film / Resensi

The Hobbit The Desolation of Smaug (bagian 2)

lanjutan dari review bagian satu.

 

2. Kili dan Tauriel (dan Legolas)

Jadi, setelah melepaskan dwarf, Leggy dan Tauriel bawa salah satu orc ke depan Thranduil. Si Orc ngomongin kekuatan hitam yang bangkit lagi dan perang yang bakal pecah. Si orc juga ngasih tahu kalau si drawf berambut gelap—Kili, bakal mati karena racun di panah morgul.

Tauriel pun akhirnya ngejar rombongan dwarf. Ketika dia sampai di kota Danau pas juga rombongan orc yang memburu Thorin sampai di sana. Akhirnya, mereka sempat saling melawan. Tauriel plus Leggy melawan sekawanan orc. Entah kenapa kota Danau mendadak sunyi senyap gitu kayak nggak berpenghuni—penjaga pada ke mana coba? Ha?

Pas Tauriel sampai di depan pintu rumah Bard, pas dateng Bofur lari-lari bawa kingsfoil/athelas (inget ketika dulu Aragorn nolongin Frodo pakai daun setelah ditusuk Morgul Blade di FOTR?). Dia langsung ngerebut daun itu dari Bofur dengan wajah berseri-seri. Ketika dia ngobatin Kili, mukanya pake bersinar—maksudnya apa sih?

Habis itu Kili ngomong sesuatu ke Tauriel, tentang ibunya kayaknya. Masih berhubungan dengan apa yang mereka bahas di penjara, saat Kili memperlihatkan jimat yang diberikan Dis kepadanya. Tentang janjinya untuk kembali ke ibunya (gue mewek waktu Kili cerita itu).

Untuk Tauriel okelah. Butuh sosok cewek di antara cowok-cowok segambreng. Tapi, kisah cinta? Perlu nggak sih?

Gue terganggu banget dengan motong adegan di bagian akhir, ketika Erebor lagi seru terus diseling dengan adegan berantem Leggy-Tauriel-Orc serta Tauriel nyembuhin Kili. Itu menganggu banget. Karena situasinya itu beda jauh banget—tekanannya itu beda. Jadi, kayak lagi seru kemudian drop. Pret banget deh.

Bagusnya, Kili jadi ngebahas tentang Dis. Selain, diperkuat dengan beberapa momen Kili-Fili-Thorin yang adalah keluarga. Investasi bagus banget yang harus dikembangin pas film ketiga nanti. Awas kalau sampai PJ nggak munculin Dis. Padahal, Dis yang lebih berhak muncul di The Hobbit sik menurut gue, jelas namanya juga disebut di dalam buku, meski cuma sekali.

3. Gandalf & Necromancer

Setelah Gandalf ninggalin rombongan, dia beranjak ke gunung tempat Witch-King dikubur dulunya. Kuburannya udah terbuka. Dan tahu-tahu muncullah Radagast. Mereka berdua pun pergi ke Dol Guldur, tapi sebelum masuk ke Dol Guldur si Gandalf nyuruh Radagast buat pergi nemuin Galadriel.

Porsi Radagast-nya kuraaaang banyaaaak!

Gandalf masuk ke dalam Dol Guldur dan baca-baca mantra, sampai akhirnya Necromancer muncul juga. Bentuknya cuma bayangan-bayangan hitam gitu dengan suara yang nyeremin (Benedict Cumberbatch yang isi). Mereka berhadapan di tengah jembatan. Si Necromancer yang tadinya cuma bayangan hitam berubah jadi api… bola mata api… sosok api. Dan Gandalf pun kalah, ditawan para orc yang ternyata pasukan dari Necromancer dengan Azog adalah pemimpinnya.

Ada dialog tentang sembilan pelayan… setelah gue cari-cari ternyata itu merujuk ke sembilan ring-wraith ya. Sembilan cincin yang dulu dipakai oleh raja manusia. Kayaknya dialog di sini juga banyak yang dipotong deh.

Lagi-lagi di sini juga ngomongin tentang perang.

Gue penasaran gimana subplot ini dikembangin selanjutnya. Lihat Galadriel berantem kan keren juga! Yeah!

