film / Resensi

Pacific Rim

Jreeeeng!

Tanpa basa-basi gue mau bilang: I loveeeeeeee this movie!

Summer ini begitu kekeringan dengan Star Trek Into Darkness yang mengecewakan gue (ending Khan/John Harrison yang begitu), Man of Steel yang terlalu banyak drama (harusnya action boo, Superman! Superman!), Despicable Me yang lucu… tapi ya lucu aja, dan akhirnya si Jaeger dan Kaiju ini berhasil banget merebut perhatian gue.

Gue nonton ini karena kesukaan gue dengan robot-robotan/mecha. Memang nggak terlalu ngikutin Gundam, dsb, (cuma Code Geass aja yang tamat), tetapi gue memang punya ketertarikan dengan tema robot-robot besar gini. Ditambah nama Guillermo del Toro, yang gue kenal sebagai calon sutradara The Hobbit AUJ tapi batal, dan nama beliau memang sering wira-wiri di mana-mana setahun belakangan ini. Selain itu, karena beliau sutradara Crimson Peak, yang salah satu bintangnya adalah Benedict Cumberbatch. Jadi, semacam gue ngetes sutradara ini, bakal rela nggak kalau Ben diarahin sama beliau.

Cerita Pacific Rim sederhana sih, di beberapa tahun mendatang, tiba-tiba Bumi diserang makhluk asing, namanya Kaiju. Bentuknya monster-monster, semacam binatang kena mutasi gitu, jadi jelek, jahat, dan berbahaya. Ketika manusia makin terdesak, akhirnya negara-negara bersatu bikin proyek Jaeger ini. Jaeger ini adalah robot supergede yang dipiloti manusia. Bertahun-tahun Jaeger-Jaeger ini melindungi Bumi dari serangan Kaiju.

1002071_528041667262135_76608339_n

Jaeger

1044131_528535173879451_783407244_n

Salah satu Kaiju jelek, berbahaya, mengandung amonia, dan suka pup di mana-mana.

Ternyata Kaiju tidak sebodoh monster-monster di film-film lain, monster ini bisa berevolusi. Semakin hebat persenjataan Jaeger, maka, Kaiju meningkatkan resistensinya terhadap serangan senjata tersebut. Karena itu, perlahan-lahan, satu persatu Jaeger pun bertumbangan, pilot demi pilot meninggal. Termasuk pasangan pilot dari Raleigh (Charlie Hunnam), yang kakaknya sendiri yaitu, Yancy.

Jadi, Jaeger harus dipiloti berpasangan karena muatan gelombang mesin Jaeger nggak bisa ditahan oleh satu orang pilot saja. Maka, dikembangkan teknologi semacam pernyatuan pikiran antara kedua pilot, agar bisa menggerakkan Jaeger dengan seimbang. Teknologi tersebut mengharuskan kedua pilot bersedia berbagi memori, pikiran, serta harus mengerti satu sama lain, intinya sih chemistry ya.

Kematian Yancy, bikin Raleigh yang bibirnya pink dan seksi ini akhirnya kabur dan jadi pekerja konstruksi. Ketika itu, karena banyak pilot yang meninggal, proyek Jaeger dianggap gagal dan dihentikan. Persatuan bangsa-bangsa mengajukan ide untuk membuat tembok anti-Kaiju, semacam The Wall di Westeros gitulah. Tetapi, nyatanya sia-sia saja.

Saat, itu tiba-tiba datanglah Stacker Pentecost (Idris Elba), dia komandan proyek Jaeger gitu. Dan ingin meneruskan proyek Jaeger meski ilegal. Stacker menjemput Raleigh dan membawanya ke Hongkong, di markas tersebut ternyata sudah berkumpul kru serta pilot-pilot Jaeger yang tersisa, tentunya juga ada empat Jaeger.

