anime / film / Resensi

Voices of a Distant Star

Long distance relathionship itu biasa, tetapi kalau super-long distance relationship?

Voices of a Distant Star (VoaDS) adalah film animasi pendek yang digarap oleh Makoto Shinkai. Gue kenal beliau dari karyanya yang berjudul Byousoku 5 Centimeter (5 Centimeter per Second) dan langsung jadi penggemar! VoaDS diproduksi tahun 2002, ditulis, diproduseri, dan disutradarai oleh Makoto Shinkai. Eh, dia juga jadi salah satu pengisi suara dalam film pendek ini.

Kisahnya tentang Noburo dan Mikako yang saling dekat. Mikako ini kemudian direkrut untuk jadi pilot mecha gitu, Tracer, dan ikut dalam ekspedisi ke luar angkasa. Ekspedisi itu dilakukan untuk menumpas alien yang disebut Tarsians.

Dalam perjalanan yang dilakukan Mikako ini, dia masih sering mengirim email untuk Noburo, meski sampainya dalam waktu lamaaaaaaaaaaa banget. Iya, dari Sirius ke Bumi menempuh waktu 8 tahun untuk kirim satu email. Ugh, bikin gue patah hati amat sangat.

Ini ceritanya begitu aja sih, khas Makoto Shinkai. Ditambah flashback di sana-sini. Pokoknya kalau udah pernah nonton karyanya MS bakal familier dengan cerita, plot, dan alurnya. Di VoaDS, banyak adegan yang bikin inget ke chapter 2 ‘Cosmonaut’ di Byousoku 5 Centimeter. Entahlah, karakternya pun ngingetin sama Sumita dan Takaki.

Kualitas gambar dari VoaDS ini belum seapik Kotonohan no Niwa dan Byousoku 5 Centimeter. Tapi, banyak hal yang khas MS banget deh. Perlintasan kereta api, salju, langit yang berwarna-warna, dan hujan. Ditambah musik latarnya dikerjakan oleh Tenmon, yang juga ngerjain Byousoku 5 Centimeter. Lupain kualitas gambar, musik dan ceritanya udah cukup banget bikin terhanyut.

Dari tiga film MS, semua punya tema yang sama, cinta pertama yang nggak bisa bersama. Selalu ada perpisahan di tiga film yang gue tonton itu. Sedih dan indah pada saat bersamaan. Film ini gue rekomendasiin banget buat yang pernah nonton karyanya Makoto Shinkai atau suka kisah cinta yang berbalas tapi tak bisa bersama.

Perpisahan karena jarak yang bikin yakin nggak akan ketemu lagi, itu salah satu perpisahan paling pahit. Di suatu tempat, kita tahu dia ada, tetapi nggak bisa menjangkaunya.

Bogor, 30/10/13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s