buku / film / Resensi

The Eugenics Wars, Vol. 2: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Star Trek: The Eugenics Wars #2)

“I will have my vengeance.”

– Khan Noonien Singh

Bagian kedua dari The Eugenics Wars terbit setahun setelah volume pertamanya di tahun 2001. Volume pertama menyisakan banyak rasa penasaran apa yang akan terjadi kepada Khan Noonien Singh dan saudara-saudaranya (baca reviewnya di sini). Masih ditulis oleh Greg Fox, cerita dalam volume kedua ini meneruskan event-event yang terjadi di kisah sebelumnya. Berlatar di India, US, dan Eropa pada tahun 1992-1996, volume kedua menceritakan sepak terjang Khan dalam skala global. Jadi, buku pertama dan kedua ini harus dibaca berurutan. Kalau memang belum terbiasa atau kenal dengan dunia Star Trek nggak masalah juga sih baca seri ini, karena fokus ceritanya memang tentang Khan.

Mengingatkan sedikit tentang volume pertama menceritakan Roberta dan Seven di tahun 1974 yang berhasil menghentikan proyek Chrysalis. Laboratorium Chrysalis di tengah gurun India meledak karena nuklir. Hampir seluruh staf serta Children of Chrysalis berhasil selamat. Seluruh Children of Chrysalis dipisahkan satu sama lain. Satu anak yang paling menonjol dan menjadi perhatian Roberta serta Seven adalah Noon atau Khan Noonien Singh, anak dari Dr. Sarina Kaur, kepala proyek Chrysalis. Ketika Noon berumur 14 tahun di tahun 1984, Seven berencana merekrutnya sebagai salah satu agen. Akan tetapi, perselisihan antar Noon dan Seven, serta dipicu oleh Tragedi Bhopal membuat Noon menyusun rencana lain. Tahun 1986, Noon seorang diri menyerang Kremlin, untuk mengagalkan pembunuhan Mikael Gorbachev. Di sana, ia bertemu lagi dengan Seven. Tahun 1989, di umurnya yang ke-19, Noon mencuri data-data mengenai Children of Chrysalis serta proyek pembenahan ozon milik Dr. Evergreen dari Roberta.

The Eugenics Wars volume 2 dengan kover Khan versi Ricardo Montalban

Di volume dua, cerita bergulir dari tahun 1992, ketika Noon, atau yang waktu itu lebih dikenal dengan Khan Singh. Di Candigarh, India, Khan mendirikan benteng yang terinspirasi dari Red Fort di Agra. Khan juga memiliki sebuah pulau di Pasifik yang diberi nama Chrysalis, lokasi laboratorium genetik. Sebuah satelit bernama Morning Star juga diluncurkan membawa teknologi yang bisa melobangi ozon. Intinya, di tahun tersebut, di umurnya yang baru 22 tahun, Khan sudah memulai intimidasinya ke dunia global.

Khan secara tak terlacak media ikut campur dalam berbagai kerusuhan dan pemberontakan di berbagai tempat. Pun dia mengajak orang-orang berpengaruh untuk ikut dalam tujuannya. Dengan kekerasan dan Morning Star, Khan mengajak orang-orang tersebut untuk bergabung. Tidak hanya itu, Khan juga berusaha merangkul teman-teman se-playgroup Chrysalis yang belum bergabung dengannya dan memimpin pemberontakan sendiri. Nyatanya, pertemuan itu tidak berhasil dan membuat Khan murka, serta merencanakan pembalasan.

