Resensi / Serial

Sherlock S03E03: His Last Vow

tumblr_mz78zdI8M11rkeh8to1_500

‘It always ends. That’s what gives it value.’

Gue selalu ingat kalimat dari Death, salah satu karakter favorit gue di komik Sandman. Setiap hal selalu berakhir, itulah yang membuatnya berharga. Episode His Last Vow adalah yang terakhir dari musim tayang ketiga Sherlock. Nyatanya, nggak bener-bener berakhir juga sih.

Sherlock menghadapi salah satu musuh terbesarnya, Charles Augustus Magnussen. CAM menggunakan kelemahan Sherlock untuk memancingnya membocorkan rahasia pemerintah UK. Dan itu melibatkan Mary, John, hampir semua orang terdekat Sherlock.

Episode ini cukup jadi pengobat kalau kecewa dengan episode satu dan dua. Sejak awal kasusnya udah disajikan. Misteri yang bikin ikut nonton sampai akhir. Sherlock yang hmmm kembali seperti gue kagumi dulu—sosok sosiopat yang hmmm heartless. Semua dibungkus dalam dramatisasi ala Moffat.

Ya! Ala Moffat, kalau memang udah biasa makan drama beliau.

John jadi bintang di episode ini. Selain itu juga Mary. Dan banyak juga bintang-bintang kecil—karakter-karakter kecil nan penting dan tak ingin terlupakan.

Banyak canon dalam episode ini. The Empty House yang gue kira bakal muncul di The Empty Hearse. The Sign of Four, tapi ya cuma hmm…. Dan beberapa dari cerita lain. Kalau pernah baca seluruh cerita Sherlock Holmes beberapa hal akan ngagetin, nggak akan terlalu mengejutkan—it’s canon!

Dan, jangan buru-buru pergi setelah adegan terakhir hilang. Duduk aja. Ada kejutan. Dari Moffat.

Kalau kamu terus baca ke bawah. Akan ada spoiler.

Spoiler.

Spoiler.

Spoiler.

Spoiler banget buat yang belum nonton.

Sherlock

Episode ini ditulis oleh Steven Moffat dan disutradari oleh Nick Hurran (The Day of The Doctor). Gue rasa ini episode favorit gue dari segi sinematografi deh, good job Om Hurran! Lebih tradisional dari pada yang sebelum-sebelumnya. Nggak banyak efek tulisan-tulisan—entahlah, di season dua itu menarik, tetapi karena Sherlock nggak kayak dulu lagi, malah gue ngerasa sekarang itu menjengkelkan. Tetapi, di sini itu nggak banyak. Sudut-sudut adegannya menyenangkan banget. Beberapa menghasilkan efek dramatis maksimal. Bahkan, gue bisa bilang ini punya teknik pengambilan gambar yang lebih bagus daripada Reichenbach Fall.

Dari segi cerita, cukup bagus dan memuaskan. Meski gue ngerasa kehadiran Magnussen kurang banget. Sebagai penjahat utama di cerita, Magnussen yang diperankan Lars Mikkelsen (yang mainin kakaknya si Mads Mikkelsen, Hannibal Lecter di Hannibal), benar-benar memenuhi ekspektasi sebagai penjahat besar. Seseorang yang bener-bener selevel dengan Sherlock. Kalau Moriarty agak-agak gila, maka Magnussen adalah penjahat yang ngeskploitasi kelemahan untuk jadi senjata. Dengan suara dan muka yang tenang, dia menekan pelan-pelan, sampai akhirnya nyentil. Gue rasa dia juga agak gila.

Gue tekanin drama Moffat di atas. Beberapa hal jadi biasa aja, terutama setengah kebelakang. Karena drama Mary dan John di bagian tengah agak-agak bikin peran Magnussen sedikit kabur. Baru di belakang, tensinya naik lagi. Cuma kalau udah biasa dengan pola cerita Moffat dan biasa ngebaca klue itu jadi nggak terlalu mengagetkan.

