film / Resensi

Killer Joe

killer joe

Tadinya, gue nggak bisa memutuskan mau nonton Paperboy atau Killer Joe duluan, dua-duanya sama-sama dibintangi Matthew McConaughey. Sampai kemarin gue baca salah satu interview dengan Cary Fukunaga, sutradara True Detective, dan dia nyebut film ini di tulisan tersebut, bikin gue akhirnya nonton ini dulu.

Killer Joe adalah film indie-low budget dari sutradara William Friedkin dan penulis skenario, Tracy Letts (August Osage County). Film ini dirilis tahun 2012 dan diberi rating NC-17 untuk adegan kekerasan dan seksual yang eksplisit.

Cerita dimulai dari Chris Smith (Emily Hirsch), pemuda drug dealer yang punya masalah keuangan, ngajak ayahnya ketemuan di bawah hujan. Mereka berdua pergi ke klub striptis dan Chris memberi tahu Ansel (Thomas Haden Church) kalau ibunya punya jaminan asurasi sebesar $50.000,-. Keduanya yang sama-sama butuh uang pun mempertimbangkan hal itu, sampai Chris mengajukan nama pembunuh kontrak bernama Joe Cooper (Matthew McConaughey). Bayaran yang diminta Joe adalah $25.000,-.

Joe selain punya profesi sebagai pembunuh, dia adalah detektif kepolisian. Ia hampir menolak tawaran Chris karena mereka tidak bisa membayar di muka. Akhirnya, Joe menyanggupi tetapi adik Chris, Dorothy (Juno Temple), dijadikan jaminan. Maka, tiap malam Joe datang ke trailer tempat Ansel tinggal bersama Sharla (Gina Gherson), istri barunya, dan Dorothy. Chris yang belum juga bisa membayar pun dikejar-kejar yang ngasih utang dan dihajar habis-habisan. Dia sempat minta agar Joe membatalkan rencananya, tetapi ternyata ibunya sudah telanjur dibunuh.

Namun ceritanya nggak selesai sampai di situ, karena sesuatu yang nggak diduga Chris membuatnya kehilangan semua uang dan Joe mengklaim Dorothy untuk jadi miliknya. Dan gue nggak bisa ngasih tahu endingnya gimana.

killer joe 3

Kekuatan cerita ini ada di detailnya. Apa yang gue beberkan di atas itu cuma setengah plot aja. Jadi bener-bener kekuatan film ini ada di scene-scene-nya. Sinematografinya apik dan rapi. Meski make-up dan beberapa koreografi berantemnya rada gimana gitu.

Alur ceritanya lambat, itu yang bikin detailnya lebih kerasa. Di bagian awal sih ini kerasa agak terlalu drama dan ngebosenin. Tapi iya deh, film ini memang bukan konsumsi yang minta kaya action atau pembunuhan yang banyak dan terlalu sadis.

Tapi, Joe sadis dengan caranya sendiri. Matthew McConaughey berhasil banget ngeluarin aura charming berbalut creepy. Beneran, dia lebih menakutkan dari pada Rust Cohle. Mukanya kelihatan psikopat abis. Bikin bergidik. Aktingnya pun keren, lepas dari sosok Dallas di Magic Mike atau Mick Haller di The Lincoln Lawyer. Gue masih ngeri aja lihat dia yang brutal bukan cuma secara kekerasan fisik, tapi juga seksual. Cuma, emang dasarnya ganteng dan charming, di film ini mata biru lautan dalamnya kentara banget, bikin bergetar dan tenggelam. Kali ini dia main lagi sebagai warga Dallas, Texas, dan kembali lagi dengan aksen southern khas miliknya. Baru satu film dia yang gue tonton dan bukan main di Texas, karena dia memang asalnya dari sana sih.

Killer Joe

Killer Joe

Pemain pendukung lainnya sih oke, terutama Juno Temple dan Gina Gherlson. Juno Temple meranin Dorothy yang baru berumur 12 tahun, virgin, lugu, suka nonton film kung fu, dan punya masalah sleepwalking. Dia sama mengerikannya, dalam kondisi yang berbeda dengan Joe. Kayak punya masalah mental gitu. Banyak adegan dia telanjang di sini. Ada satu adegan, ketika Dorothy melakukan hubungan seksual sama Joe, gue langsung inget film Atonement, sewaktu Lola Quency (nama karakter yang diperankan dia) diperkosa Paul Marshall (Benedict Cumberbatch). Ya, ya, Benedict Cumberbatch dan Matthew McConaughey, kau buatku iri, dik Juno.

Adegan lainnya, terutama gimana cara Joe mukulin orang, juga cukup eksplisit. Apalagi yang dipukul perempuan. Lalu ada satu adegan yang ewwwww banget. Gue nggak akan bilang di sini karena itu mengerikan banget dan menjijikkan sekaligus. Nggak akan sampai bikin muntah, tapi ya itu menjijikkan.

Sebelum nonton film ini, gue udah pernah nonton karya Tracy Letts yang lain yaitu, August Osage County. Tempo dan suasana ceritanya itu kerasa sama, sesuatu yang gelap dan kerasa ada yang nggak bener. Pahit gitu rasanya. Konflik utamanya sendiri selesai, cuma seperti August Osage County, ceritanya nggak selesai. Karakter-karakternya masih meninggalkan misteri. Kayak sekarang gue masih mikir apa yang bakal terjadi pada Little Charles (Benedict Cumberbatch)? Sama halnya gue mikir, gimana nasib Joe selanjutnya. Semua yang tersisa itu kayak alasan kamu boleh benci film ini atau suka film ini, atau dua-duanya. Tapi ya, film ini cukup baik.

Killer Joe ini memang bukan film konsumsi semua orang. Kalau suka karakter yang aneh, menakutkan, mengandung sadisme dan nudity di mana-mana sih nggak apa-apa. Ini film yang bikin mengernyit sepanjang film. Tapi, gue nggak bohong kalau cukup menikmati juga karena memang menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s