama Margaret. Di tengah-tengah perjalanan, kereta mereka berdua berhenti di sebuah stasiun, dan mereka bertemu. Sekali lagi, John mengungkapkan bahwa dirinya mencintai Margaret dan Margaret pun tidak menolaknya.

John Thornton dan Margaret Hale di kawasan industri Marlborough Mills.

 

Ini bukan tipe-tipe drama favorit gue. Gue nonton ini karena ya… alasan Richard Armitage. Pertama kali diputar tahun 2004 dan itu hampir sembilan tahun lalu. Akan tetapi, nggak disangka-sangka ternyata drama ini menarik dan membuat gue nangis terharu di bagian akhirnya.

Saat gue membaca beberapa ulasan, konflik John Thornton dan Margaret Hale ini mengingatkan banyak orang pada Pride and Prejudice-nya Jane Austen. Katanya, cerita ini adalah mirip dengan konflik di cerita tersebut hanya saja latar North & South ini di kawasan industri. Gue sih belum pernah baca novel atau nonton Pride and Prejudice–kan drama ginian emang bukan favorit gue.

North & South adalah cerita yang lembut. Begitu kesan yang gue tangkap ketika selesai menonton empat episode mini seri ini di YouTube. Namun bukan berarti konfliknya sendiri lembut, sikap John Thornton yang keras dan tegas benar-benar lawan bagi Margaret yang lembut (tapi juga tegas). Sama-sama keras dan tegas ini yang membuat mereka awalnya berbenturan.

John Thorton diperankan oleh Richard Armitage dengan apik sekali. Pokoknya top deh aktingnya. Apalagi ketika patah hati, beuuuhhh… ekspresi si John ini luar biasa. John ini benar-benar patah hati. Akting yang oke dari Richard Armitage ini diimbangi dengan keren oleh Daniela Danby-Ashe yang memerankan Margaret Hale. Mereka berdua, dapet banget chemistry-nya. Suka deh ngeliatnya… apalagi di adegan terakhir yang romantis sampai bikin gue nangis.

Bukan cuma akting yang oke, latar dan busana juga cakep. Dapet deh kesan kumuh-kumuhnya Milton, serta pakaian abad segitu yang menarik. Senang gitu ngelihat perempuan-perempuan tahun segitu dengan pakaian yang sopan dan cantik. Cowok-cowoknya juga dengan jas eh apa tuksedo sih, ya pokoknya itulah.

Di satu setengah episode awal, drama ini sempat bikin gue ngantuk. Kalau nggak karena Richard Armitage nggak betah deh kayaknya gue. Tapi di sisa episodenya itu oke banget, terutama sejak Margaret nolak si John. Karena tempo yang lambat dan menumbuhan chemistry dari penonton ke karakter juga pelan-pelan, jadi kerasa banget ketika Margaret ngerasa bersalah dan John nelangsa karena patah hati.

Patah hati nggak akan menghalangi cinta sampai di tujuan yang sebenarnya. Pada kisah Margaret dan John ini diperlihatkan bahwa perbedaan dari budaya atau karakter nggak akan menghalangi cinta untuk tumbuh. Dan meski fisik udah terpisah, cinta bakal balik lagi ke tempatnya yang pas. Sebab cinta tak pernah salah arah, cinta selalu ada di tempat yang tepat.

Drama ini adalah tontonan yang cewek banget. Apalagi dengan Richard Armitage yang waktu itu masih cakep-cakepnya (pas umur 30-an boo…), benar-benar menghibur mata yang kering karena terlalu lama melototin layar tipi atau komputer. Buat yang suka drama-drama berlatar klasik, ini juga aku rekomendasikan. Meski kota Milton yang fiksi, tapi mini seri ini bisa menggambarkan masa segitu dengan oke.

Kalau suka RA main drama, coba cari dua episode The Vicar of Dibley: Handsome Stranger dan Vicar in White. RA super duper unyu di sana. Banyak yang bilang suka banget ketika RA main jadi John Thorton, tapi buat gue, Harry Jasper Kennedy (RA) lebih lucu dan unyu di sana. Btw, dua karakter tersebut, John dan Harry, sama-sama diceritakan suka baca buku. Ouch, perfecto!

John Thornton ketika mengunjungi ibu Margaret yang sakit.

Januari, 2013

Adit

Sumber gambar: richardarmitagenet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s