film / Resensi

Third Star (2011)

So I raise a morphine toast to you. And, should you remember that it’s the anniversary of my birth, remember that you were loved by me and you made my life a happy one. And there’s no tragedy in that. – James

Dan gue nangis bahkan sebelum filmnya dimulai….

 Atau itu mungkin gue aja yang terlalu sentimentil.

Berkisah tentang James (Benedict Cumberbatch) yang baru saja merayakan ulang tahunnya ke-29. James menderita kanker, kayaknya sih sudah stadium parah ya. James kemudian ngajak ketiga temennya, Davy (Tom Burke), Bill (Hugh Bonneville), dan Miles (J.J. Feild) untuk hiking ke Barafundle Bay, pantai favorit James.

Pergilah mereka berempat di sana. Dari jalan utama, ternyata Barafundle Bay itu masih jauuuh banget. Kira-kira butuh jalan tiga harian rasanya mereka ke sana. Sakit yang diderita James membuat dia butuh semacam kereta dorong gitu. Masih bisa jalan sih, tapi terpincang-pincang dan nggak bisa lama. Untung teman-temannya nggak masalah dengan itu dan malah pakai kereta itu untuk ngangkut barang-barang mereka juga.

Miles, Bill, James, & Davy

Di perjalanan itu mereka mengalami bermacam-macam hal. Dari Miles yang kehilangan jam tangan rolexnya, sampai si Bill yang dipukulin sama warga desa. Eh, James malah nyuruh Miles untuk ngedorong kereta dia ke kerumuman yang lagi berantem dan ikut mukulin. Ketika ada yang mau mukul balik si James, Davy langsung melindungi James dong dan mengatakan ke yang mau mukul itu kalau James sakit kanker.

Davy: [James is punched in village brawl] Not him! He’s got cancer!
[everyone keeps fighting]
Davy: I’m not shitting with you!
[everyone stops and looks at Davy]
Davy: … Don’t hit people with cancer.

Davy adalah seorang yang bertanggung jawab, sejak James sakit, Davy ini selalu ngebantu keluarga James untuk ngerawat James. Nggak heran setiap kali sakit James kumat, James selalu manggilin Davy. Davy pun yang ngerasa bertanggung jawab banget sama James.

Mereka pun kabur dari desa kecil itu, lari-lari sambil ketawa-tawa. Sampai mereka di tepi pantai penuh karang, mereka istirahat di situ dan ketemu bapak-bapak. Dia cerita kalau setiap hari keliaran di pantai untuk untuk ngumpulin barang-barang dan nyari figurine Darth Vader buatan tahun 1980. Si bapak bermantel oranye ini mengobrollah sebentar dengan Davy, berbagi pengalamannya kalau pernah juga kehilangan teman dekat karena kanker.

Bapak mantel oranye: I’m okay. Great to be needed, isn’t it? Yeah. I’ve forgotten. Maybe you’re one of the lucky ones. Rare. Gift there already. And good.

Habis itu si bapak pergi dan mereka melanjutkan perjalanan lagi. Mulai kelihatan sakit-sakitannya James di sini, tapi sakit James itu bisa diatasi dengan morfin dan persediaan obat-obatan yang dibawa.

Pada suatu malam, mereka ngidupin kembang api. Eh percikan apinya malah ngebakar salah satu tenda mereka. Davy marah-marah ke Bill dan Miles. Tapi ya akhirnya mereka baikan lagi dan tidur setenda berempat. Waktu tidur ini, James mulai mimpi-mimpi tentang dia berdiri di tepi pantai gitu.

Selanjutnya, mereka susah payah motong jalan. Sampai hampir aja Bill yang ngegendong James jatuh. Untunglah nggak jadi jatoh, tapi tetep aja deg-degan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Miles yang seorang bisnismen bunyi. Davy jengkel karena perjanjiannya adalah nggak ada ponsel-ponselan selama perjalanan. Ketika Bill, Davy, dan Miles lagi ribut masalah ponsel, eh… kereta dorong James meluncur sendiri ke tebing dan akhirnya jatuh.

James tetep kekeuh ngelanjutin perjalanan dengan jalan kaki. Dia bilang kalau temen-temennya nggak mau nemenin, dia akan tetep jalan sendiri. Akhirnya, mereka pun nerusin perjalanan. Di tengah-tengah, Bill cerita kalau pacarnya hamil. Mereka udah pacaran lama tapi ngerasa nggak fit satu sama lain. Akhirnya, Bill terjebak dalam situasi dia pengin pergi tapi nggak bisa.

Davy dan Bill ganti-gantian ngegendong James. Saat mereka mendaki bukit menuju Barafundle Bay, Davy yang udah capek gendong James, digantiin Bill. Bill juga lama-lama kepayahan dan akhirnya malah bikin dia jatuh nimpa James. Davy pun minta Miles untuk gantian ngegendong James. Miles nolak. Davy pun nuduh Miles kalau dia dateng bergabung ke trip mereka bukan karena James. Miles ini sudah lama nggak berhubungan dengan James gitu deh, sibuk dengan pekerjaannya. Dulu bokapnya adalah penulis dan meninggal juga karena kanker. Davy dan Miles pun berantem. Akhirnya Miles mau ngegendong James sampai atas bukit. Akan tetapi mereka nggak sadar kalau tas obat-obatan punya James jatuh di jalan.

