buku / film / Resensi

The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Volume I)

Call me Khan.”

A name for a conqueror.

Lewat Star Trek Into Darkness yang dirilis Mei lalu, aku yakin banyak yang di antara kita yang baru berkenalan dengan Khan atau Khan Noonien Singh. Karakter Khan diperankan oleh Benedict Cumberbatch dan sempat disamarkan menjadi John Harrison. Menurut orang-orang belakang layar biar jadi kejutan gitu. Oleh banyak kritikus dan penonton, Benedict Cumberbatch mendapatkan banyak sekali pujian atas perannya sebagai Khan di STID

Khan muncul jauh sebelum Star Trek Into Darkness ada. Beliau adalah salah satu penjahat legendaris di dunia Star Trek. Ada pula yang berpendapat bahwa beliau merupakan musuh terkuat Kapten Kirk/Enterprise. Jadi, mengapa Khan sempat disembunyikan di STID, mungkin karena berbagai alasan ya, nanti aku tulis sedikit di bawah ya.

Khan pertama muncul di salah satu episode Star Trek: The Original Series “Space Seed” tahun 1967. Disusul film Star Trek: The Wrath of Khan tahun 1982. Pada saat itu, Khan dimainkan oleh Ricardo Montalban. Sementara itu, novel The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh ini sendiri ditulis oleh Greg Cox tahun 2001. Kisah ini merupakan trilogi yang terdiri atas The Eugenics Wars volume I (2001), The Eugenics Wars volume II (2002), dan To Reign In Hell: The Exile of Khan Noonien Singh (2006).

“Beware of more powerful weapons. They often inflict as much damage to your soul as they do to you enemies.” 

Bagian pertama dari trilogi tersebut, The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh volume I, menceritakan tentang masa lalu Khan dan sekilas tentang kunjungan Kirk ke Planet Sycorax. Kedatangan Kirk ke Sycorax yang berisi pusat penelitian genetik, membuat Kirk mau nggak mau memelajari masa lalu The Eugenics Wars, yang asal muasalnya juga dari proyek genetic engineering.

Hampir seluruh cerita dalam novel ini merupakan perjalanan ke masa lalu. Kisahnya digerakkan oleh dua karakter utama, yaitu Gary Seven dan Roberta Lincoln. Keduanya merupakan agen rahasia gitu deh dari organisasi misterius. Mereka mencurigai ilmuwan-ilmuwan genetik yang hilang satu per satu. Hingga akhirnya, keduanya menemukan mengenai Chrysalis Project. Roberta menyamar menjadi seorang ilmuwan biologi dan kemudian direkrut untuk dijadikan bagian dari proyek tersebut. Roberta pun berhasil masuk ke Chrysalis, yang terletak di bawah tanah sebuah gurun di India.

Di dalam sana, Roberta mengetahui kalau proyek tersebut bukan hanya meneliti mengenai bakteri dan sejenisnya. Tetapi jauh sudah sampai ke tingkat manusia. Tujuan utama proyek Chrysalis adalah untuk menghasilkan generasi-generasi manusia unggul menggunakan teknik rekayasa genetik. Chrysalis dipimpin oleh Dr. Sarina Kaur, seorang doktor cemerlang berdarah India. Sarina dan timnya mengumpulkan genetik-genetik terbaik untuk disatukan dan dikembangkan dalam sel telur. Sarina juga menjadi salah satu donor telur dan ibu dari bayi tabung tersebut.

Ketika Roberta tiba di Chrysalis, ia melihat banyak anak-anak umur 3-5 tahun di dalam lokasi tersebut. Roberta berkenalan dengan salah satu anak, yang dianggap paling cerdas, yaitu Noon. Roberta bahkan merelakan kucingnya, Isis, untuk digendong oleh Noon. Kemudian, diketahui kalau Noon ini adalah anak dari Sarina Kaur.

Penyusupan tidak hanya dilakukan Roberta, tetapi juga Seven. Sayangnya Seven tertangkap, tapi Isis berhasil menemukan Seven. Ketahuan, akhirnya Roberta juga ikut dimasukkan ke tempat detensi di Chrysalis. Isis yang sebenarnya bukanlah kucing, bisa membebaskan Roberta dan Seven. Mereka berdua merencanakan penghancuran lokasi Chrysalis dengan meledakkan reaktor nuklir di dalamnya. Sebelum lokasi tersebut meledak, semua penghuni Chrysalis sudah menyelamatkan diri, termasuk anak-anak super. Dr. Sarina Kaur memilih untuk tidak melarikan diri dan akhirnya meninggal di lokasi tersebut.

