Resensi / Serial

True Detective S01E06: Haunted Houses

“He said that there was no such thing as forgiveness… that people just have short memories.”
– Maggie about Rust

true haunted houses

Cerita episode 1 sampai 5.

Sama sekali bukan episode favoritku. Gue mengernyit sepanjang durasi. Mengumpat beberapa adegan di bagian akhir cerita. Nggak ada senyum di sini. Nggak ada kebanggan sama sekali. Dan sebagai peringatan: mungkin episode ini bakal meninggalkan kejengkelan di dalam hati–kesel dan sebuah perasaan yang… yang kamu tahu ada sesuatu di balik episode ini tapi nggak bisa jelasin. Tentunya lagi, menyisakan rasa penasaran.

Satu pertanyaan terjawab di episode ini. Kenapa Marty dan Rust akhirnya pisah dan nggak saling bicara.

Di episode lalu, Ledoux bilang bahwa waktu adalah lingkaran. Rust menambahkan bahwa sesuatu akan terus berulang-berulang-berulang….

Di sini, sesuatu yang dulu pernah terjadi kembali lagi. Marty bertemu dengan Beth ketika sedang membeli ponsel. Nah, ternyata Beth ini adalah anak–pelacur kecil–yang dulu ditemuinya di trailer tempat Dora Lange tinggal dan diberinya uang. Inget kalau Rust bilang uang yang dikasih Marty adalah down payment (DP)? Itulah yang benar-benar terjadi di sini.

Sementara Rust menyelidiki lagi kasus-kasus lama, tentang anak-anak dan perempuan-perempuan yang hilang tanpa jejak, tanpa pernah ditemukan. Banyak yang ngelaporin dia udah menganggu ketertiban gitu deh. Sampai akhirnya dia dikasih peringatan untuk nggak melakukan itu lagi atau dinonaktifkan sementara. Yang Rust temui itu salah satunya adalah Kelly, anak perempuan yang ditemukannya di gudang tempat Ledoux ditembak. Rust nanya tentang apa yang terjadi dan Kelly ngasih jawaban tentang seorang dengan luka dan raksasa. Namun Rust cuma bisa dapetin itu doang. Terakhir, Rust nemuin Billy Lee Tutle (pendeta yang muncul di episode pertama). Alasannya menemui Tutle, terutama karena tambahan informasi dari salah seorang orang tua korban dan si pendeta tenda di episode tiga (gue lupa namanya). Rust nanyain tentang program wellspring yang udah ditutup. Kunjungan Rust ini kedengeran sama bosnya dong. Langsunglah si Rust dinonaktifin sebulan.

Selain Marty dan Rust, ternyata ada satu lagi saksi yang dipanggil sama dua detektif polisi, yaitu Maggie. Maggie nyeritain tentang Rust dan Marty dari sudut pandang dia. Dan sama sekali nggak gue kira dia lebih busuk daripada cowok-cowok itu. Tunggu, bukan berarti Maggie jahat. Cuma nggak semua rahasia bisa diomongin. Gue tahu itu. Gue sesungguhnya simpati sama Maggie dengan apa yang menimpa dia. Maggie dan Marty balik lagi untuk hidup bersama. Sampai Maggie menemukan foto-foto Beth di ponsel Marty dan… dia ingin balas dendam. Dia ingin Marty sakit hati. Maggie memanfaatkan Rust. Momen ini adalah momen yang bikin gue speechless, gue pengin ngutuk (dan yang gue ngutuk serta ngumpat Maggie), tapi gue ngerti banget apa yang dirasain dia. Dan Rust…

Maggie bilang sama Marty tentang itu. Besoknya ketika Rust kembali ke kantor untuk ambil berkas. Marty langsung ngehajar Rust abis-abisan. Marty bilang urusan mereka nggak akan selesai sampai di situ dan Marty bakal bunuh Rust. Rust akhirnya memutuskan untuk keluar dari kantor.

Episode ini ditutup dengan Rust yang ngikutin Marty yang baru pulang dari kantor polisi. Ngajak Marty untuk ngobrol. Marty mengiyakan dengan pistol yang berisi peluru ada di sakunya.

true haunted houses 3

Om Cary, Om Nic, balikin rambut Rust kayak dulu lagi, Om.

Drama banget. Episode ini sangat drama dan based on character banget. Untuk sementara, rasanya pengin ngumpat, ‘eh kasusnya mana!’. Namun, kemudian gue sadar masalah ini adalah satu yang paling diinginkan untuk tahu dengan detail terjadinya kenapa. Gue kira jawaban yang ditawarkan episode ini udah pas banget. Pas banget.