Maka, dimulailah Eugenics Wars yang sebenarnya. Khan dan beberapa saudara superhuman-nya saling menghancurkan satu sama lain. Hunyadi, salah satu superhuman, melakukan serangan lebih dulu kepada Khan. Serangan tersebut berupa gempa bumi di India yang menewaskan hampir 30.000 orang. Pada saat gempa terjadi, Khan sedang berkunjung di sebuah kuil untuk bertemu seseorang. Tetapi ternyata itu adalah death trap. Khan berusaha menyelamatkan dirinya dan Joaquin, teman superhuman yang juga bodyguard-nya. Dia menahan pilar batu gede selama beberapa jam (luar biasa banget) demi Joaquin, sebelum akhirnya diselamatkan. Setelah keluar dari reruntuhan, Khan akan membalas dendam kepada Hunyadi, dengan mengarahkan Morning Star-nya. Namun tindakan Khan berhasil ditahan oleh Ament, perempuan superhuman yang juga menjadi penasihatnya.

Khan pun membalas dendam lewat Hawkeye Morrison, salah satu superhuman. Ketika diadakan pertemuan UN di Genewa, gas sarin dimasukkan ke ruang pertemuan, dan salah satu korbannya adalah Hunyadi. Belum lama berselang, Khan mendapatkan kunjungan dari Dr. Donald Williams yang dulu pernah ikut bergabung dalam proyek Chrysalis. Williams menawarkan strain streptococcus yang bersifat karnivor–flesh-eating bacteria–yang dulu dicurinya dari lab kepada Khan. Melihat potensi bakteri tersebut sebagai senjata biologi, Khan pun memutuskan untuk membiakkannya. Kepada Ament, Khan mengatakan akan meluncurkan bakteri tersebut pada awal September 1996.

Tindakan-tindakan Khan tersebut tidak terlepas dari pengamatan Roberta dan Seven. Keduanya berusaha menggagalkan aksi-aksi Khan. Satu persatu usaha mereka pun berhasil. Khan mengalami kekalahan telak setelah Pulau Chrysalis meledak karena nuklir dan bentengnya menjadi target sasaran roket dari beberapa negara. Di saat-saat genting, Khan sudah akan meluncurkan Morning Star. Akan tetapi, seseorang yang tidak diduganya muncul di benteng. Adalah Gary Seven yang datang dan menawarkan pertukaran dengan Khan. Gary Seven menyiapkan pelarian bagi Khan, berupa Sleeper Ship, dan Khan menukarnya dengan kode self-destruct dari Morning Star. Awalnya, Khan tidak tertarik, namun ketika Seven menjelaskan lebih lanjut tentang pesawat tersebut akhirnya Khan menyetujuinya. Khan dan 84 kru-nya pun diteleportasi ke pesawat yang sudah mengorbit di atas Australia tersebut. Seven memprogram pesawat tersebut untuk terbang ke arah 100 juta tahun cahaya atau mereka ditidurkan sekitar satu abad.

Di masa yang lain, Kirk berhasil menyelamatkan Planet Sycorax dari kehancuran. Kirk yang masih mengenai apakah Planet Sycorax pantas dimasukkan dalam federasi, tiba-tiba kedatangan Seven. Seven ini memang alien ya, udah dijelas dari buku satu. Seven menceritakan kepada Khan sedikit pengalamannya di masa lalu untuk membantu Kirk memutuskan.

“Because what truly matters can’t be found in the genes. Superior strengh. Superior intelligence. These are all useful traits, but, in the end, they don’t necessarily make superior people. Character, compassion, courage. Those are learned qualities, not encoded on any chromosome, but, ultimately, the are what will truly advance the human race.”

Seven to Kirk

Volume kedua dari The Eugenics Wars terfokus kepada sepak terjang Khan. Aku pun mendapatkan gambaran seperti apa hasil dari trauma serta nilai-nilai superior yang ditanamkan kepada Khan. Ketika Seven menghadapi Khan terakhir kali di S.S. Botany Bay, Seven sempat mengungkapkan betapa dia sering berharap dulu membiarkan Khan dan teman-temannya mati dalam ledakan di Chrysalis. Dia ngomong gitu karena begitu geregetan sama Khan yang nggak punya hati–nggak peduli kepadaAment atau Isis, yang baru saja dibunuh Joaquin.

