film / Resensi

Dallas Buyers Club

“Sometimes, I feel I’m fighting for a life that I just ain’t got the time to live. I want it all to mean something.”
– Ron Woodroof

dallas-buyers-club-poster

Awalnya judul ini nggak terlalu menarik perhatian gue meski masuk jajaran nominasi Oscar. Gara-gara kesengsem sama akting McConaughey di True Detective, jelaslah gue nggak akan melewatkan film ini. Hal pertama yang terlintas di benak gue ketika mulai nonton adalah… gue mau nyekap McConaughey dan ngasih dia makan biar bisa bagus lagi badannya. Beneran nggak tega ngeliat bodinya kurus kering kemarau gitu.

Gue benar-benar nggak punya bayangan film apa ini ketika mulai nonton. Yang gue tahu latarnya di Dallas, Texas, dan agak koboi-koboian gitu. Dan biasanya gue nggak terlalu suka cerita yang kental budaya Amerika Serikatnya. Padahal, film yang diangkat dari kisah nyata dan disutradarai Jean-Marc Valee dapet beberapa nominasi di Oscar, Best Picture, Best Original Screenplay, Best Actor buat McConaughey, dan Best Supporting Actor buat Jared Leto. Mereka berdua, McConaughey dan Leto memenangkan kategori yang sama di Golden Globe.

Kemudian, dang! Gue tertohok ketika Ron Woodroof (Matthew McConaughey) diberitahu menderita HIV dan diultimatum cuma bakal hidup 30 hari lagi. Dari sini gue tahu, ini adalah cerita yang bagus dan solid. Di situ juga gue kira bakal jadi cerita stereotype yang nyeritain hari-hari akhir orang yang sekarat. Tapi, gue salah besar.

Film-Toronto Preview

Tiga puluh hari berlalu begitu saja. Ron Woodroof yang nggak pantang menyerah mencari cara buat nyembuhin dirinya, sampai terdampar di Meksiko. Dan tiga bulan pun berlalu. Obat yang dicobakan di rumah sakit, ternyata berbahaya. Obat yang Ron dapat dari dokter di Meksiko punya efek samping lebih sedikit. Dia pun berakhir jadi penjual obat ke kalangan-kalangan yang terkena HIV dan AIDS.

Ketika membangun bisnis–Dallas Buyers Club, Ron kerja sama dengan Rayon/Raymond (Jared Leto). Royan yang transgender ini membantu Ron untuk mendapatkan pelanggan. Bisnis Ron dan Rayon ini pun semakin besar dan punya banyak pelanggan. Bahkan Ron sampai terbang ke berbagai negara untuk mendapatkan obat-obat untuk penderita HIV/AIDS.

Namun, usaha mereka nggak selalu mulus. Dari FDA (kayak badan POM-nya Amerika Serikat) menindak, IRS (badan pajaknya US) juga menindak, dan akhirnya polisi. Ron dan Rayon sampe kehilangan semuanya. Royan akhirnya minta bantuan kepada ayahnya, meminjam uang. Pada saat itu, Rayon kayaknya udah mulai suka sama Ron, tapi dia nggak berani untuk…. Iya, dia nggak berani. Mungkin kagum aja. Gue suka banget bagian Rayon mulai tersentuh sama Ron ini, diceritain halus dan lembut banget.

Setelah Ron dapat uang, dia pergi ke luar negeri lagi. Dan… di situ perjuangan Ron benar-benar baru dimulai.

Aku nggak mau cerita lebih banyak.

dallasbuyers_a

Rayon (Jared Leto) dan Ron (Matthew McConaughey)

Cerita film ini bagus banget. Bagus banget. Dan indah banget. Gue nggak tahu mesti ngomong apa lagi. Kayaknya semua faktor nyatu jadi satu, nggak bisa terpisah satu sama lain. Ditulis dengan baik banget, diperankan oleh aktor-aktor yang luar biasa, diarahkan oleh sutradara dan sinematografer yang juga apik banget. Hasilnya: masterpiece.