Keahlian Nic Pizzolatto adalah nyebar klue di mana-mana dan nyimpen di detail-detail kecil. Detail yang biasanya kelewat sama kita. Entah kenapa, gue ngerasa Fox and Hound, nama bar tempat Marty ketemu Beth punya makna sesuatu. Fox? Hound? Siapa yang serigala dan siapa yang anjing besar?

Belum lagi ketika Marty ngeintrogasi dua anak cowok yang ketahuan kencan sama Audrey, anaknya. Lagi-lagi dia nyebut Angola. Sekali di episode satu. Dan di episode tiga, Rust yang nyebut itu setelah mengintrogasi salah satu staf si pendeta tenda. Jadi, apa sih hubungan Angola dengan Marty? Kenapa Marty selalu nakut-nakutin orang, ketika itu Charles Lange, tentang Angola? Sementara Rust cerita kalau si staf pendeta tentang itu dipotong kemaluannya dan dianiaya oleh sekolompok gang di Angola?

Rust kembali ngungkit tentang kematian anaknya dan pernikahannya yang gagal di depan salah satu orang yang dia introgasi. Terakhir, sesudah mendapatkan keterangan dan sebelum pergi, Rust ngasih pesan ke cewek pembunuh anak-anak itu: “If you get the opportunity, you should kill yourself.” Jadi, gue mikir, apa ini–trauma tentang anaknya–yang bikin Rust terobsesi sama kasus ini? Minggu lalu kita dapat Yellow King, Black Star rises, time is a flat circle, dan brankas punya Rust yang polisi minta untuk dibuka tapi dia menolak.

Rust yang dinonaktif udah ngubah rumahnya sendiri jadi tempat dia ngumpulin semua bukti yang dia punya. Ditempelnya di dinding. Dibuatnya peta. Bertumpuk-tumpuk kertas. Dia punya antler (tanduk rusa). Dia punya ranting kayu yang disusun. Dia punya bunga dan ranting yang siap dijalin jadi mahkota. Dia benar-benar udah terobsesi sama kasus tersebut. Dan kita, nggak tahu apa yang dia tahu.

Di episode ini, gue ngerasa Rust ada di titik paling dasar. Gue nggak bicara tentang akting McConaughey. Tetapi, secara karakter Rust berubah banget di sini. Dia memang agak nyebelin dari awal, tetapi di episode ini dia super duper nyebelin. Ada yang ngitung berapa banyak ‘fuck’ yang keluar dari mulut dia? Hahaha. Pokoknya di sini jadi kasar banget. Bahkan sama Marty, hubungan mereka berdua berubah. Tanpa ada Maggie, mereka udah punya masalah. Terutama Rust yang sembunyi-sembunyi ngelakuin penyelidikan. Di sini, Marty udah kelihatan banget bengkak hatinya terhadap Rust. Puncaknya, ya ketika mereka berantem itu. Gue suka banget koreografi berantemnya. Cool, man! Marty yang muncul-muncul langsung nyeruduk Rust sampai keduanya jatuh. Seriusan, ini salah satu berantem dalam konteks drama yang keren abis.

true haunted houses 2

Habis berantem sama Marty.

Mereka berdua kelihatan manusiawi banget di sini. Kayak Beth bilang kalau Tuhan nyiptain manusia dengan cela. Tapi, semesta selalu memaafkan cela itu. Nah, di sini masing-masing kelihatan banget celanya, nggak Marty, nggak Rust, bahkan Maggie. Dia pura-pura nggak tahu apa yang terjadi sama Marty dan Rust, kenapa mereka pisah. Ya, iya sih, itu kan masalah personal mereka bertiga ya… memang nggak sepatutnya diomongin. Tapi, gue kan kasihan sama Rust. Gue jengkel sama Marty. Dan gue geregetan abis sama Maggie. Gue hanya ngerasa Maggie harusnya nggak secetek itulah pikirannya. Kenapa dia harus bikin dirinya setara sama Marty dan Rust? Cuma manusia memang gitu kan? Mencoba menyelamatkan diri sendiri dan kadang-kadang itu pakai melukai orang lain.

Meski episode ini berakhir nggak menyenangkan, gue masih nunggu banget dua episode sisanya. Apa yang bakal terjadi di sana? Bener nggak kalau episode ini menyimpan segudang klue yang minggu depan bakal dibeberin? Masih banyak banget pertanyaan. Secara pribadi gue puas dengan jawaban dari masalah Rust dan Marty ini. Gue harap dua episode sisanya bener-bener ngebahas Yellow King dan semua yang belum terjawab. Siapa sebenernya yang jahat? Marty-kah? Rust-kah? Atau orang lain?

Episode 7 preview:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s