buku / Resensi

Timeless Love

timeless love

timeless love

Judul: Timeless Love

Pengarang: Nurmala Shahrazad

Penerbit: Qanita (Okt, 2013)

Timeless Love bercerita tentang Lika, remaja yang sering gonta ganti pacar. Ia melakukan itu karena benci pada ayahnya uang pergi tanpa pesan sejak umurnya lima tahun. Meski Lika benci setengah mati, hal tersebut nggak pernah terlihat pada Mama dan kakak sulungnya, Liya. Suatu hari, Lika dan mama bertengkar karena Lika menjelek-jelekkan papanya. Ketika sedang menangis di loteng, tiba-tiba lotengnya ambruk dan Lika terlempar ke masa lalu.

Di masa lalu, Lika/Arum ditemukan pingsan di hutan oleh Bu Lastri (neneknya), ayah dari Panji (ayahnya). Lika tahu bahwa Panji terlibat cinta diam-diam dengan Sekar (mamanya sekarang), anak pengusaha sepatu. Hal tersebut terjadi karena Pak Sastro, ayah Sekar, nggak merasa Panji bisa memberikan kehidupan yang layak bagi Sekar. Panji hanyalah buruh di pabrik sepatu Pak Sastro. Sementara itu, Sekar juga sudah dijodohkan dengan Damar, anak pengusaha mebel yang juga sahabat Panji.

Menjelang hari pernikahan, Sekar sakit keras. Panji yang hendak merantau ke Jakarta, dijemput oleh Damar dan Lika/Arum dan dibujuk untuk menemui Sekar. Akhirnya, Panji mau, meski sesampainya di rumah Sekar, ayah Sekar mengusir Panji. Tetapi, dengan bujukan Ibu Sekar, akhirnya Panji diperbolehkan bertemu Sekar.

Setelah itu sakit Sekar makin menjadi-jadi, akhirnya Pak Sastro pun dengan berat hati memberi restu kepada Panji dan Sekar. Mereka berdua pun menikah. Di hari pernikahannya, Lika sempat ingat papanya yang pergi dan hampir menggagalkan pernikahan itu. Tetapi usahanya dihalangi Damar.

Sehabis kejadian itu, barulah Lika tahu kalau Damar menyukainya. Ia nggak mau menikahi Sekar karena memang Sekar nggak mencintainya dan nggak mau menyakiti Panji, sahabatnya.

Panji dan Sekar sempat tinggal sementara di rumah Panji. Orang tua Sekar masih nggak rela anaknya hidup miskin dan terus merecoki. Akhirnya, Panji dan Sekar pindah ke Jakarta, bersama Damar. Sepulang dari stasiun kereta, Lika membaca surat pemberian Damar. Tetapi, belum selesai membaca, angin menerbangkan surat tersebut. Saat mengejarnya, tubuh Lika diterjang mobil yang lewat.
Lika terbangun di rumah sakit di masa sekarang.

Di tengah-tengah tidaksadarnya, Lika melihat kakeknya (Pak Sastro) yang mengusir papanya dari rumah. Selama ini kenyataan itu disembunyikan oleh mama dan kakaknya. Ketika kakeknya datang, Lika menodong kakeknya untuk bicara yang sebenarnya. Lika marah kepada kakeknya, tapi justru malah mamanya yang kemudian kecewa kepada Lika. Akhirnya, mengecek ponsel mamanya dan menemukan kenyataan kalau mama masih berkontak dengan papanya. Lika pun menhubungi papanya lewat ponsel mamanya. Keesokan harinya, papanya benar-benar datang, Lika pun bertemu lagi dengan papanya.

Di akhir, datang keluarga Damar ke rumah Lika. damar udah nikah dan punya dua anak, salah satunya seumuran Lika.

Ini buku yang sekali duduk baca langsung habis. Bukunya tipis (nggak sampai 200 halaman), ukuranya kecil (pocket), dan font-nya gede-gede. Kisahnya sendiri serta cara berceritanya nggak terlalu rumit. Nggak terlalu mendetail macam-macam.

Tetapi, gue mau ngereview bagian time-travel-nya aja ya. Memang sih time-travel bukan major issue di cerita ini. Tetapi penting banget karena dari perjalanan yang dilakukan si Lika inilah terungkap cerita ini dan itu.

Dalam cerita ini, time-travel-nya nggak terlalu detail. Sekadar pop-hilang dan pop-muncul kembali. Metodenya standar dengan jatuh dari atap kemudian kebangun karena benturan hebat. Selain itu, nggak terlalu dijelaskan.

Bahkan efek dari time-travel itu sendiri nggak kelihatan di masa depan. Cuma Lika aja yang dapet jawaban dan bisa menuntut kebenaran ke orang-orang di sekitarnya. Mestinya ini stable time-loop, tapi kayaknya penulisnya nggak mau memusingkan untuk bikin event di masa lalu yang kena efek kedatangan si tokoh dan ada dampaknya di masa depan. Damar yang pernah terkait dengan si karakter aja ngerasa nggak ingat sama sekali (ya mungkin itu juga karena efek udah lama nggak ketemu). Dan mungkin ketiadaan dampak itu karena lokasinya yang berbeda, Jakarta dan Salatiga.

Secara psikologis, ketika si Lika ini kelempar ke masa lalu juga nggak terlalu kelihatan. Agak aneh aja dia langsung bisa beradaptasi dengan kehidupan masa lalu. Bok, anak SMA sekarang gitu lho, gimana bisa jauh-jauh dari internet, apalagi dia tinggal di Jakarta, cukup gaul dan banyak pacar. Gue rasa–kelempar ke masa antah berantah, terlebih remaja pasti ada perasaan takut, parno, dsb.
Kecuali si Lika pergi ke masa lalu sama si Doctor, bisalah dia bersikap biasa-biasa aja karena selalu ada Doctor yang akan menyelamatkan. Hah!

Budaya tahun 80-annya juga nggak terlalu kental di sini. Mungkin karena latarnya bukan di kota besar. Jadi, nggak terlalu terpengaruh dengan model rambut mengembang, legging warna-warni, varsity jacket, Lupus, breakdance, dan segambreng ke-80an.

Yang jadi perhatian gue juga, latar Jakartanya. Ada di salah satu dialog si karakter nyebutin ‘Mall Ciputra Cijantung’ dan gue mikir lama di mana itu. Dari 200an mall di Jakarta, itu nyata atau fiksi? Latar belakang keluarga si karakter dari yang gue tangkep berkecukupan (sampai kakaknya bisa sekolah di luar negeri), tapi kok… *balik lagi ke mall*. Gue lebih suka kalau dia nyebut Grand Indonesia kek atau Plasa Senayan kek. Atau nggak usah nyebut nama sekalian.🙂

Bogor, 26-10-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s