1052307_526447434088225_1310384729_o

Raleigh, Stacker, Mako

Raleigh pun dicarikan pasangan pilot baru oleh Stacker. Raleigh meminta Mako Mori (Rinko Kukichi) untuk jadi co-pilotnya, tapi ditentang oleh Stacker, karena menganggap Mako belum siap. Ketika serangan Kaiju datang, dua Jaeger lain tumbang, tinggal dua Jaeger, Gypsy Danger (Raleigh dan Mako) serta Striker Eureka (lupa nama pilotnya, pokoknya bapak anak deh, dan anaknya ganteng tapi nyebelin). Ternyata Gypsy Danger bisa dong mengalahkan dua Kaiju jelek yang menyerang Hongkong tersebut.

Rencana yang sudah disusun Stacker pun tetap akan dijalankan, yaitu menaruh bom nuklir (dasar manusia… kayaknya segala monster dan masalah bisa diselesaikan pakai nuklir) ke terowongan/portal tempat Kaiju-Kaiju itu muncul. Ternyata bom itu nggak bisa dilempar begitu aja ke portal ada prosedur yang harus dilewati….

Beruntung, dua ilmuwan yang kerja untuk Stacker, Newton dan Hermann bisa menemukan cara membaca pikiran Kaiju. Mereka berdua pun tahu rahasia Kaiju dan memberi tahu kalau bom itu harus dikirim ke dalam portal. Untuk masuk portal, mereka harus naik Kaiju. Sebab portal itu punya sistem scanning untuk setiap Kaiju yang keluar masuk.

Gypsy Danger dan Striker Eureka pun harus mati-matian melawan tiga Kaiju yang menjaga portal tersebut. Akhirnya, Gypsy Danger pun harus merelakan diri masuk ke portal… demi keselamatan dunia.

Ceritanya sederhana, tapi menghibur banget. Aksi-aksinya pas banget dan terasa cukup. Gue suka berantemnya, baik yang tangan kosong antar karakter, maupun berantem Jaeger vs Kaiju. Bikin deg-degan deh. Koreografi berantemnya bagus. Kalau nonton versi 3D, mungkin akan lebih kerasa efek-efek berkelahinya ya. Pukul sana, pukul sini. Keluar dari bioskop rasanya pengin jadi pilot Jaeger dan mukulin segalanya. Hihihi…

Film ini pun nggak lepas dari drama. Raleigh dan Yancy, gue pikir kakak beradik ini bakal punya banyak momen bromance! Ternyata nggak, tapi itu cukup. Karena masih banyak drama lain. Tentunya interaksi Raleigh dan Mako, yang di tengah gue rasa agak terlalu panjang, sampai gue mikir kapan ini berantem Kaiju dan Jaeger-nya. Akan tetapi, interaksi mereka, bukan mengarah ke romansa, melaikan chemistry antar pilot Jaeger. Bayangkan aja, untuk jadi pilot Jaeger harus rela pikiran dan kenangan lo dimasukin orang lain. Ada juga drama keluarga pilot Striker Eureka, Herc dan anaknya, Chuck, yang ganteng tapi nyebelin. Pokoknya suka deh.

1015816_531142633618705_2142046200_o

Chuck & Herc

Untuk Kaiju sendiri, aku pun kagum bagian ini. Kaiju diberi latar belakang. Kaiju dianggap sebagai makhluk yang punya intelegensia, bukan monster abal-abal atau asal-asalan.

Detail dalam film ini juga menyita perhatianku, kayak setiap Jaeger yang dipersonalisasi berdasarkan pilotnya, semacam dikasih stiker dan gambar-gambar gitu. Keren deh. Ada juga waktu peristiwa di pelabuhan Hongkong, salah satu trailer keinjek Kaiju, isinya keluar dan gue perhatiin itu vespa-vespa. Suka deh detailnya.😀

Sinematografi pun oke. CGI-nya juga jangan ditanya deh. Untuk versi 2D yang kutonton, gambarnya halus banget dan tajam. Versi 3D dan IMAX rasanya bakal lebih menggetarkan lagi. Apalagi dengan musik latar yang juga epic.

Buatku, Pacific Rim kunobatkan jadi summer movie terbaik tahun 2013! Haiyaa!

Setelah nonton ini pokoknya gue rela deh Benedict Cumberbatch diseret om GDT ke mana-mana. Di Crimson Peak kek, mau dijadikan Frankestein kek… Aku rela, Om, aku rela.😀

2 thoughts on “Pacific Rim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s