film / Resensi

12 Years a Slave

12-years-a-slave-poster

Ada Cumberbatch di sini. Itu adalah alasan pertama gue nonton film ini. Kemudian, karena mau ngereview satu-satu nominator Best Picture-nya Oscar, akhirnya gue nonton deh. Awalnya sempat nggak berani dan nggak punya nyali, ada konten di dalemnya yang bikin gue ciut hati.

Mungkin dari awal baiknya gue kasih peringatan, kalau nggak kuat hati mendingan nggak usah nonton film ini. Lebih dari sekadar film yang jual adegan gore atau menyeramkan. Apa yang ada di sini lebih menakutkan–manusia yang merasa lebih manusia daripada lainnya. Menjijikkan dan bikin nyeri hati.

12 Years a Slave diinspirasi dari buku yang ditulis oleh Solomon Northup pada pertengahan tahun 1800-an berdasarkan pengalaman dia sendiri. Steve McQueen yang mentranslasikannya ke bentuk format cinematik. Dan tampaknya, juga menurut gue sendiri, dia sukses besar.

Film ini mengisahkan dua belas tahun terburuk yang mungkin pernah dialami Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) dalam hidupnya. Ia adalah seorang Negro yang bebas sampai dua orang kenalannya dengan dalih menawarkan pekerjaan malah menculiknya. Northup pun diganti identitasnya menjadi Platt dan dijual belikan. Majikannya yang pertama adalah William Ford (Benedict Cumberbatch). Tapi, nggak lama Solomon bersama dengan Ford. Karena ada masalah antara Solomon dan Tibeats, salah satu mandor di perkebunan Ford. Padahal Ford ini termasuk majikan yang baik dan hubungan keduanya juga cukup baik. Namun, demi menyelamatkan nyawa Solomon, Ford harus memberikan Solomon ke Edwin Epps (Michael Fassbender).

Di tangan Epps, nasib Solomon nggak berubah jadi baik. Epps dikenal sebagai majikan yang kejam. Dan ya, sepanjang satu jam sisa dari film ini memang isinya kekejian Epps, terutama kepada Patsey (Lupita Nyong’o) dan tentunya Solomon. Patsey adalah negro kesayangan Epps dan istrinya cemburu betul sama Patsey sampai akhirnya terus-terusan ngebully.

Sementara itu, Solomon masih terus berharap bisa melarikan diri. Pada suatu waktu, ada buruh berkulit putih. Solomon udah minta tolong dan kasih uang untuk dibantu kirim surat, tapi malah orang kulit putih itu ngelapor sama Epps. Terakhir, muncullah Bass (Brad Pitt), seorang traveler yang sedang mampir untuk mencari uang di perkebunan Epss. Bass ini orang dengan pemikiran terbuka dan akhirnya, Solomon berani menceritakan tentang kisah hidupnya. Solomon juga meminta tolong agar dibantu kirim surat kepada temannya di tempat asalnya. Bass nggak menjanjikan apa-apa, tapi ia akan coba membantu. Nggak lama setelah itu, datangnya Tuan Parker, teman Solomon untuk menjemputnya. Solomon tidak memedulikan larangan Epss dan langsung pergi bersama Parker.

Edwin Epps (Michael Fassbender), Patsey (Lupita Nyong'o), dan Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor)

Edwin Epps (Michael Fassbender), Patsey (Lupita Nyong’o), dan Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor)

Dua kata yang paling pas menggambarkan film ini adalah solid dan powerful. Solid dari seluruh elemen cerita dan gambar. Powerful dari aktor-aktornya serta pesan-pesan yang disampaikan.

Yang pertama kena ke gue adalah dialog-dialognya yang kuat dan berkarakter banget. Pilihan kata-katanya itu pas banget ngegambarin suasana melankolis dan penuh tekanan dalam cerita. Kalimat-kalimatnya juga begitu, kerasa jleb dan depresi banget.

