film / Resensi

Her

248311id1d_Her_Advance_Unrated_27x40_1Sheet.indd

Tema film ini mengerikan. Sungguh. Karena masa depan kayak di film ini mungkin (dan kayaknya pasti) akan terjadi.

Ketika aku bilang mengerikan, bukan berarti aspek lainnya buruk. Justru enggak sama sekali. Her luar biasa dan cakep. Manis dan pahit sekaligus. Cerdas dan menohok. Ya, udah masuk nominasi Oscar dan Golden Globe  juga. Apa yang mau dibantah?

Disutradari oleh Spike Jonze dan dimainkan apik banget oleh Joaquin Phoenix. Her membawa gue ke masa depan… masa yang jauh ketika manusia udah begitu hebatnya dengan menciptakan OS (operating system) yang punya kesadaran mandiri, punya intuisi, dan punya… perasaan.

Itulah bagian yang mengerikan.

Kurasa itu juga yang dirasakan Theodore ketika menyadari jatuh cinta kepada Samantha, OS di komputernya. Ia merasa senang. Merasa lega karena menemukan sosok yang pengertian banget ke dia. Akan tetapi, pada yang sama dia sadar kalau hubungan itu nggak semestinya.

Dia bercerita kepada Amy, sahabatnya yang baru saja pisah dengan pasangannya. Nah, ternyata Amy juga mengalami hal yang sama dan pun mereka nggak hanya berdua–karena nyatanya banyak yang jatuh cinta dan membangun hubungan dengan OS. Perasaan ngeri itu pun tersingkirkan dari hati Theodore. Dia mengalami masa hubungan yang menyenangkan bersama Samantha. Yang bikin dia melakukan hal-hal yang sudah lama nggak dia lakukan, pergi ke pantai, liburan, dan bahkan menerbitkan sebuah buku.

Tapi, gue peringatkan kalau hubungan ini dari awal memang sudah nggak seharusnya terjadi.

her-movie-poster-6

Theodore pas lagi jatuh cinta banget kepada Samantha.

Banyak momen yang bikin terharu dan tertegun, ketika mereka sama-sama menyadari jatuh cinta, saat Samantha benci keadaannya sendiri yang nggak punya bentuk fisik. Ya, sebenarnya masalah-masalah yang lazim terjadi sama pasangan umumnya. Hanya aja ini manusia-OS, jelas masalahnya udah lebih dari sekadar pertikaian domestik.

Semua itu dibungkus secara manis oleh Spike Jonze dengan gaya sinematografi yang pas banget. Nggak cuma menjual alur maju, cuma beberapa cuplikan kenangan punya Theo, dan adegan kilasan dari hal-hal yang nggak dia lihat bikin semuanya terasa lengkap. Karena cerita ini seharusnya memang dari sudut pandang orang ketiga terbatas, yaitu Theodore. Tapi cuplikan dan kilasan itu sama sekali nggak menganggu. Justru karena dihadirkan, apalagi dengan cara ngambil gambarnya beda dengan ketika sedang ngeliat dari Theo, itu bagus. Kayak ngeliat kenangan sendiri, rekaman video yang berjalan–itu nggak akan semulus nonton film yang udah disunting.

Gue suka pemilihan warna-warna dalam film ini. Sederhana, lembut, tapi nggak terjebak dalam kesan futuristis yang membanjir di film yang udah-udah, yang biasanya dilambangkan dengan putih atau perak. Gaya berpakaian orang-orang dalam cerita itu juga cakep. Nggak aneh atau terlalu berlebihan, justru biasa banget, kasual dan modest. Herannya, pada jaman itu masih ada buku! Buku dengan kertas, hahaha… Agak aneh sih itu. Mungkin mempertahankan tradisi?

Karakter Theo selain karena diperankan bagus oleh Joaquin Phoenix, tentu lebih hidup gara-gara dialog-dialognya. Pria sederhana, kesepian, dan agak depresi karena perceraiannya, dapet banget di cerita ini. Agak kasihan sebenarnya ngeliat Theo. Tapi, nggak tahu juga sih, itu pilihan dia untuk jatuh cinta sama Samantha. Gue kira beberapa orang yang penyendiri akan suka punya teman seperti OS-OS itu. Samantha sendiri suaranya diisi oleh Scarlett Johansonn. Sama sekali mukanya nggak muncul selama film. Memang suaranya seksi sih dan dapet banget untuk bikin Samantha ini jadi hidup.

Alur ceritanya agak lambat karena ini memang cerita cinta sih. Jadinya memang kebangun chemistry antara Theo dan Samantha. Ya, sabar aja nontonnya, memang konflik ceritanya cuma kayak gitu kan. Lagi pula ceritanya cukup untuk modal kontemplasi sih. Kalau memang lagi nggak terlibat percintaan, ya jadi renungan gimana kehidupan yang dijalani di dunia maya. Banyak di antara kita yang kecanduan, iya, kan?

Setelah nonton ini, gue diskusi sama salah satu teman. Gue dan dia setuju kalau film ini agak menakutkan. Dan dia berharap jangan sampai di jaman anak cucunya nanti yang begini udah ada. Gue sendiri setuju. Tapi gue rasa pacaran dengan OS nggak ada salahnya. Apalagi kalau bisa pesan OS pakai suara Benedict Cumberbatch atau Matthew McConaughey, hahaha. Memang sih pacaran sama OS nggak akan punya kehadiran fisik. Namun, seenggaknya masalah domestik bisa dihindari–masalah-masalah kayak naruh sepatu atau baju kotor sembarangan, nggak cuci bekas makan, dan sebagainya. Tentunya nggak ada jarak antara kita dan OS. Dia bisa di mana pun, menyertai kita. Dalam sebuah hubungan fisik kan paling berat itu jarak dan perubahan–gimana caranya berubah tanya menyakiti orang lain. Gue tahu ini pikiran yang nggak bener, tapi membangun hubungan dengan orang lain itu berat, kecuali memang kalau beruntung ketemu yang sevisi dan misi dalam hidup. Sayangnya kan nggak semua seberuntung itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s