film / Resensi

The Spectacular Now

the spectacular now

Film ini diputer di Sundance film festival tahun lalu, kemudian banyak dapet review bagus (plus dari situs-situs film favorit gue). Lama gue mencari dan akhirnya dapet juga kesempatan nonton ini. Alasan lain gue nonton: karena karakter ceweknya suka baca novel scifi! Itu gue banget!

Meski tahu film ini bagus, gue nonton tanpa ekspektasi apa-apa. Enjoy ceritanya aja deh, apa adanya. Meski gue berharap, si karakter cuap-cuap tentang pop culture di film ini. Ya, ada sih sedikit.

Ceritanya tentang Sutter (Miles Teller) yang lagi bimbang untuk ngisi aplikasi ke college. Dia putus sama pacarnya Cassidy, kemudian ketemu dengan Aimee (Shailene Woodley). Nah, sama Aimee ini Sutter minta ajarin Geometri, sampai akhirnya Aimee ini jadi kayak rebound si Sutter. Cuma Sutter dengan pede bilang sama temennya kalau nggak akan jatuh cinta sama Aimee. Seperti yang udah terpikir, Aimee yang bukan anak populer jatuh cinta dong sama Sutter. Sutter pun jadi butuh Aimee. Tetapi, nggak sesederhana itu. Nggak pula rumit kayak film dewasa. Ya, nonton aja. Sungguh, nonton aja.

Gue baru tahu kalau film ini diangkat dari novel dengan judul cerita. Ketika nonton, rasanya itu udah serupa baca novel. Detail adegan dan ekspresi karakter itu dapet banget. Kebangun banget suasana remajanya. Chemistry Sutter dan Aimee juga sampe gitu ke hati. Pokoknya serasa baca novel YA.

Tempo ceritanya nggak terburu-buru. Latarnya sama sekali nggak glamour. Meski, Sutter populer dan menyenangkan, tetapi dia bener-bener kelihatan kayak orang biasa. Pun, si Aimee, yang juga ya seperti anak-anak kebanyakan. Itu yang bikin karakter-karakternya kerasa dekat dan banyak hal yang bisa diambil.

Konfliknya bukan cuma tentang cinta sih, juga keluarga, sekolah, dan masalah jati diri sih. Memang standar YA, tetapi semua dirangkum jadi satu–jadi elemen-elemen yang nggak kepisah satu sama lain. Rapi dan enak dinikmati. Semua itu juga dibungkus dialog yang remaja-remaja banget dan nggak lebay.

Pada akhirnya, gue suka banget ketika Sutter nerusin nulis aplikasinya lagi. Menjawab tentang kerja keras yang udah dilakukannya atau tantangan yang udah ditaklukan selama ini. Ketika semua yang dia alami bikin dia jawab masalahnya ada di dirinya sendiri. Saat dia mulai bikin self-defense untuk nggak ngerasain apa-apa, dia nggak pernah takut, nggak taku nyakitin orang, nggak takut disakiti. Dia begitu biar dia nggak kecewa dan nggak ngerasain apa-apa. Buat dia hidup itu adalah hari ini. Tetapi, kemudian dia ngerti kalau nggak masalah hidup hari ini, tetapi masih ada hari esok.

Pesan yang bagus banget.

Bagian akhir dari film ini memang menohok sih, bahkan untuk yang nggak remaja lagi.

Gue pernah baca sebuah artikel tentang kenapa orang dewasa suka baca novel YA/remaja, karena remaja itu momen-momen spesial. Ketika nggak takut bermimpi, nggak takut di-judge orang-orang, bisa mencintai dengan nggak takut-takut. Sewaktu kayak berencana untuk menggenggam dunia tanpa takut apapun. Perasaan dan momen-momen yang mungkin nggak bakal ditemui lagi waktu dewasa.

Dan gue kira, itulah yang bikin film ini spesial.

Kalau suka baca novel YA, jangan lewatkan film ini. Karena ini bagus banget!

Trailer:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s