Sampailah mereka di Barafundle Bay.

Di situ, Miles ngaku kalau dia ada hubungan dengan kakaknya James. Udah saling cinta dan berniat untuk bersama. James awalnya kelihatan nggak suka dengan fakta itu, apalagi ketika tahu Miles nggak berniat ngasih tahu dia.

Malamnya, James ngasih tahu apa sebenarnya niat dia pergi ke Barafundle Bay.

James: I’m going for a swim
Bill: Your Mum said…
James: I know. Tomorrow, I’m going to swim out into the middle of the bay and I’m not coming back. I know the enormity of this and I am asking you to let me swim.
Davy: No!
Bill: Jim, we can’t let you mate.
James: You can – the question is will you?
Bill: Has this been your plan all along? I thought you wanted to live, why did…
James: Because this is how my life is gonna be from now on. Because of the pain. Because of the drugs that I take for the pain, because of the drugs that I take for the side effect of the other drugs, I mean you’ve seen it. It’s only gonna get worse. My life is all up here now, really, but it’s taking over and gradually I’ll slip further and further into thinking solely about pain and that’s not worth living for.

James memutuskan untuk memilih mengakhiri rasa sakit yang sudah dideritanya bertahun-tahun. Menurutnya, pengobatan yang diambilnya nggak membuat kondisinya lebih baik. Dia nggak mau menyerah dengan rasa sakit, dia mau mengakhirinya.

*gue nggak bisa nggak nangis*

Temen-temannya jelas nggak ada yang setuju. Malamnya, James kesakitan banget. Davy nggak bisa nemuin morfinnya. Lalu Bill dan Miles pun pergi nyari tas obat itu. Untunglah ketemu.

Paginya, mereka bertiga duduk di tepi pantai. Mereka ngasih kesempatan James untuk berenang, sesuai dengan keinginannya. Ketika sudah agak jauh, Miles memutuskan untuk nyusul, begitu juga Davy dan Bill. Sayangnya Davy nggak bisa berenang dan Bill terpaksa buat nolong Davy kembali ke pantai. Tinggallah Miles berdua sama James. James minta Miles untuk nolong dia….

Miles: “Can we go home now please?”

Ini adalah film yang indah. Selain karena latarnya yang bagus. Cerita persahabatan mereka juga cakep. Awalnya gue nggak terlalu tertarik nonton, tapi ketika sudah baca sinopsisnya, gue jadi ingin tahu prosesnya. Gue pengin tahu seperti apa. Gue pengin ikutan merasakan lukanya.

Gue suka film ini. Gue ketawa, senyum, terharu, sampai akhirnya nangis di dua puluh menit terakhir. Film ini cowok banget, tentu saja karena keempat karakter utamanya adalah cowok-cowok. Dramanya pun begitu, gimana sebentar-sebentar berantem, saling pukul kemudian baikan lagi.

Tempo ceritanya cenderung lambat dan mendayu-dayu. Itu karena memang penonton diharapkan masuk dalam suasana melankolis yang ada di dalamnya. Nggak ada adegan yang ‘jleb’ banget, tapi karena suasana yang kebangun udah bikin nyesek, akhirnya ya nggak sanggup nahan tangis juga.

Interaksi antar karakternya juga dapet banget. Karakterisasinya bagus, gue suka semua, James, Davy, Miles, Bill. Porsinya sama-sama banyak, nggak ada yang lebih menonjol satu dengan lainnya. Keempatnya punya karakter yang beda-beda, ya itulah yang sering dilihat dari sebuah pertemanan kan?

Suasana melankolis yang disusun dalam cerita didukung banget sama lanskap yang jadi latar cerita. Pantai, bukit dengan hamparan rumput, sunset, langit malam, pokoknya semuanya outdoor! Hingga puncaknya di Barafundle Bay. Pantai yang indah. Menurutku terlalu indah untuk jadi akhir sebuah tragedi.

Barafundle Bay

Akan tetapi, seperti James bilang itu bukanlah tragedi. Itu pilihan. Gue jadi inget cerita My Sister Keeper, ketika Kate minta Anna untuk nggak ngasih ginjalnya ke dia. Gue rasa James ada di posisi itu, dia udah terlalu capek dengan rasa sakit. Dia pengin lepas. Temen-temennya membujuk untuk nerusin pengobatan. Mengingatkan kalau belum waktunya dia pergi. Orang-orang mungkin berharap James mau nerusin hidupnya, tapi orang lain nggak pernah ngerasain sakit yang James derita. Mungkin gitu ya?

Gue nggak tahu. Akan tetapi, gue tahu kalau film ini layak gue rekomendasikan. Hiks…

*mewek lagi*

Bogor, 27/4/13

Trailer:

Soundtrack:
Follow You Down to the Red Oak Tree by James Vincent McMorrow

One thought on “Third Star (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s