Setelah itu, karakter Noon atau Khan Noonien Singh menjadi salah satu sentral cerita. Ia tinggal bersama saudara ibunya hingga berumur 14 tahun. Pada suatu hari, sepulang dari kampus tempat ia menyelesaikan doktoral engineering-nya, Noon terjebak dari kerusuhan. Ia nyaris terbunuh kalau saja Seven tidak datang tepat waktu dan membawanya menggunakan Blue Smoke Express ke New York.

Seven memperkenalkan Roberta kepada Noon dan menceritakan sedikit tentang masa lalunya. Seven punya niat untuk merekrut Noon menjadi bagian dari organisasinya. Di umur 14 tahun, Seven menemui Noon lagi dan mengajaknya untuk membantunya dalam misi di Antartika. Melalui misi tersebut, Seven ingin melihat kapabilitas Noon sebagai agen lapangan. Namun, ternyata sifat arogan Noon tidak bisa lepas. Noon membunuh Dr. Evergreen karena mengancam mereka berdua. Akan tetapi, Dr. Evergreen tidak semudah itu dibunuh. Seven meminta Dr. Evergreen untuk menghentikan proyeknya menutup lubang ozon, karena merasa penduduk dunia belum siap dengan teknologi itu.

Setelah kejadian itu, Seven membawa Noon kembali ke Bhopal, India. Seven menasehati Noon mengenai kehidupan. Keduanya berdebat mengenai banyak hal. Namun perdebatan mereka itu terputus oleh suara-suara teriakan. Ternyata pada saat itu terjadi tragedi bocornya gas dari sebuah pabrik pestisida di dekat kawasan tersebut. Noon ingin menyelamatkan orang-orang di sekitarnya, orang tua angkatnya, teman-temannya, tetapi Seven memperingatkannya untuk segera pergi, sebab kalau nggak, mereka juga bakal mati. Akhirnya, Seven membawa Noon ke tempat yang aman dan ngobrol lagi. Noon merasa marah dan kecewa kepada Seven karena tidak bisa mencegah terjadinya kebocoran pabrik tersebut. Padahal, Noon tahu selama ini Seven bekerja untuk menyelamatkan dunia.

“I hope someday you realize, Noon, that life is much more than a combat to be won.”

– Seven to Noon

Ide untuk membuat dunia lebih baik pun kembali menyusup dalam pikiran Noon. Menurutnya, dunia akan baik jika dipimpin oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Seperti yang selalu ibunya, Sarina, tekankan bahwa dia dilahirkan menjadi pemimpin dan superior. Mulai saat itu, Noon meminta untuk dipanggil Khan. Noon adalah masa lalunya. Khan adalah dirinya yang baru.

Seven bertemu lagi dengan Khan suatu malam di Kremlin tahun 1986. Khan datang sendirian ke Kremlin untuk mencegah meninggalnya Mikael Gorbachev, misi yang sama dengan yang diemban Seven. Pada akhirnya, dengan informasi yang didapat Seven dan Khan, Roberta bisa mengagalkan pembunuhan Mikael Gorbachev.

Tiga tahun kemudian, Khan menyusup ke apartemen Roberta dan mengambil data dari Children of Chrysalis serta penelitian Dr. Evergreen. Itulah pertermuan terakhir Roberta dengan Khan di buku pertama.

Roberta: “You monster! Whatever happened to the precocious little boy I met in India so many years ago?”

Khan: “He is fulfilling his destiny. That is all.”

Bersambung ke volume II.

**

Khan

Di balik ke superiorannya, Khan juga bagian dari manusia. Ada alasan, sebab dan akibat dari apa yang dijalaninya, pilihan-pilihan, dan keputusan-keputusannya. Hal itulah yang ingin ditunjukkan kepada pembaca–trekkies mengenai masa lalu Khan.

Sesungguhnya, aku mengakui Khan adalah karakter yang menarik. Greg Cox bisa menyampaikan ketegangan di dalam novel ini, tetapi untuk pendalaman karakternya sendiri aku merasa masih kurang. Meski memang cukup dapet kok gambaran character development yang dialami Noon menjadi Khan. Aku ngerasa, butuh sedikit drama lagi untuk membuat Khan sebagai sosok yang layak untuk diberi empati dan dimengerti.

