film / Resensi

Wreckers

Wreckers, melodrama yang rilis tahun 2011 ini dibintangi oleh Benedict Cumberbatch.

Kisahnya tentang sepasang suami istri muda, Dawn (Claire Foy) dan David (Benedict Cumberbatch) yang pindah dari kota ke desa kelahiran David. Sampai kemudian muncul Nick (Shaun Evans) yang merupakan saudara laki-laki David. Kehadiran Nick menguak rahasia-rahasia masa lalu David, serta desa yang mereka tinggali.

Masalah bukan cuma muncul dari Nick. Tapi, juga Dawn dan David yang ingin punya anak. Udah lama nyoba, nggak hamil-hamil juga. Sampai akhirnya, David ngaku kalau masalahnya ada di dia. Mereka bertengkar dan… Dawn ngelakuin seks dengan teman satu koor gerejanya. Gara-gara itu Dawn hamil, tetapi David tetep nerima bayi Dawn. Apapun, asalkan Dawn bahagia.

Ada ya orang yang punya hati sebesar itu. 

Melankolis dan kelam, itu yang gue tangkep sejak awal film ini dimulai.
Film yang pengin lo tonton dengan teman selimut, boneka untuk dipeluk,
dan secangkir cokelat atau teh hangat. Jangan lupa tisu.

Di film ini udah kayak lihat kehidupan sehari-hari aja. Jauh dari kesan glamour. Hidup yang penuh rahasia dan masa lalu-masa lalu yang dikubur.
Aktor-aktor yang main di sini, bikin itu kerasa hidup banget.

Benedict Cumberbatch, nggak usah dipungkiri lagi–aktingnya ciamik banget sebagai suami. Sosok yang hangat, apalagi sama istrinya. Gue suka banget di bagian akhir, ketika dia ngomong sama istrinya tentang bayi mereka. Sewaktu dia ngakuin tentang sesuatu ke Dawn, dan mereka bertengkar, kemudian minta maaf lagi–cuma karakter David yang bisa begitu.

Claire Foy yang jadi bintang utama film ini, juga bagus. Rapuh dan tegas pada saat yang sama–bikin karakter Dawn kerasa nyata dan dekat sama kita. Begitu pula Shaun Evans yang mainin Nick, adik David, dia juga oke.

Musik latarnya juga melankolis. di akhir, ketika adegan terakhir berubah gelap gue duduk bengong beberapa lama, dengerin musiknya. Dan pertanyaan kenapa demi kenapa bergulir. Musik latarnya bikin mellow dan melamun.

Suasana sendu juga kelihatan banget dari pemilihan gambar. Karena ini karya debut, memang belum kelihatan maksimal banget sih. Tapi, suasana melankolisnya kebangun banget kok dari situ.

Satu hal yang bikin gue nggak simpati sama Dawn ya cuma kelakuan Dawn di akhir. Gue sama sekali nggak bisa nerima itu. Meski Dawn tahu istri si cowok gereja itu selingkuh dengan Nick–tapi, bukan berarti bisa begitu dong.

Untung, Dawn punya David. Seseorang yang berhati sebesar David.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s