buku / Resensi

Lampau

2013-11-24 07.37.41-1

Lampau ini adalah bagian dari #gagasdebut karya Sandi Firly. Ini pertama kali gue baca karya beliau. Selesai bacanya sih udah bulan lalu, tetapi mendadak pagi ini gue kepikiran terus untuk bikin reviewnya.

Lampu bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Ayuh, putra dari seorang Balian (dukun) perempuan di Suku Dayak Meratus. Kisahnya sendiri tentang gimana Ayuh berusaha sekolah dan ngeliat dunia luar yang tadinya cuma dia kenal dari buku-buku milik Amang-nya (paman). Hingga Ayuh selepas SD akhirnya memutuskan untuk masuk pondok pesantren, meski tidak beragama islam hanya untuk mendapatkan pendidikan gratis. Namun, masa sekolah Ayuh tidak berjalan baik karena ada teman sepesantren yang tidak menyukainya dan memfitnahnya.

Ayuh pun pergi dari pesantren, luntang-lantung, dan kemudian sampai dengan tidak sengaja ke Jakarta. Di sana Ayuh sempat bekerja sebagai preman, sampai akhirnya berakhir menjadi seorang penulis dan benar-benar memeluk agama islam.

Gue suka cerita ini. Suka gaya menulis Sandi Firly. Meski formula ceritanya nggak jauh beda dengan buku-buku sejenis, latar belakang budaya Dayak Meratus itu menarik banget.

Kisah ini kayak dibagi ke dua bagian. Bagian Ayuh kecil sampai SD, dan ketika akhirnya dia masuk pesantren dan merantau ke Pulau Jawa. Ceritanya sendiri dibuka dengan surat dari Ibu Ayuh yang menyuruhnya pulang. Ada pergolakan batin pada Ayuh yang sudah meyakinkan diri untuk memeluk agama islam dan ketika Ayuh diminta untuk melakukan ritual Balian bagi Ibunya. Oh ya, karena Ayuh ini anak Balian dia dianggap punya kemampuan sebagai Balian juga.

Satu hal lagi yang membuat gue paling tertarik dengan cerita ini adalah sublot tentang ayah Ayuh. Sejak kecil, Ayuh nggak pernah mengenal ayahnya. Ibunya pun enggan dan selalu menolak membahas. Hanya dari Amang, Ayuh mendapatkan cerita tentang ayahnya. Ayahnya yang memberi buku-buku kepada Amang, ayahnya yang bukan orang Dayak Meratus, dan ayahnya yang saling jatuh cinta dengan ibunya. Di bagian akhir, akhirnya terkuak rahasia kenapa ayah Ayuh pergi meninggalkan ibunya.

Kakek Ayuh terlibat hutang kepada seorang rentenir, si rentenir itu mau menghapus hutan kakek Ayuh asalkan anak laki-lakinya dinikahkan dengan ibu Ayuh. Ibu Ayuh awalnya tidak nggak, tetapi nggak kuasa menolak. Bersama Amang, dia menyusun rencana. Rencana itu berjalan baik, ibu Ayuh berhasil berpisah dengan suaminya yang nggak baik budi itu, dan utang ayahnya dihapus. Ibu Ayuh pun akhirnya menikah dengan ayah Ayuh, tetapi ayah Ayuh kecewa karena tahu ibu Ayuh sudah pernah menikah. Akhirnya, dia pergi.

Gimana Sandy Firly membeberkan rahasia tentang ayah Ayuh sedikit-sedikit itu cakep banget. Gue penasaran sampai akhir kenapa ayah Ayuh pergi dan akhirnya tahu juga. Gue pikir sosok itu bakal muncul nantinya, jadi semacam deus ex machina, tetapi nggak. *kasih jempol* Tapi malah gue yang penasaran abis sama ayah Ayuh ini, deksripsinya ganteng sik.😀

Bagian pertama dari cerita ini lebih menarik daripada bagian keduanya. Hubungan Ayuh dan Amangnya ini lucu banget. Gue suka mereka berdua. waktu mereka sama-sama jatuh cinta tuh, lucuuuuuu. Gue harap malah sebuku isinya cerita mereka berdua aja. Keduanya tuh kayak partner in crime. Hahaha…

Gaya nulis Sandi Firly juga jempolan. Rasa bukunya tuh cowok banget. Tegas. Rasanya tuh kayak lagi denger temen cowok cerita aja. Ya, karena beliau juga cowok sih. Hahaha… tapi, bener, gue suka banget.

Bagusnya, buku ini nggak kejebak kayak cerita sejenis yang penuh pesan moral. Plotnya yang kompleks. Karakter-karakternya yang manusiawi, bikin ceritanya kerasa dekat. Dari aksi-reaksi karakter-karakter itu justru malah banyak pelajaran yang didapet. Apa yang kita anggap benar, belum tentu buat orang lain. Jujur itu perlu, tetapi cerdik adalah segalanya.

Oh ya, mungkin yang agak mengganggu bagian flashback di belakang yang lupa diubah font-nya. Jadi, nggak seragam dengan bagian depan.

Gue nggak akan ragu untuk bilang ini salah satu buku lokal favorit gue tahun ini. Buku ini bagus dibaca buat yang suka kisah hidup yang dekat dengan hidup sehari-hari, perantauan, keluarga, dan tentunya Dayak Meratus.

Kutipan:

“Kelak aku pahami, pelajaran pertama bagi seorang peminjam buku yang baik adalah tidak baik menolak sebuah buku yang direkomendasikan oleh sang peminjam. Sebab bila kita menolak, bisa-bisa menyinggung perasaannya, dan seakan-akan tidak percaya kalau buku itu bagus.”

hlm. 41

“Kalaupun aku memang punggung yang merindukan bukan, itu tak mengapa, Ayuh. Itulah mimpi. Kadang mimpi ada yang sulit bahkan mustahil untuk dicapai. Namum mimpi itu sering kali membuat kita bahagia. Mimpi yang indah. Bulan yang indah, dan pungguk adalah burung yang berani bermimpi mengharapkan bulan walau pasti ia tak mungkin terbang hingga ke bulan. Tapi setidaknya ia tetap bisa menikmati bulan. Bukankan itu juga sesuatu yang membahagiakan?”

Amang Dulalin ke Ayuh, hlm 79

“Memilikimu dalam angan-angan adalah sebuah kebahagiaan, sebuah keistimewaan. Bukankan di sana tak seorang pun layak menilai apakah aku pantas atau tidak bersamamu?”

Surat Amang Dulali ke Anna, hlm 119

24/11

3 thoughts on “Lampau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s