Buat yang nggak baca buku-nggak nonton LOTR-nggak tahu sejarah ME, bagian ini rasanya kerasa nggak penting ya. Terpisah dari plot utama. Tapi nanti, pasukan orc ini bakal bermuara di tempat yang sama kok, ketika perang lima pasukan. Apa yang PJ bikin di sini memang cuma jembatan, bisa dibilang kita baru jalan di atasnya, tapi belum sampai ke ujung.

the desolation of smaug

4. Erebor

Bosan dan ngantuk di dua jam pertama? Gue akui, gue beberapa kali nguap kok. Mungkin faktor kecapekan (karena gue nempuh perjalanan dari luar kota demi nonton ini). Tetapi, semua terbayar dengan adegan di Erebor ini.

LUARRRRR BIASAAAAAAA!

Dari awal, ketika mereka berperahu ke arah Gunung Sunyi. Thorin berdiri di bagian depan perahu, menatap ke arah puncak gunung yang berselimut salju. Gue udah ngerasa nyess banget. Gue berulang kali ngomong… akhirnya, akhirnya, akhirnya, mereka sampai ke sana!

Rombongan yang nggak lengkap itu akhirnya nemuin bagian dinding gunung yang diperkirakan tempat pintu rahasia berada. Senja itu, ketika matahari sudah di ujung langit, mereka nunggu… nunggu. Thorin dengan gelisah memegang kunci, mengecek peta, tapi lubang kuncinya nggak kunjung muncul. Sedikit-sedikit, sampai akhirnya cahaya matahari hilang sama sekali. Satu persatu rombongan turun lagi ke bawah, Thorin yang terakhir di antara para dwarf. Gue lihat duka di matanya. Gue lihat kekecewaan ketika menyerahkan map ke Bilbo dan ngebuang kunci. Gue mau nangis waktu itu.

Untunglah ada Bilbo. Dia nunggu dan nginget-nginget pesan dalam peta. Tentang burung murai yang mengetuk-ketuk dan cahaya terakhir di Hari Durin. Pelan-pelan langit tersibak, cahaya bulan jatuh ke permukaan batu. Di antara celah-celah muncullah lubang kunci. Bilbo teriak-teriak, tapi sosok dwarf udah nggak lagi kelihatan. Ketika dia nyari-nyari kunci yang dijatuhin Thorin, hampir aja kuncinya jatuh kalau nggak diinjek Thorin. Gue tahu mereka sengaja dijejerin gitu, kebetulan banget—tapi bener deh ketika Thorin ngangkat kunci dan dwarf lain berjajar di sebelahnya, itu indah banget.

Dia senyum. Dia banyak senyum.

THE-HOBBIT-THE-DESOLATION-OF-SMAUG-EXC-DI-04-1-DI-to-L10

Gue nangis ketika Thorin akhirnya masuk ke dalam Erebor. Dia mengenang dinding-dinding yang dia kenal, ruangan-ruangan yang masih diingatnya, serta lampu-lampu keemasan yang menerangi penjuru Erebor.

Balin menjelaskan tentang Arkenstone, lalu mengantarkan Bilbo melakukan tugasnya.

Gue ikut nahan napas ketika Bilbo sampai ke Balairung Besar. Dan ketika seluruh emas di dalam sana diperlihatkan—astaga, itu sampai tujuh turunan juga nggak bakal habis. *ikut nelen ludah*

Bilbo pun turun pelan-pelan ke bawah, pakai ketuk pintu segala lagi. Haha… Dia mulai nyari Arkenstone sampai pelan-pelan tumpukan emas di dekatnya longsor dan dia lihat mata yang tertutup. Bilbo mundur pelan-pelan. Tapi, di bagian lain ada tumpukan emas yang juga bergerak. Kemudian nggak lama, bangun juga si tua Smaug. Bilbo pun cepat-cepat pakai cincinnya.

Adegan tebak-tebakan pun dimulai, meski nggak panjang. Smaugnya keburu nyembur dan nggak sabar. Sementara Bilbo fokusnya pecah karena harus ambil Arkenstone. Sampai akhirnya, Bilbo buru-buru kembali ke atas lagi. Dia mau balik tapi dihadang Thorin.

Malah akhirnya, bersama-sama Thorin dkk, mereka ngelawan Smaug! HAHAHA INI YANG DITUNGGU-TUNGGU BANGET. YANG NGGAK ADA DI BUKU DAN GUE SENENG BANGET KETIKA ADA DI FILMNYA. INI ADEGAN YANG DIBUTUHIN!

Apalagi ada bagian Thorin berhadap-hadapan langsung sama Smaug. Itu adegan yang bikin gue bener-bener wow. Ketika Thorin di atas mulut Smaug. Itu… bikin HOAH banget! Mereka lawan yang setara, Smaug yang banyak omong dan Thorin yang cerdik.

