Resensi / Serial

Sherlock S03E02: The Sign of Three

Sherlock Series 3 

Mata gue berbinar ketika melihat jejeran penulis skenario episode ini: Steven Moffat (A Scandal in Belgravia), Mark Gatiss (The Empty Hearse), Steve Thompson (The Reichenbach Fall). Dua di antaranya adalah penulis episode favorit gue dari keseluruhan seri Sherlock. Jadi, gue duduk dengan bahagia dan penuh ekspektasi kalau episode ini bakal lebih seru dibanding yang pertama.

Kayak yang udah banyak dipromoin, episode ini adalah tentang pernikahan. Yak, itu benar banget. Selain judulnya yang diadaptasi dari cerita orisinal, The Sign of Four (Empat Pemburu Harta, diterjemahkan Gramedia). Review-nya bisa dibaca di sini.

Spoiler ahead.

Kisah asli Empat Pemburu Harta adalah tentang Mary yang mendapat kirimin permata setiap tahun. Ia menghubungi Sherlock Holmes untuk minta dibantu mencari tahu siapa pengirim misterius itu. Di situlah, Mary dan John bertemu. Kemudian ada karakter Mayor Sholto yang merupakan teman ayah Mary dan punya rahasia tentang harta rahasia. Juga, Jonathan Small yang masuk dalam empat orang yang menandatangi perjanjian tentang harta tersebut. Ceritanya juga nggak cuma di London, tapi berisi cerita lalu di India.

Semua itu diceritain dalam satu buku sendiri lho. A Sign of Four. Empat Pemburu Harta.

Oke, jadi semua dimulai dari pernikahan John dan Mary. Serta Sherlock yang kebingungkan menyiapkan pidato sebagai best man. Semua orang di sekitar Sherlock jadi repot. Dan memperingatkan John-Mary tentang Sherlock.

Dan kemudian, di pesta pernikahan. Sherlock yang pidato dan cerita beberapa kasusnya (yang saling berkaitan sebenarnya). Di sela-selanya, flash back ke waktu sebelum pernikahan dan ketika Sherlock bersama John mecahin kasus.

Gue kira pernikahan itu cuma subplot. Okelah setengah jam berlalu, lihat persiapan pernikahan. Sherlock yang cengar-cengir dan panik. Dia pidato yang awalnya aneh, khas dia, dan kemudian sampai ke poin yang bikin orang berurai air mata.

Empat puluh menit… gue masih sabar nih. Dalem hati: “MANA KASUSNYA OI! MANA KASUSNYA!”

Lima puluh menit. Mulai adalah dikit-dikit dan agak seru. Fangirl pasti terhibur ketika John dan Sherlock keluar malem berdua, dari pub ke pub, minum dengan gelas takar (eh, bener ya namanya gelas takar?). He’s so human. Atau kita memang pengin dilihatin, Sherlock juga manusia biasa yang berusaha nyenengin sahabatnya.

Dan akhirnya di lima belas menit terakhir, barulah. Baru panas. Pestanya panas karena bakal ada pembunuhan. Sherlock, John, dan Mary lari-lari, lalu bujuk-bujuk Mayor Sholto. Sampai akhirnya, Mayor Sholto mau keluar kamar dan ngebolehin John ngobatin.

Udah. Terus penjahat yang sebenarnya, ketangkep eh ditangkep. Gitu aja.

Terus lima menit sisanya. Sherlock yang kesepian di tengah pesta. Mary dan John senang-senang karena SIGN OF THREE (yang bikin gue asdhjkllpouhgyjgbnagydo banget). Cuma Molly yang mergoki Sherlock keluar pesta dengan muka sedih.

Ya akhir episode dua.

Gue hampir nangis di akhir episode, gara-gara bingung. Bukan bingung sama ceritanya. Gue ngerti. Tapi, gue ngerasa episode ini keilangan soul Sherlock yang dulu. Gue kayak ngelihat drama komedi romantis dengan bumbu detektif. Bukan cerita detektif dengan bumbu drama komedi.

Gue kira ‘memanusiakan’ Sherlock dan nunjukkin betapa dia berubah setelah dua tahun lewat itu udah cukup banget di Empty Hearse. Juga, bejibun fanservice, itu cukup bikin senang banget di episode satu dan udah… udah… cukup.

Sherlock adalah sosiopat dan nggak manusiawi—itu yang bikin gue simpati sama dia. Bikin karakter dia menarik buat gue, sehingga gue akhirnya punya space kecil di otak untuk dia. Untuk membayangkan kalau dia punya sisi manusiawi. Dan episode ini… menghancurkan istana kecil di sudut otak gue itu. setengah episode gue mikir: ‘apa gue masih baca fanfiksi Sherlock di fanfiction.net?’ (gue baru aja ngelakuin itu sehari sebelumnya). Tetapi nggak, ini episode Sherlock, serial BBC yang termahsyur itu.

Bukan berarti episode ini buruk. Nggak sama sekali kok. Dialog yang hidup. Narasi yang keren. Standarlah dengan episode-episode Sherlock yang udah ada. Meski, lagi, sama kayak Empty Hearse, kasusnya mungkin nggak akan memuaskan karena porsinya nggak terlalu banyak juga nggak menyita pikiran. Atau mungkin ini cuma kekhasan episode dua Sherlock ya selalu kerasa ‘kurang’ dibanding episode pembuka dan penutup.

Dramanya sendiri sebenarnya apik. Cukup menyentuh kalau aja gue nggak nagihin kasus mulu. Sherlock bener-bener berusaha kelihatan nyaman dan mendukung pernikahan John dan Mary. Akan tetapi, nggak bisa dipungkiri beberapa kali dia kelihatan kesepian. Lebih banyak adegan dengan Mycroft juga dan kayaknya mereka udah bertukar klue untuk episode terakhir, ‘redbeard’, kata Mycroft, dan ‘my last vow’ kata Sherlock sambil ninggalin amplop di pesta. Mereka berdua, lebih kelihatan manusiawi di sini, jangan khawatir.

Episode ini juga cukup bikin ketawa-ketiwi. Ya, biasalah Sherlock yang nggak berusaha melucu, tapi malah kelihatan lucu dan menggemaskan. Hihi…. Paling tersentuh waktu dia bikin serbet jadi bentuk Opera House Sydney untuk pernikahan Mary dan John—heuheu, pengin meluk deh rasanya.

Tetap sih, ini episode Sherlock. Gatiss dan Moffat udah dengan brilian bikin cerita yang ditulis dan bersetting tahun akhir 1800-an bisa ngepas banget dengan masa sekarang. Itu jelas keren! Gue nggak akan melewatkan episode final musim ketiga pastinya. Meski gue penuh harap, episode itu bisa kembali dengan polanya seperti dulu. Penuh aksi. Penuh klue untuk memecahkan kasus. Dan ngasih gue sesuatu untuk dipikir selama menebak kasus, serta alasan untuk nonton lagi.

But now, just enjoy the wedding. And.

Lets play murder.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s