film / Resensi

Star Trek II: The Wrath of Khan

“Revenge is a dish best served cold.”


Yahaaa! Dapet juga kesempatan untuk nonton film yang udah lama banget pengin gue lihat ini. Udah 31 tahun berlalu, tetapi gara-gara Khan di Star Trek Into Darkness gue nggak bisa menahan rasa penasaran untuk tahun Khan versi The Original Series ini. Episode Space Seed udah gue lahap, novel The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh pun udah disantap. Dan sekarang semua lengkap setelah nonton film ini.

Ketika Kirk sedang mengawasi perjalanan training USS Enterprise. Kirk (William Shatner) yang udah merasa tua, pengin pensiun jadi kapten dan kerja di balik meja–tentu aja, teman-temannya nggak setuju. Nah, di pejalanan ini, Enterprise nerima sinyal darurat dari USS Reliant yang sedang nyari planet kosong untuk ngetest Genesis Device. 

Kedua pesawat ini sempat berpapasan dan ternyata USS Reliant sudah dikuasai oleh Khan (Ricardo Montalban) serta pengikutnya.

Sebelumnya, kru USS Reliant yang diwakili Chekov dan Terrel turun ke planet Alpha Ceti V yang mereka kira Alpha Ceti VI. Alpha Ceti V adalah tempat Khan dan pengikutnya diasingkan setelah akan membajak Enterprise di episode Space Seed. Nah, si Khan ini masih inget Chekov dan dendam lama pun kembali berkobar. Khan nyalahin Kirk atas kematian istri dan pengikutnya.

Karena terdesak, akhirnya Enterprise ini lari ke Mutara Nebula, setelah sebelumnya nge-beam Kirk, Bones, dan Saavik ke Regula. Regula itu lab tempat Genesis Device dibuat oleh Carol Marcus, David Marcus, dll. Di sana, mereka ketemu dengan Chekov dan Terrel yang dimanfaatkan oleh Khan untuk mencuri Genesis Device.

Enterprise dan Reliant pun kembali kejar-kejaran di Mutara Nebula. Tetapi, Enterprise lebih punya antisipasi dan akhirnya bisa menang melawan Reliant. Di saat-saat akhir, Khan mengaktifkan Genesis Device. Enterprise yang mengalami kerusakan warp core harus segera meninggalkan tempat itu kalau nggak mau kena ledakan Genesis dan partikelnya terurai (alias mati). Spock (Leonard Nimoy) pun mengorbankan dirinya untuk membenahi warp core dengan gagah berani dan karena radiasi, dia… dia pun meninggal dengan gagah berani.

Gue rasa ini cerita yang bagus dan banyak muatan moralnya. Serius… Selain, karena Star Trek yang teramat populer, kembalinya Khan setelah absen lima belas tahun dari universe ST, tentunya juga membuat film ini jadi lebih populer. Untuk penonton baru, gara-gara ST Into Darkness, banyak yang kembali menilik film ini.

Ngomong-ngomong banyak yang bilang ini film layar lebar Star Trek yang terbaik. Gue pengin berpendapat gitu, tapi apa daya yang sepuluh lagi belom nonton, hehehe… Tapi, seperti yang gue bilang tadi ini film yang oke.

Terlepas dari kejadulannya–yaiyalah film ini lebih tua dari gue–film ini masih bisa dinikmati banget dari segi cerita. Yang gue amati banget di sini memang karakter-karakternya sih. Khan yang dimotivasi dendam karena kematian istrinya dan Kirk yang ketemu lagi dengan Khan jadi terbakar nggak mau jadi orang yang kalah. Mereka bertarung satu sama lain–nyaris nggak ada adegan aksi berantem fisik di film ini, tapi lebih ke taktik untuk memenangkan pertempuran.

