buku / Resensi

Samudra di Ujung Jalan Setapak (Ocean at The End of The Lane)

“Tak ada yg tetap sama. Entah itu cuma sedetik kemudian atau seratus tahun Semua bergolak dan berputar. Dan orang-orang jg berubah seperti halnya samudra.”

hlm. 237-238

oceanJudul: Samudra di Ujung Jalan Setapak (The Ocean at The End of the Lane)

Penulis: Neil Gaiman

Penerbit: GPU

Genre: Fantasi

Harga: Rp. 50,000

Sinopsis:

Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah fabel yang membentuk ulang kisah fantasi modern: menggugah, menakutkan, dan puitis—semurni mimpi, segetas sayap kupu-kupu, dari pencerita genius Neil Gaiman.

Kisahnya dimulai empat puluh tahun silam, ketika pemondok di rumah keluarga sang Pencerita mencuri mobil mereka dan bunuh diri di dalamnya. Peristiwa ini membangkitkan kekuatan-kekuatan purba yang seharusnya dibiarkan tak terusik. Makhluk-makhluk gelap dari dunia seberang kini lepas, dan sang Pencerita harus mengerahkan segala daya upayanya agar bisa bertahan hidup: ada kengerian yang nyata di sini, dan kuasa jahat yang terlepas—di dalam keluarganya dan dari kekuatan-kekuatan yang bersatu untuk menghancurkannya.

Yang bisa melindunginya hanyalah tiga perempuan yang tinggal di pertanian ujung jalan. Perempuan yang paling muda menyatakan kolam bebeknya adalah samudra. Perempuan yang paling tua mengaku pernah menyaksikan peristiwa Ledakan Besar.

Ini adalah fabel yang indah dan gue suka banget. Meskipun ini pengalaman pertama baca Neil Gaiman (setelah sekian lama denger namanya doang dan baca yang terjemahan pula) gue sama sekali nggak kesulitan mengkuti beliau bercerita. Aku suka cara beliau bertutur serta analogi-analogi yang dipakai di dalam cerita ini. Selain tema besarnya yang tentang imajinasi anak-anak–bikin kisah ini jadi berkesan banget buatku.

Bercerita tentang George yang kembali ke desa tempatnya tinggal untuk menghadiri pemakaman. Sesampainya di sana dia malah beranjak untuk mendatangi kolam bebek yang terdapat di ujung jalan setapak pada rumah pertanian Hempstock. Saat George duduk di tepi kolam bebek tersebut, ia mengingat Letitia–Lettie Hempstock yang pergi ke Australia. Ia bertemu dengan Gennie Hempstock, ibu Letty, dan Mrs. Hempstock tua, nenek Lettie. Pada saat itulah, ia teringat lagi kejadian 40 tahun yang lalu, saat George masih anak-anak.

Pertemuan George dan Lettie dimulai dari kematian si penampang opal tak jauh dari rumah Lettie. Kemudian, Lettie mengajak George mampir ke rumahnya serta bertualangan ke sekitar tanah pertanian Hempstock yang luas. Lettie bilang jangan sampai George melepaskan tangannya, tapi George melepaskannya sekali. Lettie juga menunjukkan kolam bebek di ujung jalan setapak yang dianggapnya sebagai samudra.

Sehabis petualangan itu, George menemukan cacing yang membuat lubang di kakinya. Ia berusaha mengeluarkannya, tapi tidak terlalu berhasil. Beberapa waktu kemudian, muncul seorang pengasuh baru di rumahnya yaitu Ursula Monkton. George tidak menyukai Ursula Monkton yang menggoda ayahnya dan membuat ayah bersikap kejam kepada George. Malam hari, George yang dikurung karena mogok makan akhirnya melarikan diri dari rumah. Tujuannya tentu saja rumah pertanian Hempstock, tetapi di tengah jalan, Ursula berhasil mengejar George. Kemudian, Lettie muncul dan mengusir Ursula karena sudah memasuki tanah pertaniannya.

Oleh keluarga Hempstock, George ditolong, disuruh mandi, serta diberi makan. Mrs. Hempstock tua juga menyembuhkan kaki George dan menutup lubang yang ada. Esok harinya, Letty mengantarkan George pulang ke rumah sambil membawa benda-benda aneh. Lettie menyuruh Ursula yang sesungguhnya adalah makhluk dari zaman Cromwell dan bentuk sebenarnya adalah kain abu-abu kumal. Benda-benda yang dibawa Lettie tadi memanggil para Pembersih yang rupanya seperti burung-burung hitam. Para Pembersih ini langsung menyerang Ursula atau kutu.

Setelah Ursula habis dimakan Pembersih, ternyata mereka tidak mau segera pergi. Lettie menyuruh George berlindung di dalam lingkaran peri–yang sebenarnya semak rhododenron berbentuk lingkaran, ketika Pembersih mulai memakan segalanya, pohon, bintang-bintang, dan sebagainya. Akhirnya, Lettie dan neneknya bisa mengatasi para Pembersih. Lettie membawa air dari samudra dalam sebuah ember dan meminta George masuk ke sana. George bisa merasakan samudra Lettie yang sebenarnya. Kedua muncul di kolam bebek dekat rumah Lettie.