Sebagai cerita thriller sci-fi, Greg Cox cukup seru menuturkannya. Aku ikut merasa takut dan geregetan setiap kali cerita dimulai ke bab baru. Rasanya nggak bisa berhenti bacanya, terutama karena ingin tahu perkembangan dari karakter Noon/Khan. Kisah ini banyak membahas mengenai genetic engineering. Untuk lab bawah tanah Chrysalis, bahkan salah satu tokohnya mencontohkan The Andromeda Strain yang memberi ide tentang reaktor nuklir yang dapat diledakkan. The Andromeda Strain itu serial televisi yang diadaptasi dari novel penulis favoritku, Michael Crichton dengan judul yang sama.

Selain, tentang teknologi, tentu tema yang diangkat adalah mengenai kemanusiaan ya. Banyak di awal-awal, perdebatan di hati Roberta tentang anak-anak super yang ditemuinya. Ketika mau menghancurkan bahkan dia sempat ragu apakah anak-anak tersebut harus ikut dihancurkan atau diberi kesempatan untuk tetap hidup. Roberta dan Seven bisa melihat bahwa anak-anak tersebut istimewa, mungkin karena terlalu istimewanya bisa dengan mudah ‘memengaruhi dunia’. Itulah yang jadi tanda tangan Roberta dan Seven, apakah keputusan mereka menyelamatkan anak-anak tersebut merupakan langkah benar atau malah sebaliknya. Tapi, nggak ada yang tahu tentang masa depan, kan….

Untuk ceritanya sendiri, aku nggak terlalu bermasalah. Yang agak menganggu, mungkin Greg Cox agak kurang konsisten menggunakan Noon atau Khan. Sebelum dia memproklamirkan diri sebagai Khan, Cox sudah menggunakan nama ‘Khan’ untuk menyebut Noon.

I love Noon. Aku suka banget sama Noon. Aku senang adegan ketika dia menggendong Isis, si kucing. Dia cuma anak kecil, terlepas dari superhuman-nya. Aku suka waktu dia menyatakan kerinduannya kepada ibunya, teman-teman sekelas, serta mentornya. Sesungguhnya Noon ini punya hati. *nangis*

Noon/Khan disebutkan sebagai pemuda India yang tampan, bertubuh atletis, cerdas, bermata cokelat gelap dan tajam, atletis, dapat berbicara 10 bahasa (atau lebih), punya kharisma pemimpin, dan daya tarik yang susah ditolak. Dengan kata lain: ‘sempurna’. Tapi semua hasil rekayasa genetik sih, hahaha… Sikap arogannya, sebagian karena turunan dari si ibu, sebagian karena dia masih BOCAH! Iya, aku melihat dia sampai akhir, hingga awal buku kedua, dia masih tetap BOCAH di mataku.

Di STID, Khan digambarkan sebagai pria Inggris. Nah ini mungkin salah satu alasan disembunyikan terlebih dahulu, biar nggak protes duluan sebelum nonton. Meski setelah nonton banyak juga yang protes: “Kenapa Khan jadi British gituuu?”. Sebenarnya nggak masalah juga sih, kan si Khan ini hasil rekayasa genetik. Mungkin di universe-nya J.J. Abrams, si ibu, pengin anaknya British gitu. Namun, sisanya, penampilan Benedict Cumberbatch sebagai Khan, aku kira mewakili banget deksripsi di buku. Nyaris semuanya dapet, dari kharisma sampai kekejaman dapet semua. Aku sendiri selama membaca buku, membayangkan Noon/Khan berdasarkan Khan yang diperankan Benedict Cumberbatch. Ganteng sih, sampai guling-guling baca novelnya. Kalau Khan yang diperankan Ricardo Montalban, aku belum pernah nonton sih, jadi nggak bisa berkomentar juga.

Khan Noonien Singh versi STID (Benedict Cumberbatch/kiri) dan TWoK (Ricardo Montalban/kanan)

Sekitar bulan September/Oktober nanti bakal terbit versi komik yang masih tie-in dari Star Trek Into Darkness, berjudul Khan. Komik ini dirilis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu Khan yang diceritakan minim di STID. Kabarnya, kisahnya bakal didasarkan dari The Eugenics Wars juga. Cuma nggak tahu, apakah merangkum semua cerita The Eugenics Wars, atau cuma sebagian saja.

Bogor, 15/7/13

3 thoughts on “The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Volume I)

  1. Pingback: The Eugenics Wars, Vol. 2: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Star Trek: The Eugenics Wars #2) | Catatan Tia

  2. Pingback: Star Trek TOS: Space Seed | Catatan Tia

  3. Pingback: Star Trek Khan #1 | Catatan Tia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s