film / Resensi

Hawking

Stephen Hawking: We are very very small, but we are profoundly capable of very very big things. (Hawking, 2004)

Jujur, gue nonton ini karena Benedict Cumberbatch. Akan tetapi, ternyata gue nggak bisa nggak mengakui kalau enjoy sekali nonton film televisi ini.

Mengisahkan mengenai Stephen Hawking, cosmologis dan ahli fisika teori ternama di masa sekarang. Sebelum nonton film ini gue udah kenal baik nama beliau. Gue baca buku-buku beliau, The Grand Design serta seri Petualangan George yang ditulis bersama Lucy Hawking, anak perempuan beliau. Gue juga udah tahu kondisi beliau dan keenceran otak beliau jadi nggak buta-buta amat dengan ceritanya.

Diawali dengan cerita Hawking muda, umur 21 tahun tepatnya, ketika dia sedang menyelesaikan sekolah doktoralnya di Cambridge University dan masa-masa ketika penyakit motor neurone disease mulai menyerangnya.

Adegan pertama dibuka dengan kehadiran Jane Wilde di ulang tahun Stephen. Ketika Stephen ngajak Jane ke halaman belakang, mereka berdua tiduran di atas rumput ngomongin bintang (aaakkk mupeng gue). Bukan ngomongin bintang bak penyair ya, tapi secara ilmiah gitu. Meski kelihatan kalau Jane nggak secerdas Stephen. Di awal itu juga udah ditegaskan kalau Jane seorang yang hmm… religius, percaya kepada Tuhan. Nah, ketika mau bangun dari tidur-tiduran itu, Stephen nggak bisa menggerakkan tubuhnya.

*dari situ gue udah mulai mewek*

Orang tua Stephen pun membawa Stephen ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan yang kayaknya sakit (ekspresi kesakitan Benedict bikin gue nutup-nutup mata), akhirnya si dokter bilang kalau ada kelainan dengan Stephen. Kelainannya itu ya berupa penyakit itu, motor neurone disease.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, Stephen pun minta penjelasan ke si dokter sebenarnya dia kenapa. Dokter ngejelasin kalau penyakit yang diderita Stephen bakal bikin dia kehilangan daya motoriknya karena sarafnya nggak berfungsi. Akan tetapi, hal itu terjadinya bertahap.

Stephen Hawking: What about the brain, I mean the brain itself?

Dr. John Holloway: Untouched. The brain is left untouched.

Stephen sempat stres, sampai akhirnya dia didorong kembali ke Cambridge untuk menyelesaikan studinya. Ayah Stephen bahkan membujuk pembimbing Stephen untuk ngasih Stephen topik tesis yang ringan aja agar Stephen bisa menyelesaikannya dalam dua tahun. Ya, dua tahun, itu waktu yang diprediksikan dokter tentang umur Stephen. Akan tetapi, si pembimbing Stephen ini nggak mau membantu.

Stephen menjalani hari-harinya seperti biasa di Cambridge. Hubungannya dengan Jane pun makin baik. Penyakitnya pun makin lama makin kelihatan efeknya. Dari tangan yang lemes, kesulitan nali sepatu, kesusahan buka kran air (ini gue mewek lagi). Meski gitu, Stephen nggak kehilangan semangat, dia terus ngampus, terutama karena dia masih harus cari topik untuk tesisnya.

Si pembimbing Stephen berusaha ngasih saran, tapi Stephen menolaknya. Suatu hari, dia dateng ke konferensi pers salah satu profesor, ketika ngebahas tentang Big Bang bareng pembimbinganya, si profesor nimbrung dan menyuruh Stephen untuk nggak ngebahas topik tersebut. Pertemuannya dengan Roger Penrose, bikin Stephen dapet ide tentang ruang dan waktu yang bergerak ke arah berbeda. Stephen yang waktu itu mau balik naik kereta ke Cambridge dapet temen ngobrol ibu-ibu yang ngoceh tentang arah dan kompartemen kereta. Stephen langsung dapet ide, turun dari kereta dengan susah payah. Dia manggil-manggil Penrose, minta pensil dan kertas terburu-buru. Di peron kereta, Stephen ngegambar grafik dasar dari tesisnya itu.

Stephen Hawking: What if it works for this? Could it work, Roger? What would happen if it did?

Stephen Hawking: Bang!

(ini di menit 72, epik banget!)

Penrose pun ikut-ikutan senyum ngeliatin itu. Setelah itu, Stephen ketemuan dengan Jane. Mereka berdua ke Trinity Hall di Cambridge, di sana Stephen ngelamar Jane (maaaaaakkkk! dilamar di tengah-tengah perpustakaan. iri maksimal!). Stephen ngasih waktu Jane untuk jawab, sementara Stephen nyelesain tesisnya. Dengan kondisinya yang makin buruk, kalau ngomong nggak jelas dan jalan yang sulit, Stephen berhasil nyelesaiin tesisnya. Gue inget si pembimbingnya bilang, tiga bab pertama biasa aja, kemudian Penrose nambahin tapi bab keempat: “Mozart.”

Jane pun akhirnya nerima lamaran Stephen. :’)

Kisah Hawking ini diangkat dari kisah nyata. Sekarang, Hawking masih hidup dan jadi profesor juga di Cambridge.

Film ini bagus. Meski alurnya lambat dan banyak ngomongnya, tapi enak banget kok, jadi ada waktu buat mewek-mewek dikit. Secara sinematografi sih bagus ya. Latar-latar yang dipakai juga cukup mewakili tahun segitu, sekitar 60-an.

Lepas dari sukanya gue ke Benedict, akting dia baguuuuuus banget. Nggak ada Sherlock, nggak ada John Harrison, nggak ada Kapten Jamie. Itu Stephen Hawking! Peran itu bikin simpati banget dengan Benedict. Kabarnya, Ben sampai ketemu dengan Stephen Hawking beneran untuk mendalami peran tersebut.

Stephen Hawking dan Benedict Cumberbatch di premiere The Grand Design, September 2012

Cuma film ini nggak mudah untuk yang nggak ngikutin bidangnya Hawking atau tentang fisika. Soalnya memang di dalem film itu banyak ngebahas tentang fisika dan matematika. Bahkan, di satu adegan Stephen ngerayu cewek dengan ngomongin waktu… maaaaaakkkkkk!

Stephen Hawking: There was a young lady named Bright, Whose speed was faster than light, She set out one day, in a relative way, And returned on the previous night.

Secara keseluruhan film ini bagus. Mengharukan. Gue suka dan berencana untuk nonton ulang. :’)

Bonus:

Bogor, 25/4/13

Sumber gambar: tumblr, radiotimes.

3 thoughts on “Hawking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s