buku / Resensi

The Fault in Our Stars

“That’s the thing about pain. It demands to be felt.”

2014-01-01 08.28.25-1

Huhuhu… harusnya gue ngereview buku ini dua bulan lalu, karena buku ini adalah bacaan Reight Book Club bulan Oktober.  Gue memang mulai bacanya udah rada deket tenggat, dipikir bakal selesai ternyata banyak hal yang bikin tertunda (alasan aja sih… haha). Sebab waktu itu harus ngerjain beberapa naskah dan nggak bisa baca buku sejenis dengan naskah yang dikerjain, makanya tertunda. Maaf atas keterlambatannya ya, temen-temen Reight.

Jadi, The Fault in Our Stars ini adalah buku pilihan Dwi. Sebenarnya pilihannya yang terjemahan, tetapi karena gue punyanya yang versi hardcover dari Dutton, maka itulah yang gue baca. Dan ketika baca lagi ini, artinya gue baca yang kedua kali.

Pertama kali baca di awal 2013 dan kedua kali di akhir 2013. Kerasa aja bedanya. Ketika pertama baca–gue rada-rada tersesat gitu sih. Kedua kali, lebih nyaman–mungkin karena enggres gue udah bagusan dikit.

Banyak yang bilang cerita ini terntang kanker. Yap, kanker memang isu terbesar dalam buku ini. Tapi, buat gue bukan itu–ini cerita tentang efek samping dari sekarat karena kanker, diceritain dari sudut pandang dua protagonis utama, Hazel Grace dan Augustus Waters.

Mereka berdua ketemu di sebuah support group untuk anak-anak penderita dan yang sembuh dari kanker. Lewat Isaac, salah satu teman mereka yang mengalami kanker mata, mereka berdua berkenalan.

Habis itu, ya semua berjalan begitu aja. Keduanya nyambung, sama-sama suka baca buku, nonton, dan main game. Pokoknya kayak mereka diciptain untuk satu sama lain aja. Kanker Hazel lebih parah daripada Gus. Hazel nggak punya kemungkinan untuk sembuh, sementara kanker Gus punya kemungkinan untuk sembuh… atau kambuh lagi.

Hazel dan Gus berbagi ketertarikan kepada buku An Imperial Affliction. Buku yang dibaca Gus sebenarnya karena Hazel ngerasa si penulis tahu banget kondisinya sekarang. Sayangnya, karakter di buku itu–Anna–tiba-tiba berhenti nulis begitu aja. Hazel penasaran apa yang terjadi dengan karakter-karakter di buku tersebut seteah ceritanya selesai. Gus akhirnya makai ‘wish’ dia untuk bisa bikin Hazel ketemu dengan Van Houten, si penulis. Mereka berdua ketemu dengan Van Houten, tetapi jawaban yang dikasih Van Houten nggak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.

Di Amsterdam itu jugalah, akhirnya Gus ngaku kalau kankernya kambuh lagi.

Dan setelah itu… lebih baik kalau kamu baca sendiri bukunya.

“The world is not a wish-granting factory.”

Ini cerita yang indah, meski tragis. Berkali-kali gue bengong di tengah baca. Cerita ini bukan cuma mengisahkan tentang konflik dan hidup remaja-remaja penderita kanker. Tetapi, ngasih sudut pandang baru. Dunia bisa begitu berbeda buat orang lain. Nggak banyak buku yang bisa gitu sih, bukan cuma bercerita, tetapi memperlihatkan sesuatu yang baru dan bisa dirasain.

Good job, John Green.

1. First Impression

Gue suka banget kovernya. Warna biru-putih-hitam. Nggak ada bintang di sana, cuma kayak tulisan grafiti di sana-sini.

Buat versi hardcover dari Dutton ini, bukunya enak banget dipegang. Ringan dan nggak berat. Nggak terlalu tebal juga dan fontnya enak banget di mata.

2.  How did you experience the book

Gue suka cerita ini. Nggak bisa bilang salah satu yang favorit–tapi, ini cerita yang bagus banget. Patut dibaca. Patut dipelajari.

Gue suka cara John Green bikin metafora-metafora di dalamnya. Cerdas banget. Begitu juga dialognya–yang rasanya agak kurang remaja, tapi sesuai banget sama karakter-karakternya sih. Plot dan alurnya juga rapi. Nggak tahu sih mau protes apa. Ya, buku ini bagus aja gitu buat gue. Suatu hari gue akan baca lagi.

3. Characters

Gue ngerasa Hazel dan Gus ini setipe. Makanya mereka gampang akrab. Harusnya sih kalau nggak kena kanker, gue percaya mereka ini bakal jadi anak populer dan banyak temen.

Yang gue suka, mereka nggak sok tegar. Ya hidup aja apa adanya. Kalau lagi depresi ya, depresi, kalau lagi senang ya senang. Nggak sok optimis juga. Ya, kayak orang-orang biasa aja. Itu yang bikin karakter mereka hidup banget.

4. Plot

Plotnya linear. Maju. Pas pokoknya deh.

5. POV

Sudut pandang ceritanya dari orang pertama, Hazel. Tenang aja, nggak ada momen yang terlewat kok–udah gue bilang di atas. Pas.

6. Tema

…kanker. Young adult. kanker. Young adult.

7. Quotes

“Some infinities are bigger than other infinities.” 

“What a slut time is. She screws everybody.” 

“Some people don’t understand the promises they’re making when they make them,” I said.
“Right, of course. But you keep the promise anyway. That’s what love is. Love is keeping the promise anyway.” 

“Grief does not change you, Hazel. It reveals you.” 

“I believe the universe wants to be noticed. I think the universe is inprobably biased toward the consciousness, that it rewards intelligence in part because the universe enjoys its elegance being observed. And who am I, living in the middle of history, to tell the universe that it-or my observation of it-is temporary?” 

8. Ending

Cerita ini diselesaikan dengan baik sekali.

9. Pertanyaan

Nggak ada sih.

10. Benefits

Gue belum pernah (dan jangan sampai) punya orang dekat/kenalan yang menderita kanker. Buku ini ngasih gambaran banget tentang kondisi itu sih.

Beberapa orang yang sekarat dalam cerita-cerita yang udah gue baca memilih untuk jadi egois–tapi, mereka (karakter-karakter di buku ini) nggak.

Ya, seperti yang tadi gue bilang, buku ini ngasih perspektif baru.

 

Oh ya, buku ini akan segera difilmkan. Kalau nggak salah sih tahun ini bakal rilisnya. Hazel Grace diperankan oleh Shailene Woodley dan Augustus diperankan oleh Ansel Elgort. Nih, posternya. Unyu. Hiks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s