Yang bikin tetep terikat ke cerita itu tadi sih, rahasia Mary. Ada kaitannya sedikit dengan cerita The Sign of Four, yaitu A.G.R.A.. Agra di kisah The Sign of Four adalah kota tempat ayah Mary menemukan harta karun. Sementara, A.G.R.A. di HLV adalah inisial Mary. Ya, Mary seorang penembak jitu, memakai identitas orang lain untuk jadi identitasnya sekarang—menurut kamu, dia apa?

Tetapi, semua tahu—John punya hati lebih luas daripada Samudra Pasifik.

Meskipun John tahu Mary berbohong kepadanya dan menembak Sherlock.

Kalau ada yang mati di sini adalah Magnussen.

Sherlock sendiri tertembak di apartemen Magnussen ketika menyelidiki tempat itu. Ternyata, di sana udah ada Mary yang siap menembak Magnussen. Kemudian, alih-alih nembak Magnussen, dia malah nembak Sherlock.

Tetapi, dia nggak sejahat yang diduga kok. Dia cuma nggak bisa bohong sama John. Dia mau menyelamatkan dirinya sendiri, dan John.

John jelas ngerti tentang itu.

Kalau Mary mau ngebunuh Sherlock, dengan jarak satu meter, seharusnya di langsung ke dada kiri aja. Di situ gue tahu, kalau dia bukan penjahat yang paling besar.

Drama dong. Drama.

tumblr_mz5sk3sMbf1qgae0ho1_1280

Setelah semua ketahuan. Sherlock beberapa kali di pojokkan Magnussen. Meskipun Sherlock udah menipu Janine—inget cewek centik si bridesmaid di Sign of Three? Ya, dia ternyata adalah PA Magnussen. Oleh Mary dan Sherlock sama-sama dideketin karena itu. Akses ke Magnussen. Dan Sherlock jadi tunangan dan pura-pura melamar itu memang canon ya. Jangan jeles girls, hahaha….

Akhirnya, di hari natal. Sherlock ngajak John ketemu Magnussen. Sambil bawa pertukaran yaitu laptop Mycroft untuk data-data tentang Mary. Gue tahu Sherlock balik kayak dulu. Karena sebenarnya pertukaran itu bukan sekadar untuk Mary sih, juga pemerintah UK. Tetapi, ternyata semua arsip Magnussen itu ada di dalam kepalanya—mind palace.

Nah, ini nih, tulisan-tulisan di layar itu—bakal cukup mengelabui sik. Dikira kacamata itu Appledore portable, ternyata….😀

Endingnya, Mycroft dan British Secret Service dateng ke rumah Magnussen sik. John bawa pistol tapi jelas nggak kepikiran—kenapa dia jadi dodol lagi di sini? Justru, seperti yang gue kira, Sherlock yang punya nyali nembakin itu ke Magnussen. Selesai.

Tapi, cukup dramatis sih ketika Sherlock ditangkap. Bagus aja. Beautiful scene. Meski Reichenbach masih lebih indah.

Kemudian, Sherlock karena pembelaan Mycroft dapet tugas ke luar negeri gitu deh. Udah pergi, pisahan gitu sama John.

Eh tiba-tiba muncul Moriarty. Dan gue kurang suka dengan cliffhanger ini. Moriarty memang hebat dan jahat dan keren banget. Tetapi, bukan berarti dia bisa hidup lagi sik.

Kalau ngikutin pola cerita Moffat di Doctor Who, bakal hafal gimana beliau bikin pola cerita. Berapa kali Doctor ngecurangin kematiannya sendiri? Banyak. Berapa kali Doctor menyelamatkan alamat semesta? Lebih dari sekali. Moga-moga Moffat nggak mengulang seperti itu untuk Sherlock. Moriarty hidup lagi?

Ya, nggak tahu juga sih mau dibikin gimana selanjutnya. Terserah Om Moffat aja, gue nunut aja.

