film / Resensi

Grave of The Fireflies (Hotaru no Haka)

Grave of The Fireflies (Hotaru no Haka) adalah salah satu anime legendaris garapan Studio Ghibli. Dirilis tahun 1988, anime ini masih banyak ditonton sampai sekarang. Pun, didaulat menjadi salah satu ‘tearjerker‘ movie oleh banyak orang. Termasuk telat sih aku baru nonton ini sekarang, tapi kurasa untuk film sekaliber Grave of The Fireflies nggak ada kata kadaluarsa untuk mulai nonton atau ngulang nonton sebanyak apapun.

Kisah yang dituturkan film ini sama sekali tidak rumit. Berlatar tahun 1945, Seita dan Setsuko, dua bersaudara–kakak laki-kali dan adik perempuan, terpaksa kehilangan tempat tinggal dan ibu mereka karena desa diserang oleh pihak Amerika. Keduanya pun menumpang di rumah bibi mereka. Ketika Setsuko rindu ibunya, Seita menghibur Setsuko dengan menunjukkan kunang-kunang yang banyak di sekitar rumah bibi. Saat Setsuko sedih, Seita akan memberinya permen buah yang disimpankan ibu untuk mereka. Awalnya bibi mereka cukup welcome dengan kedatangan mereka, lama kelamaan sikap asli bibi mulai muncul sehingga Seita tidak tahan. Akhirnya, Seita mengajak Setsuko pergi dari rumah bibinya.

Keduanya tinggal di tempat penampungan yang tak terpakai. Hidup seadanya, makan sesederhana mungkin. Mereka menjual barang-barang peninggalan ibunya untuk bertahan hidup. Saat uang mereka habis, Seita mulai mencuri di kebun-kebun petani. Yang lebih miris, setiap kali ada serangan, ketika orang-orang mencari tempat perlindungan Seita malah menuju desa untuk mencuri barang-barang yang ditinggalkan mengungsi. Semua itu Seita lakukan untuk Setsuko.

Lama kelamaan karena pola hidup yang nggak sehat dan makanan yang kurang nutrisi, Setsuko mulai sakit-sakitan. Dimulai dari ruam-ruam di tubuhnya, sampai akhirnya terjangkit diare dan malnutrisi. Seita pun menarik uang dari tabungan ibunya demi bisa membelikan makanan untuk Setsuko. Namun, Seita terlambat, Setsuko sudah terlalu lemah dan akhirnya meninggal dunia. Seita pun mengremasi jasad Setsuko, lalu meninggalkan tempat penampungan tersebut. Seita meninggal sebagai gelandangan di sebuah stasiun sambil memeluk kaleng permen berisi abu Setsuko.

A beautiful movie. Meski dengan kualitas grafis masih sesuai dengan tahun rilisnya. Ehm sebenernya nggak terlalu ngikutin perkembangan grafisnya anime sih… Tapi, sama sekali nggak mengurangi kenikmatan nontonnya. Interaksi Seita dan Satsuko benar-benar menyentuh dan kena ke hati. Pada beberapa adegan, you’ll wish you have a brother like Seita. Atau mungkin adik perempuan manis dan penurut seperti Setsuko. Keduanya hidup banget. Saling percaya satu sama lain. Seita selalu ada buat Setsuko. Pun Setsuko nggak pernah nakal kepada Seita. Karakter-karakter yang bikin kita pasti jatuh simpati dan sayang. Hubungan Seita dan Setsuko serta dinamika kehidupan mereka memang kekuatan dari film ini.

Menonton film ini bikin kamu bakal benci sama perang. Mungkin juga kesel dan jengkel terhadap bibi dan beberapa orang lain yang nggak mau membantu Seita serta Setsuko. Tetapi, ketika melihat dari sudut lain, mereka nggak bisa selamanya disalahkah sih, karena memang lagi kondisi perang. Makanan terbatas, sumberdaya apa-apa terbatas, masih bisa hidup–itu anugerah.

Sesungguhnya, aku sendiri nggak menyukai tindakan Seita pergi dari rumah bibinya. Ya, setiap (anak) laki-laki memang selalu punya ego dan harga diri yang gede banget. Diomelin bibinya ini itu dan akhirnya dia memutuskan pergi. Coba pikir, kalau Seita tetap di rumah bibinya, seenggaknya Setsuko bisa punya tempat tinggal yang layak. Tapi, namanya laki-laki… paling nggak mau harga dirinya dilukai.

Film ini pun mengingatkan aku pada novel yang minggu lalu kubaca, The Eugenics Wars karya Greg Cox. Di novel itu, aku disuguhi perang dari sudut pandang pemain-pemain belakang layarnya. Mereka-mereka yang punya kekuasaan dan kekuatan, serta ambisi: membuat dunia lebih baik sesuai dengan visi mereka. Harga diri yang besar, plus sakit hati karena rakyat serta orang-orang yang harus dilindungi diserang oleh musuh, membuat karakter-karakter di The Eugenics Wars akhirnya berperang satu sama lain. Padahal awalnya, niat mereka hanya ingin membuat dunia menjadi lebih layak ditinggali, menyejahterakan orang-orang, dan memberantas ketidakadilan. Tak peduli meski awalnya mereka saling bersaudara. Hasilnya, ratusan ribu orang meninggal, jutaan kehilangan tempat tinggal, dan belum lagi kerusakan infrastuktur yang dialami. Aku berpikir, jangan-jangan perang-perang yang ada selama ini hanya turunan dari visi misi beberapa orang, yang entah apa sebenarnya tujuannya. The Eugenics Wars novel yang bagus dan sesuatu yang bisa dibaca bukan hanya sekali.

Kalau perang itu nggak menyenangkan, mengapa masih saja terus ada peperangan? Karena obsesi tak pernah padam. Karena ambisi berkuasa selalu ada. Atau mungkin memang ada-ada saja yang menginginkan kericuhan terus terjadi, karena mendapatkan keuntungan dari sana. Ya, yang jelas, perang sudah memakan banyak korban, di antaranya Seita dan Setsuko. *hapus air mata*

Grave of The Fireflies adalah film yang seenggaknya harus ditonton sekali seumur hidup. Berapapun umurmu, film ini nggak akan basi kok. Cerita tentang keluarga dan perjuangan kehidupan, plus perang, selalu bikin hati terketuk. Siapin juga tisu secukupnya. Mungkin kalau nonton bareng saudara sendiri bakal lebih sedih. Highly recommended!

— Adit

Bogor, 24/7/13

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s