Empati. Itu satu hal yang ilang banget dari Khan ketika beranjak dewasa. Aku kadang-kadang masih melihat sisi kenakanak-kanakan dia yang tertinggal, tapi nggak banyak. Satu hal yang begitu aku hormati dari Khan adalah kesopanannya dan keloyalannya kepada orang-orang yang membantu dia. Adegan ketika Khan menyelamatkan Joaquin, terjadi sesaat setelah Khan mau mengarahkan Morning Star ke lokasi Hunyadi, membunuh banyak orang agar Hunyadi mati. Namun, Khan batal melakukannya dan malah Hunyadi melakukan itu kepada Khan. Perasaan sakit Khan ketika melihat orang-orang yanh ada di bawah perlindungan dia menderita karena ulah Hunyadi, itu membuat dendam.

Awalnya, Khan hanya bereaksi atas apa-apa yang terjadi kepadanya. Setelah konfrontasi dengan saudara-saudaranya, apa yang menggerakkan Khan adalah dendam. Khan jadi nggak peduli dengan rakyatnya karena terus mengembangkan teknologi-teknologi untuk perang. Dia masih sangat muda, tapi harus menanggung beban sebesar itu.

Aku memang lebih concern terhadap keadaan psikologis Khan selama cerita berlangsung. Tanpa melihat apa yang sudah terjadi kepadanya sejak awal, dengan mudah kita bakal ngecap dia teroris. Tapi, ketika dibawa mengenal dan menyusuri masa lalunya, Khan hanya seseorang pemuda yang merasa superior, karena kesuperiorannya itu dia diharap-harapkan menjadi pemimpin. Bagi Khan, menjadi pemimpin dunia adalah takdirnya. Superior memimpin para inferior.

Seiring waktu berjalan, keinginan menjadi pemimpin dan menjadikan dunia lebih baik itu nggak lagi murni. Khan mendapatkan banyak halangan. Sikap arogannya mengantarkan Khan kepada kekuasaan berdasarkan tekanan dan kekerasan kepada orang lain. Sejak awal dia udah memilih itu dan sampai akhir, dia terpaksa membunuh orang-orang nggak bersalah untuk tujuannya. Sebelumnya, Khan nggak pernah seperti itu.

Secara keseluruhan novel ini menghadirkan ketegangan. Perang dari sudut pandang orang-orang yang terlibat di balik layar. Apa yang mempengaruhi keputusan-keputusan para pemimpin. Dan untuk tujuan-tujuan tertentu para superior, pemimpin, nggak akan ragu mengorbankan rakyat kecil atau mereka yang inferior.

Aku sendiri menganggap cerita ini cukup seru. Meski punya keluhan sama, yaitu, pendalaman karakter yang kurang. Akan tetapi, karena terbiasa menulis, hal itu aku memaklumi karena bisa mengisi plothole-nya sendiri. Bagian saintifiknya nggak terlalu banyak, karena fokus kepada aksi-aksi yang dilakukan. Twist di akhir cerita juga cukup bikin jleb. Ternyata selama ini bukan cuma Khan, tapi gue juga ngerasa dibohongi….

Bukan masalah twist, tapi ending-nya sendiri bagiku nggak memuaskan. Aku takut kehilangan momen di dalamnya, jadi aku sempat baca ulang bab terakhir ketika Khan memutuskan untuk memilih pergi dengan S.S. Botany Bay. Padahal, ketika Khan ikut dalam kapal selam Kaur, di saat-saat terakhir kapal tersebut diserang, Khan masih ingin bertahan. Tetapi, di akhir ini, Khan justru pergi meninggalkan bentengnya, ke S.S. Botany Bay, dengan mengharapkan masa depan yang lebih baik. Aku merasa alasan Khan itu kurang tebal untuk meyakinkanku. Aku sadar dia juga nggak immortal, tapi itu juga bukan alasan. Harapan dan masa depan, serta keinginan untuk mewujudkan tujuanlah yang membuat Khan memilih tidur bersama krunya. Khan baru berumur 25 tahun ketika tidur dalam cryotube.

