film / Resensi

Shame

“Try doing something, actions count not words.”

SHAME-Teaser-Poster

Gue denger judul film ini ketika orang-orang mulai membicarakan Steve McQueen dan 12 Years a Slave-nya. Shame diproduksi tahun 2011 dan disutradari oleh beliau. Ini adalah pengalaman pertama gue berinteraksi dengan film garapan beliau. Dan akhirnya, bikin gue pengin cepet-cepet nonton 12 Years A Slave juga.

Selain karena nama besar dan familier yang membintangi film ini, gue juga tergoda karena film ini ikut festival di mana-mana, termasuk yang diperbincangkan untuk dapat nominasi Oscar juga dari review-review. Jadi, gue makin penasaran dan pengin tahun tentang ini. Selain, ingin tahu apakah Benedict Cumberbatch di 12 Years a Slave diarahin sama orang yang tepat (haha!)

Oleh MPPA film ini dirating NC-17. Kalau menurut gue sendiri, 21 tahun ke ataslah. Bukan berat ke adegan seks, tapi muatan ceritanya sendiri.

Shame bercerita tentang Brandon (Michael Fassbender) seorang pekerja kelas menengah di New York. Dia ganteng, kharismatik, punya kerjaan yang bagus, dan tentunya flat sendiri. Di balik semua kehampirsempurnaannya itu, dia adalah maniak seks. Nggak bisa hidup tanpa seks, bahkan semalam aja. Kemudian muncul adiknya, Sissy (Carey Mulligan), yang baru putus dari pacarnya. Sissy ini penyanyi di club gitu dan dia minta tinggal dengan Brandon.

Kecanduan seks yang dialami Brandon bikin dia susah berhubungan dengan orang lain, kecuali untuk urusan seks. Dia tertarik sama Marianne, temen sekantornya. Mereka sempat keluar bareng, makan malem, dan jalan pulang ke rumah bersama. Brandon keliatan nikmatin itu. Besoknya, dia ngajak Marianne untuk ikut sama dia ke sebuah kamar hotel yang disewanya. Mereka hampir berhubungan seks, sampai Brandon berhenti sendiri, dan nggak bisa nerusin.

Di rumah, Sissy mergokin Brandon yang lagi masturbasi. Kemudian, Brandon marah kepada adiknya itu. Bukan cuma marah karena itu, tapi juga karena Sissy tidur bareng bosnya. Brandong menuduh Sissy sebagai orang yang nggak bisa hidup mandiri. Sissy bilang mereka keluarga dan seharusnya keluarga saling nolong satu sama lain. Setelah bertengkar, Brandon ngusir Sissy dari rumahnya. Brandon ngeberesin semua barang-barang pornonya, dari majalah, sampai laptopnya yang biasa dia pakai untuk web-cam bareng pelacur.

Gue suka film ini. Bukan karena bisa ngelihat Fassbender yang ganteng banget itu bugil, tetapi lebih ke ceritanya sendiri yang manusiawi banget. Alur ceritanya memang lambat–serius, lambat banget. Tetapi, aktor-aktor di dalam film ini bikin itu nggak terasa. Ekspresi demi ekspresi itu yang bikin film ini hidup banget. Adegan ke adegan juga terasa enak perpindahannya, halus, juga sinematografinya bagus! Dialognya juga nggak terlalu banyak. Juga, musik latar yang dipilih, itu bikin hanyut… suka banget!

Yep, hanyut, itu yang pas buat film ini. Yang bikin betah ngikutin cerita dua anak manusia *halah* dengan masalah mereka sendiri-sendiri. Awalnya memang agak risi melihat adegan seksual di mana-mana, tapi kemudian itu nggak penting lagi.

Cuma karena alurnya terlalu lambat dan menghanyutnya, bisa jadi jerat. Akhirnya, cuma fokus ke Fassbender, atau bener-bener nerima maksud yang disampaikan ceritanya. Karena gue pribadi ngerasa gitu, Fassbender yang ganteng banget itu distraksi buat fokus ke cerita. Gue jadi mikir lama di akhir. Iya, mikir… ngerti nggak sih gue sama cerita Shame ini?

Akting Fassbender keren banget di sini *angka topi*. Dia keliatan manusiawi banget, setelah gue nonton dia di X-Men First Class dan Prometheus (yang bikin gue benci dia setengah mati). Suka banget ketika adegan dia bareng Marianne pulang makan malam. Sweet dan hangat banget. Nggak ada adegan seks, cuma ngobrol, jalan, saling ngelempar jokes. Dan, fashion stylist buat Fassbender di film ini, sekali lagi gue angkat topi. Dia bener-bener kelihatan perfect. Cakep abis. Charming dan kharismatik. 

fassbender

Gimana bisa nolak cowok kayak gini coba? Dan gue cinta scarf-nya!

Carey Mulligan sendiri kerasa beda betul dengan di The Great Gatsby. Di sini, dia lebih nakal dan berani. Lebih rebel dan depresi. Pokoknya beda, tetapi tetep khas Carey yang imut-imut banget. Ada adegan dia nyanyiin New York New York-nya Frank Sinatra, dan gue… mengakui suka.

Akhirnya, cerita ini nggak bakal bikin kamu horny–ini bukan film bokep. Tetapi, renungan, kalau setiap orang… gimanapun bagusnya di luar, ada aja masalah di dalemnya yang nggak kita tahu. Perjuangan tiap orang ngatasin masalah itu beda-beda.  Mungkin, malah kamu bakal ngerasa lebih beruntung, karena nggak perlu kecanduan seks seperti Brandon atau nyoba bunuh diri berkali-kali kayak Sissy.

Ya, hidup.

“We’re not bad people. We just come from a bad place.”

30/11

2 thoughts on “Shame

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s