buku / Resensi

Dance for Two

image

Ini karya kedua Tyas Effendi yang gue baca. Karya pertamanya, Catatan Musim, bagus sih, tapi yang bikin gue gemes banget cuma bagian latar Bogor-nya. Errr…

Novel ‘Dance for Two’ ini diterbitkan oleh GagasMedia tahun 2013. Kovernya cantik dengan warnanya yang lembut. Huhuhu… Suka deh.

Dance for Two berkisah tentang Satya (Caja) dan Al. Satya ini penggemar rahasia Al dari Kopenhagen hingga ke Yogyakarta. Jadi, ceritanya ya bagaimana usaha-usaha Satya ini sampai bisa akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada Al.

Gimana coba caranya? Nulis novel ‘Menjemput Cinta di Kopenhagen’. Al yang lulusan Sastra bekerja di penerbit yang menerima naskah Satya. Akhirnya, mereka berhubunganlah, tanpa Al tahu kalau dia sebelumnya pernah bertemu dengan gadis itu.

Yup, yup, ceritanya sesederhana itu aja. Yang bikin gue betah bacanya adalah alur dari cerita ini. Tyas menggunakan sudut pandang dari dua karakter–dua-duanya pakai sudut pandang orang pertama. Cukup bagus kok nulisnya. Cukup kerasa bedanya, karena juga dipertegas dengan pembedaan ‘aku’ untuk Al dan ‘saya’ untuk Satya. Cuma di bagian Al, gue masih ngerasa kurang maskulin sih. Kerasa sopan banget untuk seorang pemuda kayak Al. Dinamika perasaannya jatuhnya jadi kerasa lembut. Ya, mungkin Al memang pemuda yang lemah lembut, sementara gue suka pemuda yang tegas dan apa adanya. *halah

Alur yang dimainkan Tyas cukup bikin gue jinak baca dengan tekun sampai belakang. Di antara narasi-narasi dari Satya dan Al, Tyas nyelipin potongan novel Satya yang sebenarnya adalah cerita tentang proses naksirnya dia ke Al. Nggak ngebingungin kok, meski bahasa novelnya Satya nggak ada bedanya dengan narasi karakter Satya sendiri.

Oh ya, mungkin yang bikin gue senyum-senyum, gimana setiap selesai baca-ngedit satu bab si Al laporan ke Satya. Editor gue aja nggak gitu… hahaha… Ya, mungkin karena ada yang beda dalam hubungan Al dan Satya yaaaa.

Tulisan Tyas ini manis dan lembut. Apalagi kalau lagi naksir diem-diem ke orang, ini bakal jleb banget pas dibaca, terutama bagian-bagian akhir. Ah, ini favorit gue juga, gimana Satya nulis akhir novel ‘Menjemput Cinta di Kopenhagen’. Itu cakep. *kasih jempol*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s