Smaug benar-benar mengangumkan. Tetapi, adegan di Erebor itu nggak akan lengkap tanpa aksi Thorin. Aksi Thorin di ruang tungku, menyalakan lagi bengkel kerja Erebor… itu bener-bener keren. Luar biasa banget.

Ini adegan yang nggak bisa gue protes. Meski banyak kebetulan-kebetulan. Tapi, bener-bener luar biasa.

Gue pengin lihat Erebor lebih banyak lagi. Tiang-tiangnya yang tinggi. Ruangan-ruangannya. Erebor yang hidup dan dipenuhi banyak dwarf….

Di galeri raja-raja, Smaug berhadapan dengan patung emas Thror yang luar biasa besar. Ketika berhadap-hadapan, itu adegan yang keren banget. Saat Thorin ngomong berdua dengan Smaug. Gue tahu, Thorin memang raja—sosok yang seharusnya jadi King under the Mountain.

Saat patung itu pecah dan Smaug dibanjiri dan tenggelam dalam emas panas. Lalu terbang dengan seluruh badan diselimuti emas. Itu indah banget. Gue ngerasa hidup gue lengkap….

 “I am fire. I am death.”1421120_608845815817694_499529848_o

Dari awal gue nggak mengharapkan film ini setara dengan LOTR. Tentu aja beda banget. Gue pun, sejak tahu ada Tauriel, nggak berharap film ini akan sama persis dengan buku. Dari cerita di atas yang mengusik gue cuma tambalan di sana-sini, beberapa fakta yang dikaburkan (entah karena nggak dapet ‘right’ tentang itu, atau memang menjadikannya teka-teki). Yang dilakukan PJ memang untuk memperbaiki plothole dalam cerita (di buku) dan membuat film ini nyambung dengan LOTR. Usaha beliau udah maksimal. Meski gitu, gue tetep merasa ini agak-agak berasa fanfiksi. Tapi, semua perasaan gundah terbayarkan oleh adegan di Erebor.

Gue suka funny scenes di dalem film ini, yang kebanyakan menyangkut Bilbo, serta Bombur yang kerapkali mencuri perhatian. Itu jadi penghibur di antara peri hutan yang kebanyakan aksi, hahaha…

Thorin luar biasa banget di film ini. Gue nggak bisa benci dia. Karakternya jauh lebih berkembang dari film pertama. Gimana dia lebih bisa memimpin teman-temannya. Gimana kepercayaannya kepada Bilbo jadi lebih besar. Gue inget banget adegan ketika mereka saling pandang saat Bilbo mau ngeluarin Thorin dari penjara peri. Itu salah satu adegan yang bagus banget.

Dan dia ganteng banget di film ini. Rambutnya juga bagus. Iri gue. Haha…

Karakter lain yang mencuri perhatian tentu aja, Bard dan Smaug. Smaug ngeri sih, tapi cerewet. Hahaha… gue membayangkan kalau Glaurung ada, gimana ya? Pasti lebih besar. Lebih gagah, dan lebih ganteng. Karena tampangnya Smaug jelek banget sik. Tapi, dia benar-benar monster. Kejam dan horor. Dengan CGI yang nggak mengecewakan—pun, Smaug sendiri punya ekspresi, terutama songong yang kelihatan banget. Smaug lebih hidup kayak gitu tentu karena Benedict yang milih untuk mo-cap. Yup, good job, kak!

Gue menyadari kalau banyak adegan yang dipotong demi adegan Erebor ini nggak kena potong dan bisa maksimal porsinya. Ya, itu sama sekali nggak mengecewakan. Karena emang keren banget!

Adegan Erebor memang favorit gue dari dua film yang ada, meski gitu THAUJ lebih bisa menyentuh gue. Ya, memang sebuah film yang diadaptasi dari buku nggak akan bisa memuaskan semua orang. Tentang film ini sendiri, gue memang nggak begitu sreh, tapi tetep suka. Jelas gue akan nonton 2-3 kali lagi, untuk Thorin dan adegan Erebor. Tentunya gue juga nggak sabar nunggu setahun lagi untuk bagian ketiganya, sedih rasanya menyadari akhirnya cerita ini harus berakhir.

Sampai jumpa di The Hobbit There and Back Again pada Desember 2014!

sumber foto: thorinoakenshield.net; @thehobbitmovie

buat temen-temen yang pengin tahu lebih banyak tentang Middle-Earth bisa gabung di grup FB https://www.facebook.com/groups/eorlingas/ atau twitter di @Eorlingas_ID.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s