buku / Resensi

Memento (novel)

(sumber: goodreads)

Gue beli Memento karena terkesan dengan novel pertama Wulan Dewatra yang berjudul Hujan dan Teduh. Di situ, ia piawai banget mengolah tema yang nggak biasa jadi enak dibaca dan menegangkan! Novel ini udah terbit beberapa bulan lalu dan gue baru sempat beli akhir pekan lalu. Gue baca Memento hanya dalam satu jam setengah, tanpa nyekip satu halaman pun (rekor baru buat gue! *angkat miruvor*). Memento ini diterbitkan oleh GagasMedia.

Memento bercerita tentang hidup Shalom, cewek berumur 23 tahun yang menyandang status anak angkat. Meski selalu diperlakukan baik dan seperti anak sendiri oleh keluarganya, Shalom tumbuh tanpa bisa mengabaikan orang-orang yang merendahkannya. Setiap kali ada orang yang meremehkannya, Shalom akan membalas lebih kejam. Contohnya adalah Astari, kakak tingkat semasa kuliah yang pernah mengejek hasil desainnya. Shalom yang awalnya bekerja sebagai desian grafis akhirnya keluar dan pindah ke perusahaan tempat Astari bekerja. Dengan cepat, Shalom bisa mengalahkan Astari, bahkan diangkat menempati posisi manajerial.

Pada saat bersamaan, rencana pernikahan Shalom yang sudah dekat harus tertunda. Calon suaminya, Harmein, meninggal dunia di meja operasi karena kelainan katup jantung yang nggak pernah diketahui Shalom. Bukan hanya itu yang membuat hidupnya kacau, tetapi juga mantan kekasih gelapnya, Wirya, yang memburu-buru Shalom. Wirya memutuskan tunangannya demi Shalom, tetapi ternyata Shalom lebih memilih Harmein. Ketika Harmein akhirnya meninggal, Wirya pun memaksa Shalom untuk menikah dengannya. Shalom menolak, tetapi Wirya selalu punya cara untuk muncul tiba-tiba di depan Shalom. Terakhir kali dia hadir di apartemen Shalom, sempat menghajar Shalom sampai terluka dan hampir saja memperkosanya kalau saja Dika, adik Shalom datang.

Bapak akhirnya menyuruh Shalom pindah ke tanah pertanian yang sudah dihadiahkan jadi milik Shalom di sebuah kota kecil. Shalom pun mengikuti saran bapak untuk menghindar dari Wirya yang sedang di penjara. Di kota kecil tersebut Shalom mengelola pertanian organik serta peternakan. Dia bertemu dengan Elgar yang merupakan salah satu anak dari langganannya. Keduanya menjalin hubungan, tetapi ibunda Elgar tidak menyetujui karena Shalom hanya anak angkat. Tekad bulat plus cinta yang kuat pun membuat mereka memutuskan untuk menikah diam-diam, tanpa restu dari ibunda Elgar dan Bapak Shalom.

Pernikahan mereka berjalan baik sampai Elgar bertemu dengan Kinanti, teman semasa SMA. Elgar terlibat cinta lama bersemi kembali dengan Kinanti dan berusaha menyembunyikannya dari Shalom. Elgar bahkan sampai meminta perpisahan dengan Shalom karena hubungannya dengan Kinanti tersebut. Namun, tanpa disangka-sangka, Wirya yang sudah keluar dari penjara muncul dan kembali memburu Shalom. Wirya muncul di rumah Shalom, kembali melakukan kekerasan serta memperkosa Shalom.

Untungnya Shalom cepat ditemukan oleh Elgar. Shalom koma beberapa hari, hingga akhirnya Elgar memutuskan untuk menghentikan alat-alat penyokong kehidupan Shalom, eh mendadak Shalom membuka mata dan sadar dari koma. Hubungan Shalom dan Elgar kembali membaik, mereka pun nggak jadi berpisah.

Gitu ceritanya…

Waktu baca prolog, gue kira novel ini bakal berdarah-darah karena adegan pembukanya udah thriller banget dan ada kata-kata ‘membunuh’ segala. Namun ternyata… adegan yang gue harap-harapkan itu nggak ada.

Gue juga nggak ngerti adegan prolog itu ngacu ke mana. Mungkin gue yang kelewatan detail atau gimana? Jelas itu bukan Wirya, Harmein, Elgar, atau Dika. Terus yang saling mau bunuh itu siapa? Gue pikir si penulis pakai trope ‘bookends‘ alias naro adegan di awal yang bakal disambung di akhir, macam film-filmnya Christopher Nolan gitu. Tapi, sampai epilog gue sama sekali nggak nemu adegan itu terkait di mana.

Yang bikin gue terusik selama baca juga tentang latar. Dari awal si penulis konsisten nyebut kota kecil, kota kecil, kota kecil. Di tengah mulai ngeluarin klue kota jawara-pantai sawarna. Di akhir-akhir baru nyebut: SERANG. Si Elgar bilang Serang ini panas, terus di mana sebenarnya letak lahan pertanian organik dan peternakan (terutama sapi perah) punya Shalom ini? Setahu gue pertanian organik untuk sayuran dan peternakan sapi perah itu letaknya di tempat yang sejuk (CMIIW!). Atau mungkin gue yang nggak teliti sampai kelewatan klue penting yang nunjukkin posisi si kota kecil tersebut?

Terus kota kecil dan ibu kota. Serang itu ibu kota Banten kan? Terus di mana kota kecilnya? Elgar sering bilang kalau kota kecil mereka itu sepiiiiii (banget), tapi gue nemu deskripsi kalau dari rumah si Shalom ini sampai tengah malem kedengeran terus suara seliweran mobil. Dan… kalau dari deskripsi kota kecilnya itu dan kegiatan yang bolak-balik ke pertanian serta pantai… pakai city car macam Visto, gue nggak bisa bayangin. Kota kecil di Indonesia, apalagi akses ke pesisir, biasanya kan jalannya jeleeeeeeek. Terminal Serang aja jalannya belegok-belegok di gitu padahal bus besar lho yang lewat (dulu), apalagi kalau sampai ‘ke kota kecil’.

Yang mungkin kota kecilnya bukan di Serang atau Lebak. Mungkin di antara Leuwiliang – Lebak. Gue pernah ke Banten lewat jalur situ, masih banyak hutan (kalau sekarang belum jadi sawit ya).

Oke, selesai dengan uneg-uneg gue. Terlepas dari logika, gue suka banget cara Wulan nulis di sini. Pilihan diksinya cakep. Belum lagi cara dia nyusun plot dan alur yang bikin ceritanya kerasa tegang. Bikin gue betah banget bacanya.šŸ˜€

Kovernya juga gue suka. *kasih jempol lagi*

Bogor, 23/9/13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s