buku / Resensi

Rencana Besar

Gue nemu buku Rencana Besar nggak sengaja ketika lagi patroli di toko buku. Waktu itu gue lagi cari sebuah buku, eh nggak sengaja nemu ini. Biasanya gue mikir panjang untuk beli thriller lokal, tapi karena temanya ‘penggelapan‘ atau fraud, gue nggak mikir dua kali untuk bawa pulang (setelah dibayar). Gue memang lagi cari buku-buku tema begini si, terutama yang lokal, dan nemu buku ini berasa jodoh gitu. #halah

Kebangkitan thriller lokal (non-romansa) kayaknya dimulai sejak Tere-Liye menelurkan Negeri Para Bedebah. Novel tersebut kerasa fresh banget di tengah gempuran novel-novel bertema romansa dan motivasi. Sampai kemudian kayaknya banyak bermuncul yang nyerempet-nyerempet thriller gitu. Tapi yang gue amati lebih banyak yang ngebahas tentang konspirasi (dan itu malesin banget, kecuali didukung data ilmiah yang beneran).

Rencana Besar ini ditulis oleh Tsugaeda dan jadi novel pertama beliau. Diterbitkan baru-baru ini (karena gue nemu di tumpukan New Arrival) oleh Bentang Pustaka. Kayaknya Bentang Pustaka memang lagi demen nerbitin gituan, judul lain yang udah keluar, yaitu Jacatra Secret dan Koin Terakhir.

Jadi, kisah Rencana besar ini berkutat pada hilangnya uang Rp 17 Milliar dari Universal Bank of Indonesia secara tiba-tiba. Makarim diminta oleh Wakil Direktur UBI untuk menyelidiki tiga nama yang dicurigai terlibat, yaitu Rifad, Amanda, dan Reza. Ketiganya adalah pegawai-pegawai teladan dan cerdas dari UBI cabang Jawa Timur.

Makarim pun menyelidiki ketiganya, tetapi dari data-data yang dia kumpulkan, Makarim malah menemukan fakta-fakta yang sengaja disembunyikan. Angka fantastis yang menjadi jumlah uang hilang di UBI merupakan petunjuk yang merujuk pada nama lain, Ayumi Pratiwi. Namun, Ayumi tidak bisa dimintai keterangan lagi karena sudah meninggal dunia. Lalu apa hubungan Ayumi dengan penggelapan tersebut?

Penyelidikan Makarim terus membuahkan hasil. Kematian Ayumi ternyata terjadi dengan tidak wajar. Reza merupakan salah satu saksi mata yang bertemu Ayumi sebelum meninggal, begitu pula wakil direktur. Semua hal yang terjadi mengarah pada unjuk rasa besar-besaran pegawai UBI yang diadakan 1 Mei 2012.

Akan tetapi, ke manakah uang Rp 17 Milliar tersebut?

Jawabannya… bisa dibaca di buku Rencana Besar.

Gue suka buku ini. Ceritanya asik dan cukup seru. Plot dan alurnya juga rapi. Meski temponya, gue ngerasa masih agak lambat, karena memang banyak banget penjelasan ini dan itu. Jadi, sering kali gue lost focus ketika baca, apalagi ketika baca kebayang-bayang Doctor Who season 5 yang belom ditamatin.

Novel ini perbankan banget. Tentang kehidupan bankir-bankir muda. Kan biasanya, novel chicklit tuh yang banyak pakai latar begini, sekarang dikasih sudut pandang lain deh. Banyak banget juga istilah-istilah perbankan di dalemnya. Dijelasin sih, istilah-istilah itu tentang apa. Juga, nyangkut-nyangkut tentang ekonomi gitu deh. Lumayan bikin mikir juga sih penjelasannya untuk orang non-perbankan dan cuma ngerti ekonomi tingkat ecek-ecek kayak gue. Cuma gue masih bisa ngikutin lah, lumayan banyak nambah ilmu.

Cara bercerita si penulis lugas dan cowok banget. Mungkin karena buku pertama (dan thiller) banyak hal yang kerasa kayak di-show doang. Nggak kerasa feel-nya gitu. Tapi, untuk novel thriller ya segitu cukup sih. Kayak, adegan pas Amanda nangis. Ya, jadinya gue tahu dia nangis aja, udah, nggak ada simpati sama sekali. Gue rasa sih numbuhin simpati ke karakter itu perlu banget untuk pembaca cewek.

Paling yang gue agak ngerasa gimana gitu adalah penamaan karakternya. Makarim, Agung, Reza, Rifad, Harmawan, Syahputra. Duh, kerasa jadul banget. Ya, sebenernya bukan masalah besar juga sih. Kalau kata Shakerspeare kan ‘apalah arti sebuah nama‘, tapi tetep nama itu penting. Apalagi untuk cerita yang latarnya urban gitu. Ngasih nama tokoh dengan nama yang charming, bikin beda feel-nya ketika baca. Coba Makarim diganti Mahendra. Beda kan rasanya? Mahendra, walaupun om-om tapi bakal kerasa lebih ganteng dan gagah. *oke itu, tadi komplain gue sebagai cewek, haha*

Pendeksripsian karakternya juga kurang terasa. Paling Amanda aja yang kerasa betul kecantikannya. Sisanya, Reza, Rifad, Om Makarim, ya gitu-gitu aja. Kerasa dua dimensi aja, kurang manusiawi. Bener-bener kerja di bank mungkin bikin mereka jadi robot.

Oh ya, cerita ini nggak ada humor-humornya sama sekali. hiks… Serius terus dari awal sampai akhir.

Secara keseluruhan, novel ini menarik dan terasa fresh. Karena latarnya di Indonesia, kasusnya jadi kerasa deket dan realistis aja. Kalau yang terjebak di dunia perbankan dan suka thriller, mungkin ini bisa jadi bacaan yang oke (dan menghibur). Kalau pembaca yang non-perbankan dan haus thriller lokal, wajib deh beli ini.

Gue harap sih kak Tsugaeda bakal nulis novel lagi. Thriller yang lebih seru daripada ini. Kalau beliau nulis lagi, gue udah pasti bakal beli dan baca sih.πŸ˜€

Bogor, 16/9/13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s