Ini episode yang bagus sebagai penutup Sherlock season 3. Kabarnya, bakal dibuat musim keempat dan kelimanya juga. Pun, nunggunya nggak akan selama kayak nunggu season tiga ini. Enam bulan mungkin? Seperti yang Sherlock bilang ke John di akhir. Tetapi, itu mustahil juga sih.

Yang gue cermati juga di dalam episode ini, Moffat banyak banget masukin kalima-kalimat yang familier kalau udah nonton The Hobbit The Desolation of Smaug. Bentuk lain dari fanservice sih. Haha… (edit: ah, baru tahu kalau ternyata naga-nagaan ini adalah canon juga dari cerita Charles Augustus Milverton! Good job, Moffat!)

Ya, nggak terlalu menonjol fanservice di sini. Mungkin Molly yang akhirnya nampar Sherlock dan putus dari Tom. Juga, Sherlock yang mendadak punya hubungan dengan cewek—hmm seks, mandi bareng, dan satu dua ciuman. Kamu bakal dapet di episode ini.

Ada dua hal yang gue suka dari cerita ini, ketika Sherlock ngejelasin dengan jelas banget kenapa John bisa terlibat dengan orang-orang seperti dia, bahkan istrinya sendiri, Mary adalah psikopat. Kedua, ketika Magnussen menjelaskan kelemahan-kelemahan Sherlock di rumah Magnussen yang keren banget itu.

Di sini juga, akhirnya ketahuan apa itu Redbeard, ternyata nama anjing Sherlock waktu kecil. Dan ada lagi East Wind—tapi, keburu ketahuan di akhir apa itu East Wind.

Juga, ada ayah dan ibu Sherlock. Lagi! Yaiy! Semua kumpul di sana ketika natal. Unyu banget Sherlock dan Mycroft di depan orang tua mereka. Apalagi waktu ngerokok dan ngomongin dragon slayer. YAHAHA!

Oh ya, patut diinget juga Bill Wiggins. Gue rasa dia penting buat musim depan. Kelihatan tokoh yang menarik.

Episode ini memang bukan Reichenbach Fall. Ketika habis nonton Reinchenbach Fall banyak banget pertanyaan di kepala gue—bikin gue pengin nonton ulang. Episode ini hampir sama menggigit, tapi nggak meninggalkan perasaan kayak gitu. Gue cuma tahu. Udah selesai. Season tiga selesai dan mari menunggu lagi.

Season tiga ini sendiri sesuatu yang harus ditonton secara keseluruhan. Episode pertama dan kedua emang kurang greget. Namun, di sana banyak clue bertebaran. Meski, nggak terlalu essensial juga sih.

Serial ini masih jadi favorit gue. Season tiga bukan yang terkeren, menurut gue. Mestinya, dari awal dikasih episode seperti HLV. Gue juga bakal ikut nunggu sih. Sampai nanti ada lagi.

Gue mikir coba kalau episode ini diakhiri ketika Mycroft bilang: “What have you done?”. Itu bakal kerasa lebih cliffhanger dibanding munculin Moriarty di akhir. Bakal lebih greget kalau dia beneran masuk penjara. Hahaha….

Oh ya, kalau butuh nama cewek, kata Sherlock ke John. Sherlock adalah nama anak perempuan. Yah, Sherlock cuma coba ngasih saran nama buat anak John dan Mary, seperti yang dulu John lakukan.🙂

William Sherlock Scott Holmes.

Di akhir, Sherlock bilang. “I am not a hero. I am a high-functioning sociopath.”

Untuk kali ini, gue percaya.

————————-

Edit:

Untuk kedua kali gue nambahin sesuatu di sini. Setelah nonton ulang episode ini dan ngobrol seharian tentang ini kemarin dengan salah satu temen deket gue. Ada beberapa hal yang menggelitik banget untuk gue tulis di sini.

1. Di atas, gue bilang Sherlock ngelakuin semuanya juga untuk UK Goverment. Tetapi, rasanya gue salah. Karena Sherlock ngelakuin semua itu untuk John. Semua hal besar yang dia lakukan itu adalah karena John. Alasan yang sangat personal sekali yang ditukar dengan rahasia negara dan nyawa. Thank you so much.

