Resensi / Serial

Hannibal S02E01: Kaiseki

hannibal-season-2

Hannibal is back! Setelah tiga belas episode yang bikin gue terpikat di season satu, gue pun ikut kembali ke season dua. Dirilis hari jumat, 28 Februari 2014 lalu, musim tayang kedua Hannibal ini masih akan memiliki tiga belas episode dengan dibintangi oleh aktor-aktor yang sama.

Gue kira episode pertama ini sangat menggigit sebagai pembuka. Suasana kelamnya kental banget. Alurnya yang lambat dan banyak teknik pengambilan gambar close up serta slow motion, menjadikan detail dan simbol-simbol yang disajikan terasa jelas.

Mads Mikkelsen dan Hugh Dancy masih memikat seperti dulu. Meski di episode ini kita nggak melihat mereka bersama lagi. Iya, Will Graham akhirnya dimasukkan ke penjara, sementara Hannibal masih bebas berkeliaran. Beberapa orang, seperti Jack dan Alana, masih percaya kalau Will nggak bersalah.

Gue nggak akan menyepoileri adegan pembuka di episode ini, karena esensial betul. Yang jelas adegannya amat sangat seru sekali. Siap-siap untuk menjerit dan bergidik, hihihi. Bakal ada flash back juga kenapa Will bisa sampai muntahin telinga dulu.

Kasus pembunuhannya sendiri baru dimulai dan kelihatan menarik. Korban-korbannya masih diperlakukan secara artistik kayak dulu. Satu hal yang gue jadi suka banget dengan Hannibal ini. Juga satu yang tetap nggak berkurang indahnya kayak dulu, adegan Hannibal masak dan makanan-makanan yang dia sajikan. O la la!

Kurasa episode satu dari musim tayang kedua ini jauh lebih gelap dan seram daripada seluruh musim yang pertama. Kayaknya sih bakal begini suasananya sampai akhir. Tapi, harus nerima alur cerita yang mendadak berubah jadi lambat banget karena tadi, fokus ke sinematografi detail dan ngebangun suasana horornya.

Ada beberapa catatan dari gue sendiri.

Pertama, gue menyoroti Hannibal season dua ini yang pakai trope bookends. Duh, akhir-akhir ini gue akrab banget dengan trope yang berupa adegan pembuka adalah adegan yang akan diteruskan di bagian akhir nanti. Gue pribadi: bosan. Spoiler banget dari awal. Jadinya gue rada kesel gitu pas nonton.

Kedua, alur ceritanya yang lambat banget. Seinget gue dulu nggak selambat ini. Apalagi dengan ngejejelin simbol-simbol dan fragmen-fragmen gambar yang bikin gue nanya, itu untuk estetika atau memang ada maknanya? Dari awal, show ini nggak menganduk filosofis yang kental lewat gambar. Apa yang dikasih adalah bagian dari klue atau bayangan-bayangan Will. Jadi, gue ngerasa sinematografinya yang meski indah banget dan menyenangkan mata, agak terasa berlebihan.

Ketiga, gue jadi nginget-nginget lagi kenapa nonton show ini. Gue bertahan karena senang banget lihat korban-korban dan makanannya yang disajikan begitu artistik di sini. Ceritanya sendiri gue biasa aja, terlebih karena nggak baca buku, jadi nggak mau ngomong banyak. Haha. Jadi, meski kesel sama adegan pembuka, gue masih akan tetep lanjut dong nonton ini.😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s