Film ini nggak akan bikin stress atau depresi meski menyajikan cerita tragedi. Ron Woodroof membuat segala sesuatunya mungkin dengan sikapnya yang penuh semangat dan optimisme. Kayak cahaya buat orang lain. Apa yang dia lakukan buat dirinya sendiri, akhirnya dia lakukan buat orang lain juga. Dia mendalami penyakitnya sampai mungkin sama tahunya dengan dokter. Nggak selalu dia kayak malaikat sih, dia kayak manusia biasa aja, nggak mau nolong mereka yang nggak punya uang.

Tapi, Ron bukan apa-apa tanpa Rayon. Karakter Rayon ini nggak lebay, justru bikin simpatik banget. Dia manusiawi banget. Adegan dia paling nyentuh itu ketika dateng ke ayahnya dengan baju cowok demi Ron.

Gue suka banget hubungan mereka berdua. Ron loyal banget dan perhatian sama Rayon. Gimana selalu ngingetin buat makan sehat, ngingetin buat nggak teler lagi, dan ngebelain Rayon di depan orang yang ngerasa jijik sama dia. Kalau diizinkan milih temen, gue mau punya satu yang kayak Ron. Yang selalu mau ngasih pelukan hangat di waktu sedih.

Matthew McConaughey dan Jared Leto dua-duanya benar-benar luar biasa. McConaughey dengan transformasi tubuhnya yang jadi kerempeng abis dan Leto yang berubah jadi cantik abis. Mereka berdua klop banget dan ya pokoknya bikin cerita ini hidup banget.

mcconaughey

Transformasi McConaughey. Ron Woodroof (kiri) dan Rustin Cohle di True Detective (kanan).

Gimana ceritanya ngalir, itu yang bikin susah ninggalin layar barang sejenak. Adegan demi adegan kerasa pas banget. Nggak ada yang berlebihan. Porsinya pas. Dan tiap-tiap adegan diambil dengan bagus banget. Adegan favorit gue adalah ketika Ron di tengah ruangan penuh kupu-kupu… itu adalah adegan yang bagus bagus bagus banget. Gue lupa kapan gue nonton sesuatu sampai melongo karena terpana dan pedih sekaligus, kali ini gue nemuin itu lagi di sini. Gue juga suka gimana mereka milih adegan pembuka dan penutup yang hampir serupa. Ketika Ron bisa balik untuk ikut rodeo lagi. Pokoknya banyak banget deh adegan yang baguuuuss dan menyentuh di film ini.

Musik temanya juga bagus dan dapetin banget untuk ngebangun suasana. Dialog-dialognya menyentuh dan hidup. Tapi, faktor yang satu nggak bisa dipisah dari faktor yang lain. Ini adalah film yang gue bilang semuanya bagus.

Meski mengangkat tema HIV/AIDS, hal itu sendiri nggak terlalu tebal dibahas dalam film ini. Begitu juga masalah gay di tahun segitu, sekitar 1985-87 juga nggak terlalu diangkat. Selain itu, mungkin karena gue bukan orang Dallas, nggak terlalu ngeh juga kalau cerita itu dipindah ke tempat lain. Jadi, buat gue serasa settingnya nggak terikat sama cerita.

dallas-buyers-club

Salah satu adegan favorit gue, ketika Rayon baru aja ngasih uang ke Ron.

Itu semua nggak terlalu ngaruh sih. Ceritanya sendiri udah kuat. Lagi pula yang ditekankan adalah gimana harapan dan sikap pantang menyerah yang Ron punya untuk dibagi. Ini adalah sebuah cerita tragedi yang nggak bikin sedih, justru lega. Seperti inilah tragedi seharusnya diceritakan, dengan tawa, tengan senyum, dengan ketulusan hati dan harapan. Film ini berhasil bikin gue nangis di 20 menit terakhir dari 116 menit durasi. Gue memang belum nonton film yang masuk nominasi Oscar lainnya, kecuali Blue Jasmine dan Gravity, tetapi gue berharap film ini bawa pulang Oscar. Dallas Buyers Club ini jelas salah satu film favorit gue, salah satu yang nggak akan bosen ditonton ulang.

Alexandra Streliski – Prelude – (Piano music featured in Dallas Buyers Club)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s