2. Gue nggak sengaja baca obrolan salah satu penulis favorit gue, Rainbow Rowell, di twitternya tentang episode ini. Salah satu hal yang diobrolin oleh beliau dan temannya adalah tentang moral dalam cerita. Okelah, kita semua udah dewasa dan nggak mau dijejelin dengan cerita yang menggurui. Tapi, gue jadi mikir juga sih mau nggak mau. Ketika gue nonton pertama kali, gue fokus sebagai penonton dan nggak memihak dengan karakter manapun (karena gue tahu apa yang bakal terjadi dan itu benar adanya!).

Namun, setelah gue baca obrolan itu… iya pernyataan itu jadi muncul juga: “Gimana kalau orang yang deket banget, sayang sama kamu dan kamu sayang balik sama dia rela ngebunuh orang demi nyelamatin kamu?”

Ya, CAM, dalam cerita itu memang sosok yang digambarkan ada di sisi yang buruk. Tetapi, kita juga nggak diperlihatkan seberapa jahatnya dia karena yang ditampilkan di episode ini semuanya personal. Setelah Sherlock digambarkan sebagai sosok yang manusiawi dengan hati dan akhirnya dia membunuh.

Temen deket gue, bilang, akhirnya Sherlock jadi pahlawan untuk semua orang.

Balik lagi ke John. Gue sebenarnya cukup puas dengan penjelasan kalau John kecanduan dengan lifestyle yang menarik orang-orang kayak Sherlock dan Mary (baca: psikopat+sosiopat) mendekat kepadanya. Tetapi, itu kerasa agak nggak real sih. Masih ngganjel gitu deh di hati gue.

3. Sherlock membunuh CAM di depan banyak orang. Kemudian, nyaris diterbangkan ke Eropa untuk misi yang membahayakan jiwa… empat menit setelah terbang dia balik lagi.

Bagian itu… gue kayak: ‘what the fuck?!’

Gue bilang di atas gue nggak suka akhir dari cerita ini. Ya, salah satunya ini. Setelah Sherlock melakukan sesuatu yang berbahaya buat negara dan dia balik lagi tanpa menjalani hukuman apapun.

Mengejar Moriarty dan memecahkan kasus itu hukuman? Buat Sherlock itu ya nggak sama sekali. Itu hobinya. Passion.

Jadi, dia nggak dapet konsekuensi apa-apa dari hal yang udah dia lakukan. Dia nggak belajar apa-apa dari yang udah terjadi. Dia kelihatan kayak superhero (gue ngerasa malah lebih superior dari Khan Noonien Singh yang jelas-jelas manusia superior) dan nggak tersentuh dosa. Itu terasa nggak adil aja.

Ini masalah yang sama ketika gue nonton Star Trek Into Darkness. Film itu bagus, tetapi endingnya meninggalkan perasaan yang sama dengan gue. Dari semua karakter di STID, kenapa cuma Khan yang dapet hukuman atas apa yang dia lakukan? Kirk yang ajaibnya idup lagi dan seolah nggak merasa bersalah akan apa yang terjadi. Okelah, Kirk nyelamatin Enterprise dengan mengorbankan nyawa. Tetapi, itu setimpal dengan apa yang dia lakukan: bawa semua kru ke tepi kematian. Ketika dia mati, itu pelajaran. Konsekuensi.

Ketika dia hidup lagi… dengan serum dari superblood Khan. Gue cuma bisa menganga.

Oke balik ke Sherlock. Kalau mau baca cerita gue tentang Star Trek Into Darkness, ke sini aja.😀

4. Gue suka banget apa yang disebut character development di Season 1 & 2. Ketika sampai di season 3, gue ngerasa aneh dan asing. Yang dulu gue tulis, karena gue nggak suka sisi lain Sherlock diumbar begitu dan biar itu jadi imajinasi aja. Biar itu tinggal dalam kisah-kisah yang ditulis fan aja.

