film / Resensi

City of Bones

Dan akhirnya… novel ini rilis juga dalam bentuk film. Gue inget banget dulu mulai baca novelnya karena nggak mau ketinggalan cerita sebelum difilmkan (biasalah, gue kan orangnya nggak mau kalahan hahaha…). Gue nonton ketika pemutaran midnight, kira-kira beberapa hari sebelum tayang reguler.

Cerita film ini mengenai seorang remaja perempaun bernama Clary (Lily Collins) yang ibunya (Lena Headey) diculik. Sebelum penculikan itu, Clary berkali-kali menggambarkan simbol aneh yang nggak dia mengerti. Suatu malam Clary melihat simbol itu di sebuah club, kemudian dia dan Simon (Robert Sheehan) masuk ke dalam sana. Di tengah-tengah pesta, Clary melihat sekelompok remaja membantai seorang cowok, tapi nggak seorang pun lainnya ngeliat. Itulah pertama kali Clary berhubungan dengan pemburu bayangan/iblis yang disebut Shadowhunter.

Selanjutnya, terkuak kalau Clary sebenarnya adalah Shadowhunter. Dia diselamatkan Jace (Jamie Campbell-Bower), seorang shadowhunter yang dilihatnya di club. Jace mengajak Clary ke Institute untuk berusaha mencari tahu di mana sebenarnya Piala Mortal (Mortal Cup) yang disembunyikan ibu Clary. Ya kemudian bertualanglah Clary bersama Simon, Jace, dan teman-teman shadowhunters-nya yang dibumbui cinta segitiga dan cinta sesama jenis.

Gue bukan fans berat adaptasi fantasi YA, karena rata-rata hasilnya begitu semua, bahkan film Harry Potter pun terasa gagal di mata gue (#halah). Sejauh ini adaptasi fantasi YA yang bagus menurutku adalah The Hunger Games, selain karena ide ceritanya beda, dan bumbu romannya nggak njelehi.

Film City of Bones berdurasi dua jam lebih sedikit (dan kerasa lama banget, kayaknya tiap beberapa menit gue lihat jam tangan gue). Selama ini, timeline-nya, berasa rusuh, cepet banget. Gue emang udah rada lupa detail cerita di bukunya, tapi masih bisa ngikutinlah apa dan kenapanya. Rasanya si scriptwriter berusaha memasukkan sebanyak mungkin elemen di buku agar filmnya terasa sama, tapi malah jadinya ngasih informasi yang setengah-setengah ke penonton yang belum baca bukunya. Kayak, ketika mereka ketemu Silent Brothers, heeeeee… ngapain coba mereka ujug-ujug ke sana tanpa penjelasan? Baru setelah ketemu SIlent Brothers dijelasin. Lalu ketika, tiba di City of Bones, huoooh… gue berharap sesuatu yang megah disampaikan lewat gambar. Timeline yang cepat dan cerita yang bertubi-tubi kayaknya bikin penonton lupa esensi dari City of Bones sendiri, City of Bones itu apa…? Kenapa dijuduli City of Bones… itu nggak terasa terkait dengan plot utamanya.

Cast-nya memang oke-oke banget. Tetapi karena banyak karakter jadi tiap cast kayak cuma muncul sebentar. Misalnya, idola kita bersama, Magnus Bane aka Godfrey Gao, rasanya muncul nggak lebih dari sepuluh menit. Oh my! Hmm… seimut-imutnya Kevin Zegers (Alec) gue ngerasa dia ketuaan meranin remaja 17 tahun, hihihi… Si Luke (Aidan Turner) juga nggak konsisten pakai vokalnya, pertama dia muncul pakai vokal berat ala bapak-bapak, terakhir kenapa jadi suara Mitchell/Kili, heee… Yang gue anggap bagus tentu saja Robert Sheehan, Jemima West (Izzy) juga kelihatan keren. OH YA, ini film latarnya di New York, tapi hampir semua pemainnya diimpor dari Inggris, jadi logat british-nya kental boo….

Kekurangan cerita sebenernya bisa tertutupi kalau sinematografinya bagus. Untuk film ini sendiri, gue ngerasa kurang bagus… atau malah nggak bagus? Dalam satu adegan, perpindahan fokus kamera terlalu cepet. Gue keilangan detail dan nggak bisa fokus. Ekspresi karakter jadi nggak terlihat meyakinkan. Belum lagi blocking di tiap adegan itu, sering kerasa nggak seimbang.

Ngomong-ngomong, bisa jadi gue nggak fokus karena gue ngantuk padahal sambil ngemilin donat beberapa biji. Gue memang sempet ketiduran di tengah-tengah film. Kebangun kalau si Iif nanya sesuatu ke gue aja, terus tidur lagi. Sampai-sampai gue kelewatan adegan paling legendari di film, yaitu waktu adegan rumah kaca–ciumannya Jace dan Clary. Karena film ini akan dibuat sekuelnya, bagian pertama ini memang kerasa anti-klimaks. Endingnya, es yang pecah itu kenapa bisa jadi salju? Heee… Gue sama Iif, temen gue yang nggak baca bukunya tapi tertarik CoB, cuma ketawa-ketawa aja di akhir film.

Di sisa tahun ini masih ada adaptasi YA yang lain, Ender’s Game dan The Catching Fire. TCH sih gue percaya bisa sebagus sebelumnya. Kalau EG, gue kayaknya baca bukunya dulu deh. Terus bakal ada juga Divergent (yang juga bakal bersekuel). Gue berharap adaptasi-adaptasi yang selanjutnya ini dikerjain dengan serius dan beneran. Ya bikinlah film yang bisa dinikmati semua penonton, bukan isi fandom doang.

Bogor, 26/8/13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s