Lettie mengajak George ke rumahnya. Ketika berbicara dengan ibu Lettie, George berpikir semua yang terjadi adalah kesalahannya. Dia berlari keluar, siap menyerahkan jantungnya kepada para Pembersih. Tetapi Lettie melindunginya, hingga samudra mengambilnya kembali.

Baca fabel ini berasa diyakinin kalau nggak apa-apa tetap punya imajinasi dan keberanian anak-anak semasa dewasa. Gue suka ketika George mulai mengingat-ingat masa kecilnya, mengumpulkan kenangan-kenangan, hingga akhirnya terajut sendiri, menjadi satu cerita utuh. Gue iri dengan masa kecil George. Atau mungkin gue punya masa kecil yang semenarik itu, tapi karena orang-orang dewasa nggak percaya, akhirnya terlupa juga.

Gue memang nggak terlalu inget masa-masa kecil gue. Padahal kepala gue nggak pernah kebentur apa-apa. Kadang-kadang gue berusaha mengingat tapi nggak dapet apa-apa. Lupa begitu aja.

Neil Gaiman bercerita dengan runut, runtut, dan rapi banget. Gue sendiri membacanya dengan sabar dan nggak keburu-buru. Menikmati tiap-tiap kali George bercerita atau Letty membocorkan rahasia-rahasia. Berasa kayak lagi didongengin aja gitu. Dan gue yang udah lama nggak baca cerita model begini pun langsung terhanyut. #halah

Pokoknya gue suka deh imajinasi beliau. Kebayang banget gitu di kepala. Keseret-seret masuk ke dalamnya. Iri, pengin punya tetangga kayak keluarga Hempstock yang masakannya super enak dan bikin laper tiap kali adegan makan.😀

“Beda-beda orang, beda-beda ingatan; tidak ada dua orang yg mengingat hal-hal yg sama persis, entah mereka mengalaminya atau tidak. Walaupun dua orang berdiri bersebelahan, ingatan mereka bisa berpulau-pulau jauhnya.”

hlm. 250

General Discussion Questions:

1. First impression

Gue suka banget warna kovernya, biru gelap. Tapi lebih suka yang versi English sik. Yang Indonesia, peletakkan fontnya rada nggak enak gitu.

2. How did you experience the book?

Seperti yang udah gue tulis di atas, nggak butuh waktu lama untuk masuk ke ceritanya. Cara bertuturnya gue suka. Terjemahannya juga bagus kok.

3. Characters

Karakter utama, George, dapat pemahaman dan pengertian sih. Sama seperti pembaca. Sementara Lettie, gue nggak menyesali kematiannya, diambil samudra, gue pikir Lettie nggak akan keberatan. :’)

4. Plot

Totalnya tiga hari. Dan nggak sulit sama sekali. Alurnya mundur. Tapi sama sekali nggak sulit dimengerti.

5. POV

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, aku, yang dinarasikan oleh George.

6. Main Idea/Theme

Tema besarnya tentang masa kanak-kanak dan kenanngan. Simbol yang digunakan di dalam cerita ini adalah samudra (ocean).

7. Quotes

“Tidak ada lulus atau gagal dalam menjadi manusia, Sayang.” hlm. 253

“Itulah masalahnya dengan makhluk-makhluk hidup. Tidak berumur panjang. Suatu hari masih anak kucing, tahu-tahu sudah menjadi kucing tua. Lalu tinggal kenangan. Dan semua kenangan itu memudar, bercampur, dan mengabur bersama-sama…” hlm. 69

“Orang-orang dewasa mengikuti jalan yang sudah ada. Anak-anak menjelajah. Orang dewasa puas menempuh jalur yang itu-itu saja, ratusan kali, atau ribuan; barangkali orang dewasa tidak pernah terpikir untuk menyimpang dari jalan yang telah ada, menyelusup ke bawah semak-semak rhododendron, mencari celah-celah di sela pagar.” hlm. 85

“Aku ingin bilang sesuatu yang penting padamu. Orang dewasa juga tidak kelihatan seperti orang dewasa di dalamnya. Dari luar, mereka besar, tampak masa bodoh, dan selalu yakin dengan tindakan mereka. DI dalam, mereka masih seumuranmu. Sesungguhnya, tidak ada orang dewasa. Tidak ada satu pun, di seluruh dunia ini.” hlm. 164

8. Ending

Gue suka endingnya! Puas! Malah nggak pengin pergi dari tanah pertanian Hempstock. Mau numpang makan di sana.😀

9. Questions

10. Benefits

Gue udah sampaikan di atas, baca buku ini bikin yakin kalau punya imajinasi kanak-kanak itu nggak salah sama sekali.😀

Bogor, 22/8/13

3 thoughts on “Samudra di Ujung Jalan Setapak (Ocean at The End of The Lane)

  1. Pingback: August Wrap-Up Post | reightbookclub

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s