Kemudian, ketika gue pikir lagi. Ternyata tentang proses sih. Kayaknya semua berjalan sekedipan mata dan Sherlock… ‘bam!’ berubah begitu aja. Orang-orang di sekitarnya, rasanya tetap sama, tetapi Sherlock berubah banget. Bukan gue nggak nerima perubahan, cuma dia jadi terasa asing buat gue.

Di season dua terutama, itu kerasa banget. Sherlock yang ternyata bisa tertarik sama perempuan. Sherlock yang belajar untuk minta maaf sama John. Dan puncaknya di Reichenbach Fall.

Satu demi satu langkah. Reichenbach Fall adalah pilihan. Menghilang selama dua tahu adalah konsekuensi yang harus didapat Sherlock.

Selama dua tahun dia berkelana sendirian. Jadi, apa yang bikin dia tiba-tiba begitu berhati dan manusiawi? Masalah dia cuma sama John. Kalau cengar-cengir di depan John, gue ngerti. Tetapi, di Sign of Three, gue nggak ngerti apa-apa. Kayak Sherlock di sisen tiga ini adalah inkarnasi dari Sherlock yang jatuh di Reichenbach Fall.

Tetapi, semua berubah. Nggak akan ada yang tetap sama selamanya.

Yah, mungkin gue yang nggak suka dengan crack-fic. Haha…

5. Dan… btw, Sherlock selamat dari Reichenbach Fall itu gimana? Masa sih cuma kayak gitu seperti yang diceritakan ke Anderson. Hahaha… Nggak puas gue.

sherlock and tardis

ini skenario yang paling gue percaya!


(sumber)

Gue nulis ini bukan karena gue mau cari-cari kesalahan. Gue jatuh cinta banget sama show ini. Malah kayaknya lebih dari gue demen sama Cumberbatch. Karena dari Sherlock ini gue kesengsem sama Cumberbatch.

Bukan pula karena gue nggak suka Moffat. Gue nggak bisa bilang nggak suka dia juga sih. Soalnya, gue kagum sama tulisan-tulisan dia. Moffat keren banget! Beberapa tulisan dia kayak Blink dan The Day of The Doctor (Doctor Who), serta A Scandal in Berlgravia, jadi favorit gue banget. Cuma kadang-kadang ya gitu, dia suka nyelesaiin sesuatu dengan jawaban yang bikin cengok. Hahaha…

Seperti Star Trek Into Darkness yang gue kupas betul-betul karena gue memang suka film itu, ini juga terjadi sama Sherlock. Bukan gue benci ketika gue ngasih statemen nggak suka, aneh, lucu, nggak nyambung. Itu cuma ekspresi aja. Jadi, please dont be rude dengan ngasih saran untuk berhenti aja nonton show ini.

Kadang-kadang kita mencintai hal yang sama, tetapi ngeliat dari sudut pandang yang beda. Itu aja.

Untuk season depan yang katanya datang lebih cepat, mungkin gue harus ingat kata-kata Moffat, kalau show ini bukanlah detective show, tapi show tentang kehidupan seorang detektif. Itu beda. Dan yang bikin gue jatuh cinta banget dulu adalah karena ini adalah sebuah detective show.

🙂

5 thoughts on “Sherlock S03E03: His Last Vow

  1. aku kecewa sama Sherlock yg ga berkutik di hadapan Magnusson. Sebenarnya di season lalu, dia juga udah kalah sih lawan Moriarty. Ga ada tanda2 menangnya.

    kecewa, karena Sherlock menyelesaikan masalahnya dengan membunuh CAM. Karena si CAM lebih hebat dari dia dan dia udah kalah, trus dibunuh aja gitu? Ya kalo gitu mah, orang lain aja yg bunuh. Ga usah pake Sherlock segala.

    • itu yang banyak diributkan sama penonton yang kagum sama kebriliannan Sherlock (S1&S2), di sini nggak muncul sama sekali dan naratif ceritanya sendiri makin nggak realistis realistis gitu di sisen 3 ini, banyak plot hole.😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s