Gue suka Kirk di sini. Dia kelihatan sebagai kapten banget, meski sisi-sisi nggak mau kalahnya tetep kentara. Dia bertanggung jawab dan bisa banget ngebaca situasi. Plis… tahan gue untuk ngebandingin dengan Kirk di Into Darkness, haha…

Sementara itu, Khan, tetap deh dengan kebanggaan superiornya. Sisi puitisnya nggak ilang. Gue seneng banget ketika ada adegan yang ngeliatin isi rak buku dia, rasanya mau teriak: ‘he’s my Khan!’. Dia keras dan bener-bener kebakar dendam–omongannya Joaquin, yang berkali-kali ngingetin dia, sama sekali nggak digubris. Memang sih, waktu di Space Seed juga nggak terlalu dikelihatin hubungan dia dengan Augment yang lain. Tetapi, dengan lebih ngeberatin alasan balas dendam karena kematian istrinya–gue kerasa kasihan banget dengan karakter dia. Semestinya, dia nggak berakhir setragis itu.

Di sini dibahas juga tentang Kobayashi Maru (mungkin banyak yang inget dari Star Trek pertamanya Abrams). Gimana dulunya Kirk ngemodifikasi simulasi itu sampai akhirnya jadi satu-satunya orang yang pernah menang dalam Kobayashi Maru. Ini dihubungin dengan dia yang selalu ngecurangin kematian (ini bahasan yang kompleks dan panjang sik). Maksudnya, Kirk di sini nggak pernah bertemu dengan kematian dan selalu berusaha ngeluarin krunya dari bahaya, bukan malah nganter ke bahaya. Di akhir, tentu aja Kirk harus menghadapi sebuah kematian besar–kematian sahabatnya.

Gue juga suka metafora ‘teman’ yang dipakai Kirk dalam film ini. Spock adalah temannya, Khan pun disebutnya dengan ‘old friend’. Tapi, tentu aja beda perlakuan dan di bagian akhir, Spock bilang kalau akan selalu jadi temen Kirk. Hiks.

Di TWOK ini, Carol Marcus nggak lagi muda. Ya sama sih dengan cast lain yang juga udah berumur. Yang bikin gue kepikiran sih, si Khan ini jadi tambah tua, tapi kenapa Augment yang lain masih segar buga gitu sih? Masa dia tambah tua sendiri. Oh ya, di TOS, nggak ada ya superblood kayak di STID. Meskipun, jadi superior bukan berarti berumur lebih panjang atau hidup selamanya.

Nah, ada David Marcus, itu adalah anak Carol dan Khan yang sejak kecil diasuh Carol. Carol di TWOK dan STID sama-sama rambut pirang kok. Bedanya, si Carol ini ahli biologi lingkungan gitu deh, sementara di STID ahli senjata.

Maaf ya, tapi gue nggak bisa berhenti ngebandingin TWOK dan STID. Karena gue berangkat nonton ini dari STID, jadi elemen-elemen yang sama gue ulik-ulik deh. Setelah nonton ini, gue jadi tahu kenapa banyak trekkies bilang STID itu melenceng banget dari jalur Trek. Pertama, jelas karena ceritanya udah nggak berbasi petualangan lagi; kedua, Kirk! Kirk begitu impulsifnya bawa krunya ke marabahaya demi ngebalasin dendam–bahkan dia jauh lebih impulsif daripada Khan (STID), dan mungkin Khan-nya sendiri yang cuma seiprit (penonton baru: “Khan who?” -____-). Sama kayak halnya, kemarin The Hobbit THDoS yang dipuja-puji, tetapi oleh pembaca bukunya dianggap ‘nyaris’ fanfiksi.

Yah, jadi ngelantur.

Pokoknya, kalau setelah nonton ST dan STID kesengsem sama Star Trek, ya harus cobain nonton film ini (lebih bagus kalau ngikutin serialnya). Apalagi kalau tertarik sama karakter Khan, ya ini film yang wajib tonton.

Live long and prosper!

2 thoughts on “Star Trek II: The Wrath of Khan

    • The Wrath of Khan ini justru yang jadi inspirasi Star Trek Into Darkness. TWoK, film kedua dari seri Star Trek yang dirilis tahun 1982.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s