Aku nggak sreg dengan itu. Mungkin karena aku tahu akhir dari seluruh cerita Khan ini. Aku setuju dengan Seven yang mengharapkan dulu Khan dan kawan-kawannya seharusnya dibiarkan hancur di Chrysalis.

“Strange are the twists of fate.”
– Khan

CumberKhan

Selesai baca cerita ini bikin aku nggak bisa tidur sepanjang malam. Aku merasa nggak adil, terutama dengan nasib Khan. Kenapa Seven harus menawarkan pelarian? Kenapa nggak dihukum dan dihabisi saja?

Pola di akhir cerita The Eugenics Wars ini terulang di Star Trek Into Darkness, ketika Khan dan 72 pengikutnya ditidurkan kembali dalam cryotube. Untuk apa? Apa tujuannya?

Dan aku merasa itu nggak adil.

Selain adegan itu, ada adegan lain di STID yang bikin aku inget banget dengan salah satu adegan di The Eugenics Wars. Ialah ketika Khan/Noon menyerang Kremlin sendirian. Itu mengingatkanku dengan adegan ketika Khan menyerang Klingon sendirian.

Ada juga kalimat-kalimat yang mirip dan Khan banget.

Di The Eugenics Wars: “You should never have let me live.” 

Di STID: “You should have let me sleep.”

Aku sendiri lebih suka Khan di buku The Eugenics Wars. Karena apa-apa yang digambarkan dari Khan kelihatan banget di sana. Sementara Khan di STID, aku merasa lebih manusiawi dan lembek, serta banyak ngomong. Padahal, Khan di EW kalau ngomong to the point, sopan, dan lebih sering memerintah, daripada bertanya. Tapi mungkin, karena Khan di STID banyak tekanan sampai akhirnya dia jadi begitu, memohon-mohon sama Marcus, pingsan dipukuli Spock–itu nggak superhuman banget, nggak ada hal itu seharusnya di kosakata hidup Khan.

Meski gitu, aku tetep membayangkan Khan yang diperankan Benedict Cumberbatch di novel ini. Semua bisa didapet di CumberKhan, tapi aku nggak bisa membayangkan Cumberkhan bersurban. Hahaha… Rusaaaak imajinasikuuu. Makanya nunggu-nunggu komiknya deh.

Khan dengan surban. hihihi

Omong-omong, tentang komik Khan. Komik tersebut akan berupa mini-seri lima volume.

Dari StarTrek.com: IDW Publishing, on Wednesday, will kick off a five-issue miniseries – titled STAR TREK: Khan – revealing the back story of the enigmatic Star Trek Into Darkness villain. The saga will follow Khan Noonien Singh from his earliest days through his rise to power during the Eugenics Wars, building to his escape from Earth aboard the Botany Bay and his pivotal interactions with Admiral Marcus and Section 31.

Nunggu komiknya banget nih! Secara buku EW ini langka.😀

Oh ya, aku nggak akan nerusin langsung bagian ketiganya, To Reign in Hell: The Exile of Khan Noonien Singh. Alasan pertama, karena aku jealous Khan akhirnya nemuin perempuan untuk mendampingi dia. Kedua, karena event-nya jauh banget dari buku pertama kedua–kurasa aku malah harus nonton Space Seed dan The Wrath of Khan dulu. Ketiga, aku nggak mau tahu ending Khan gimana, nggak mau patah hati lagi.

Okelah, alasan tersebut emang nggak rasional. Tapi… sampai jumpa di buku ketiga! Hail, Khan!

Bogor, 17/7/13

2 thoughts on “The Eugenics Wars, Vol. 2: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Star Trek: The Eugenics Wars #2)

  1. Pingback: Star Trek TOS: Space Seed | Catatan Tia

  2. Pingback: Star Trek Khan #1 | Catatan Tia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s