film / Resensi

The Fifth Estate

“True commitment requires sacrifice.”

tumblr_mtnr66ZKWx1sgxrq7o1_1280

Film ini rame woro-woronya tahun lalu, tentu karena mengangkat salah satu anti-hero modern abad 21, Julian Assange. Apalagi Julian yang sekarang masih menjalankan wikileaks dan tinggal di kedutaan Ekuador di London, diperankan oleh Benedict Cumberbatch yang sedang cerlang cemerlang.

The Fifth Estate diangkat dari buku yang ditulis Daniel Domscheit-Berg, co-founder Wikileaks, Inside WikiLeaks: My Time with Julian Assange and the World’s Most Dangerous Website (2011), dan WikiLeaks: Inside Julian Assange’s War on Secrecy (2011) yang ditulis oleh jurnalis David Leigh dan Luke Harding.

Kisahnya sendiri merunut dari awal Julian (Benedict Cumberbatch) memulai Wikileaks dibantu oleh Daniel (Daniel Bruhl). Sampai akhirnya, mereka makin besar. Bikin ramai media dan dunia. Puncaknya adalah ketika dokumen-dokumen rahasia AS mereka dapatkan.

Dari dua jam durasi film, hampir sejam terakhir bercerita tentang huru-hara tentang dokumen AS itu. Dilihat dari sudut pandang orang dalem Wikileaks, terutama Daniel, serta orang-orang pemerintah AS yang terlibat dalam dokumen-dokumen itu.

Gue pribadi menganggap film ini menarik banget. Cuma cara berceritanya sangat hati-hati. Kerasa banget kenggakberpihakan filmmaker ke sisi yang mana. Berusaha netral. Akhirnya, penonton nggak dapat apa-apa sih. Nggak tergugah untuk mencari kebenaran atau apapun.

Yang ditunjukkin di film ini adalah benar-salah itu ada di koin yang sama, pada sisi berbeda. Benar-salah itu tergantung dari sudut mana melihatnya. Gue sendiri berusaha ngelihat dair sisi orang luar–sosok pragmatis, seperti biasa. Gue nggak bisa berpihak ke Julian–meski, gue kagum dengan dia dan berusaha simpatik. Sayangnya, ketika berusaha simpatin, sudut pandang berubah ke Daniel yang menganggap Julian adalah pembohong atau mungkin hanya penuh rahasia. Seperti yang Julian bilang ke Daniel, kalau selama ini dia kerja dengan orang yang Daniel kenal.

Sampai akhir ya gitu, gue nggak kenal siapa Julian Assange. Dia hebat. Dia pahlawan untuk sebagian orang. Dia penjahat untuk orang yang lain. Sedikit cerita tentang masa kecil dia aja, yang bikin gue maklum ketika dia akhirnya tumbuh dari seseorang yang berego tinggi. Untuk menikmati film ini cukup. Tetapi, untuk percaya apa Julian beneran seperti itu di dunia nyata, film ini sama sekali nggak ngasih apa-apa.

Sebenarnya gue suka gaya naratifnya juga. Cuma karena ceritanya nggak dalam. Bahkan untuk karakter-karakternya yang latar belakangnya terasa tipis, gue nggak mudah untuk masuk dalam ceritanya. Meski, serius, gue hampir nggak bisa berpaling dari filmnya (kalau ada tweet itu pas break pipis dulu dan makan malam, iye gue dinner semalam ini).

Terlebih, karena akting Cumberbatch yang luar biar. Gue suka aksen dia di sini. Dan dia luar biasa banget. Beberapa hari lalu gue nonton August Osage County dan Sherlock, di TFE ini, gue nggak nemu sama sekali sosok Little Charles dan Sherlock–yang gue lihat tadi adalah Julian Assange. Terlepas dari kecintaan dan kekaguman gue terhadap Benedict Cumberbatch, orang ini, aktor ini, kamu harus nonton salah satu film atau serial yang dia mainin, minimal sekali seumur hidup. Dia bener-bener hebat dan luar biasa (Gue nggak tahu kata apa lagi selain luar biasa yang cukup mendeskripsikan tentang dia).

Didukung pula, Daniel Bruhl yang nggak kalah keren. Serta pemain-pemain lainnya. Semua kerena. Cuma di TFE ini memang terlalu banyak karakter dan kisah latar mereka yang tipis bikin penonton nggak terikat gitu. Bahkan, beberapa karakter gue nggak tahu namanya sampai akhir, meski gue menikmati akting mereka. Hehe….

Film ini berakhir pahit sih menurut gue. Persahabatan antara Julian dan Daniel akhirnya berakhir karena beda prinsip. Julian pengin semua dokumen yang disampaikan Wikileaks sampai ke publik tanpa sensor, nggak peduli apa yang nanti terjadi. Sementara Daniel, Daniel lebih manusiawi dengan mikirin orang lain. Itu rasanya pahit.

Favorit gue sepanjang film adalah rahasia tentang rambut perak Julian. Hahaha… ada beberapa versi, sampai akhirnya Daniel ngasih tahu yang sebenarnya. Benedict Cumberbatch dengan rambut perak kayak gitu udah pantas banget jadi bagian dari Targaryen atau jadi Daniel, suksesor Morpheus, di Sandman. Eh, out of topic, sorry. Haha…

Satu lagi yang terpikir sama gue selama nonton, apa iya ada orang yang mau hidup kayak Julian? Nggak punya kehidupan, dicap pahlawan, dicap penjahat. Tetapi, kalau nggak ada orang seperti dia, perubahan nggak akan terjadi. Dan itu pilihan. Itu komitmen yang dia buat.

tumblr_mtnr66ZKWx1sgxrq7o2_1280

Pada akhirnya, film ini memang gagal menghidupkan jargon ‘courage is contagious’. Namun, gue ngerasa film ini awal yang baik untuk mulai merunut jejak langkah Julian Assange. Untuk mencari kebenaran-kebenaran, kalau memang kamu peduli. Sebab sekarang banyak orang lebih senang diberi kebohongan manis asal aman, daripada tahu keberanan tetapi nggak hidup nyaman.

Oh ya, ini kalau kamu mau baca dokumen tentang The Fifth Estate yang dirilis serta press release dari Wikileaks. Kalau pengin tahu lagu yang ngiringin presentasi Julian dan Daniel, judulnya Outro dari M83 (salah satu lagu favorit gue yang juga soundtrack Cloud Atlas!).

I’m the king of my own land.
Facing tempests of dust, I’ll fight until the end.

Creatures of my dreams raise up and dance with me!
Now and forever, I’m your king!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s