Resensi / Serial

True Detective S01E07: After You’ve Gone

“Rejoice, death is not the end.”

cohle s1e7 3

Rekap episode 1-5

Rekap episode 6: Haunted Houses

Dua dari yang tersisa. Dua dari yang terakhir. Dua. Dan di sini kita bakal ngeliat duo yang kita kenal sejak awal, Rust dan Marty.

Yap, mereka kembali lagi. Di akhir episode enam, Rust nyamperin Marty dan ngajak dia untuk ngobrol. Rust dengan tampangnya yang nggak sefit dulu (serius, gue mulai berpikiran dia benar-benar sakit), berantakan, dan kelihatan lebih tua dari umurnya, minta Marty untuk menolongnya. Maksa lagi. Di sini, gue ngeliat, Rust ini benar-benar terobsesi sama pembunuhan yang menyangkut Dora Lange dan berkaitan, serta Yellow King dan Carcosa. Kelihatan gitu dari matanya yang… kamu akan tahu mata orang yang terobsesi sama sesuatu itu setajam pisau dan nggak bisa dipatahkan.

Marty yang awalnya nolak, akhirnya mau. Mereka berdua pergi ke sebuah jajaran kios yang tutup gitu. Nah salah satunya adalah milik Rust, isinya seluruh bukti dan petunjuk yang dia kumpulkan selama ini. Sembari itu, keluar juga cerita ke mana Rust pergi selama ini: kembali ke Alaska dan jadi nelayan. Ketika dia ditanya kenapa balik lagi ke Lousiana, Rust jawab semua ini (maksudnya barang-barang bukti yang menghantui dia selama itu). Gue sesungguhnya sama sekali nggak puas dengan jawaban itu. Rust juga nyeritain gimana dia ngerampok rumah Billy Lee Tuttle (sayang sekali adegan ini sedikiiiiitttt). Tapi, bukan Rust yang bunuh Billy.

Pencarian mereka berdua pun berlanjut. Dari ngewawancarain Dolores yang dulu pernah kerja di rumah Edwin Tuttle. Rust nanya tentang sosok yang punya luka di wajah bagian bawah. Dan ketika Rust ngasih lihat kerajinan kayu yang ada di mana-mana itu, Dolores langsung histeris. Dolores bilang kalau kematian bukanlah akhir. Setelah itu malah Rust yang agak gelisah dan berharap itu salah.

Selain itu, Marty diminta Rust untuk memeriksa arsip-arsip lama tentang Marie Fontenot (inget gadis kecil yang hilang di episode 2-3). Marie Fontenot yang bikin mereka nemuin satu lagi kerajinan ranting di belakang rumah bibinya dan bawa mereka ke Reverend Theriot. Nah, dari rumah Lee Tuttle, Rust nemuin video yang kayaknya mengerikan banget sampai bikin Marty mau bantu Rust. Dari situ, mereka nemu nama salah satu sherrif yang dulu satu angkatan sama mereka, duh gue lupa namanya siapa. Orang itu merujuk ke Ted Childress (Childress ini nama kerabat Tutle dan salah satu nama belakang sipir yang waktu itu bawa Guy Francis kembali ke selnya sebelum bunuh diri di episode 5). Tapi Marty tahu kalau orang itu bohong. Di pertemuan kedua, Rust pun muncul bareng Marty di depan orang itu. Nah, ketika agak berantem ini dari mulut si orang itu keluar lagi Angola. Ada apa sih di Angola?

Cohle's storage

Lihat dong gudangnya Rust yang baru. Kelihatan banget kan kalau dia terbosesi.

Subplot lainnya adalah Marty yang ketemuan lagi dengan Maggie. Maggie udah punya rumah baru, suami baru, dan hidup yang baiklah pokoknya. Marty nanya apa aja yang disampaikan dua detektif polisi ke Maggie. Ya, Maggie jawab seadanya. Sampai di akhir, ketika Marty bilang dia percaya Rust nggak ngelakuin apa-apa, justru Maggie menyatakan sebaliknya. Ini bikin gue bertanya-tanya. Kemudian, ada adegan lain ketika Maggie dateng ke bar tempat Rust kerja. Maggie minta Rust untuk nggak melibatkan Marty ke sesuatu yang berbahaya. Tapi, Rust nggak nanggepin Maggie dan langsung ngusir gitu aja.