Kedua adalah adegan-adegannya yang rapi dan pas banget penggunaannya serta temponya. Warna-warna yang dipilih kebanyakan rona tanah-Bumi gitu, cokelat, putih gading, hitam, abu-abu, dan sebagainya. Sekali ini itu bikin suasana depresinya jadi kentara lebih tebal. Pengambilan gambarnya sendiri pas juga. Gimana ngejelasinnya ya. Kebanyakan gambarnya ambil karakter dalam seluruh tubuh gitu, jadi latar tempat dia berada kelihatan jelas juga. Begitu juga ketika karakter-karakternya interaksi dengan tokoh lain. Bikin dalam satu frame itu selain dapet kekuatan dari karakter, juga detail-detail di latarnya.

Steve McQueen memang milih orang-orang yang pas banget buat jadi bagian dari film ini. Chiwetel sukses memerankan Solomon yang sepanjang cerita memasang ekspresi depresi terus. Bisa banget ngedapetin dan ngeluarin situasi marah dan tertekan yang dialami Solomon. Tapi buat gue yang juara adalah Michael Fassbender yang luar biasa banget. Karakter Epps yang gila dan menakutkan itu bisa menjelma jadi nyata. Pokoknya karakter Epss itu salah satu yang kuat banget dan mencuri segenap perhatian dari film ini. Lupita Nyong’o juga keren betul. Beberapa adegan Lupita ini yang benar-benar berkesan di dalam cerita.

Pertama adalah ketika Patsey minta kepada Solomon untuk membunuhnya. Patsey ngerasa depresi karena terus-terusan dibully nyonya rumah dan dilecehkan oleh Epps. Yang kedua adalah ketika Patsey pulang minta sabun dari pertanian sebelah. Dia dimarahin abis-abisan sama Epps gara-gara itu. Diikat dan Epps yang awalnya mau menghukum cambuk sendiri Patsey akhirnya nyuruh Solomon. Karena Solomon ngecambukin dengan nggak tega, akhirnya Epss di depan budak-budaknya yang lain serta istrinya langsung ambil alih dan ngecambukin dengan membabi buta. Adegan pertama bikin patah hati banget. Adegan kedua bahkan gue nggak tega ngeliat ke layar. Bajingan kau, Epps! Kamu pasti bakal teriak hal yang sama kalau jadi gue. Oh ya, satu lagi adegan yang powerful banget adalah ketika Solomon digantung setelah dibully oleh Tibeats. Budak-budak lain seliweran di sekitar dia tanpa berusaha nurunin, anak-anak kecil main di belakang dia, bahkan istri Ford sempat ngelihat dia tapi cuek juga. Ada kali setengah hari Solomon digantung begitu dan baru menjelang senja diturunin oleh Ford. Astaga banget deh pokoknya.

Adegan-adegan yang ada di dalam cerita ini nggak lepas dari musik latar yang dikerjain Hans Zimmer. Beneran deh di satu jam pertama itu scoringnya nyeremin dan menghantui banget. Horor dan ya horor pokoknya. Gue suka lagu-lagu yang dinyanyiin di dalam sini, tapi beberapa kerasa depresi banget. Ya, nggak mau juga gue ngulang dengerin.

William Ford (Benedict Cumberbatch)

William Ford (Benedict Cumberbatch)

Cumberbatch sendiri di film ini rasanya nggak tampil lebih dari 15 menit. Karakternya memang menarik dan bikin simpatik. Meskipun gitu dia tetap aja pendukung perbudakan. Ganteng banget Cumberbatch di sini dan gue suka vokal yang dia pilih untuk William Ford, gagah dan kebapakan banget. Sayangnya, karakter dia kerasa anti klimaks banget. Lebih nempel si Bass yang juga cuma tampil sebentar.

Nonton film ini bikin ngerasa beruntung nggak hidup di masa itu. Bikin dapet gambaran betapa dunia ini kadang nggak adil hanya karena perbedaan yang nggak bisa diubah sejak lahir.  Bikin bersyukur karena masa itu udah berlalu.

Film ini adalah kandidat terkuat dari Best Picture-nya Oscar selain Gravity. Gue kira dengan muatan di dalamnya yang kaya dan kuat, film ini punya nilai plus untuk bawa pulang Oscar. Banyak yang menjagokan memang sih. Selain itu juga beberapa waktu lalu, film ini dinobatkan sebagai Best Motion Picture di Golden Globe. Ya, apapun yang paling baik buat film ini kasihlah. Memang solid banget kok filmnya. Ya. Sama kayak nontonnya yang butuh hati yang solid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s