Di adegan akhir, si dua detektif polisi, Papania dan Gilbrough pergi untuk nyari gereja yang dimaksud Rust. Di tengah jalan, mereka tersesat gitu dan akhirnya berenti nanya ke tukang rumput. Dan dang! tukang rumput itu mukanya codet di bagian bawah. Dia bilang: keluarganya udah lama tinggal di daerah situ. Sayangnya si duo detektif itu nggak sopan sik, motong omongan si tukang rumput sebelum selesai. Gue langsung inget tukang rumput yang ditemui Rust waktu berkunjung ke sekolah ‘Light of Way’, tempat Rianne Oliver (mantannya Reggie Ledoux) bersekolah dong di episode tiga. Dan yaaa, baru ngecek, memang kelihatannya sama-sama badannya besar, tapi yang ditemui Rust itu pakai brewok. Adegan paling akhir, memperlihatkan si tukang rumput yang lagi pakai pemotong rumputnya di semacam area kuburan gitu dan ada sungai yang dilintasi kapal–adegan ini adagak lama lho dan gue nggak ngerti apa ada maknanya.

Kalau di episode lalu, bener-bener bikin melongo. Episode ini sedikit-sedikit bikin jelas dan tetap nyisain rasa geregetan. Misteri-misteri perlahan-lahan terungkap, dan udah mulai meruncing pada satu hal aja. Gue nggak sabar nunggu episode terakhir. Tapi juga sedih ketika sadar cerita ini selesai. Apalagi Rust dan Marty nggak akan balik lagi di musim tayang kedua. Ini kayak nonton film yang durasinya delapan jam dan nggak ada sekuelnya. Habis.

Di episode ini, Rust, kayak yang gue bilang di atas: kelihatan banget obsesinya. Gue bener-bener pengin di akhir nanti dijelasin kenapa dia bisa segitunya. Bener-bener mengerikan dan kayak orang gila. Bikin bergidik. Gue mungkin juga akan bersikap menolak kayak Marty. Ya, ada satu bagian ketika Marty mengajukan argumen kepada Rust, bagaimana dia tiba-tiba mengalienasi diri dan kemudian dengan tiba-tiba kembali gitu aja. Sampai akhirnya Rust bilang kalau Marty punya utang kepadanya, tentang apa yang terjadi di tahun 95. Kita sama-sama tahulah apa.

Salah satu favorit gue adalah ketika Rust cerita tentang keinginannya jadi pelukis. Tapi dia bilang udah terlambat untuk memulai. Muka Rust tahun 2012 itu pucat, kusam, banyak keriputnya, padahal kalau dihitung umurnya paling baru awal 50-an. Terus di episode ini dia ngerokok nggak henti-henti. Suaranya serak, serak banget, persis kayak orang kebanyakan ngerokok. Dia berubah banyak. Banyak banget.

cohle s1e7

Nggak banyak adegan aksi di sini. Gue sempet memekik gembira ngeliat Rust kembali beraksi waktu masuk ke rumah Tuttle, tapi adegannya ternyata singkat banget. Lebih banyak adegan Rust dan Marty yang nyatuin kepingan puzzle, pergi ke sana kemari kayak tujuh belas tahun yang lalu. Nostalgia.

Jelas episode ini jauh lebih bagus menurut gue daripada yang sebelumnya. Meski maskulin banget karena tampilnya Maggie pun singkat, tapi memang dari awal ini cerita tentang Rust dan Marty, jadi menurut gue nggak masalah. Gue juga senang dengan ketegasan Rust terhadap Maggie, kayak nggak bakal maafin gitu deh dan kentara kok benci abis. Gue kira, Maggie layak ngedapetin reaksi itu dari Rust. Dari mereka bertiga, yang kena imbas paling buruk kan Rust. Gue harap sih Rust dan Marty baik-baik aja di akhir. Meski sepenuhnya gue juga nggak pengin kalau Rust bersih gitu aja.

Sekarang, tinggal menanti keping puzzle terakhir.

Preview episode final:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s