film

The Paperboy

the paperboy

Nggak banyak cerita yang meninggalkan trauma. Bukan patah hati. Melainkan ketakutan dan kengerian gitu. Inilah yang gue rasakan sehabis menyelesaikan The Paperboy.

Film indie ini dirilis di festival Cannes tahun 2012. Reviewnya sih nggak begitu bagus. Meski gitu, Roger Ebert ngasih tiga dari empat bintang buat film ini. Gue pribadi sih suka dan menikmati banget film ini.

Pembunuhan yang terjadi di sebuah kota kecil di Florida menarik perhatian Ward Jansen (Matthew McConaughey) untuk kembali ke kampung halamannya itu. Sebagai jurnalis Miami Times, ia tertarik untuk meliput terpidana mati Hillary van Wetter (John Cusack) karena ia yakin Hillary nggak bersalah. Dari Miami, Ward datang bersama Yadsley. Di sana, dibantu oleh adiknya, Jack (Zac Efron), drop out dari kuliah dan jadi tukang antar koran, untuk menjadi sopir mereka selama di sana. Selain itu, mereka juga bertemu Charlotte Bless (Nicole Kidman), cewek berambut pirang, genit, putus asa, yang punya kebiasaan kirim-kiriman surat. Selama beberapa waktu terakhir Charlotte kirim-kiriman surat sama si Hillary dan sampai mereka janjian buat nikah gitu deh.

Karena sering ketemu, lama-lama Jack tertarik kepada Charlotte. Sementara Charlotte nggak mau menodai pertemanan mereka dan tetap percaya kepada Hillary. Mereka berempat mengunjungi Hillary untuk mencari keterangan. Hillary cuma mau bicara kalau ada Charlotte. Tapi yang ada justru Charlotte dan Hillary saling goda satu sama lain. (Astaga, gue benar-benar nahan diri untuk nulis dengan sopan di sini)

Cerita selanjutnya adalah mereka mencari kebenaran tentang kasus si Hillary ini. Ya, akhirnya memang Hillary terbukti nggak bersalah. Akan tetapi, pada perjalanan ke sana, ada banyak hal yang menimpa. Kayak Ward yang di balik senyumnya yang manis punya rahasia yang bikin dia hampir mati. Juga Charlotte yang ketakutan ketika Hillary benar-benar kembali. Dan akhirnya, adalah sesuatu yang bikin depresi abis. Ketika musik credit title mulai main, gue masih duduk dan bengong, ngerasa ngeri sendiri.

Sebenarnya ada satu lagi tokoh yang bikin cerita ini makin hidup dan kelam sih, asisten rumah tangga keluarga Jansen, Anita (Macy Gray). Sebagian cerita ini dikisahkan dari sudut pandang dia. Dia yang membuka cerita.

The Paperboy

Ward (Matthew McCoanughey) dan Jack (Zac Efron)

Setengah durasi film ini agak ngebosenin sih. Cuma karakter-karakternya itu hidup dan kuat banget. Gue suka banget karakter Ward di sini. McConaughey dapet banget ngidupin karakter Ward yang manis dan tegas. Dari yang gue baca-baca, ini adalah peran awal dia setelah sempat rehat main film. Dan tentu aja, ini pilihan yang bagus banget sebagai batu pijakan pindah dari genre romcom ke yang lebih dark dan serius kayak gini. Menuju McConaissance!

Nicole Kidman juga keren banget di sini. Bener-bener kelihatan sisi liar dan propokatifnya gitu. Begitu juga Zac Efron yang bikin karakter Jack yang cinta mati sama Charlotte kerasa nyata.

Cerita ini tentang tragedi. Kebenaran yang terungkap nggak selalu berbuah baik. Apa yang dipercayai nggak akan pernah kita tahu bisa membawa ke mana. Itu sih yang terjadi sama karakter-karakternya. Gue simpatik sama Jack ketika dia ngelihat sendiri Ward digorok lehernya. Gue suka keanehan Charlotte yang suka korespondensi dengan terpidana mati. Kayak setiap orang di sini punya keanehan aja.

Favorit gue adalah chemistry Jack dan Ward. Paling suka ngeliat mereka ketika kembali lagi ke rawa-rawa dan naik kapal berdua. Sweet banget. Mereka mungkin bukan best bromance, tapi tetap aja mereka bisa ngedapetin hati gue. Juga sewaktu, Jack nyelamatin Ward yang berdarah-darah di kamarnya. Adegan itu emosional banget. Gue kira gue salah denger ketika Jack nanya di mana matanya, di mana matanya, karena terakhir Jack nanya di mana kuncinya. Eyes. Keys. Ternyata Ward memang kehilangan matanya. Dan setelah itulah Jack tahu kalau Ward ini gay.

Rasanya ini kali pertama gue lihat karakter yang dimainkan McConaughey jatuh sebagai korban. Kehilangan mata. Kehilangan nyawa–digorok pakai golok/pisau panjang di depan amtan dengan eksplisit. Gue cuma bisa melongo. Terlepas peran Ward itu dimainkan McConaughey atau bukan, adegan itu tetep akan bikin gue melongo dan shock. Jack harusnya nyesel banget karena itu dan dengerin kata kakaknya, jadi mereka berdua bisa selamat.

Ya gue suka juga dari film ini adalah musik temanya yang gothic. Sebenarnya nggak semuanya gotik, beberapa terasa pop gitu. Tapi pop yang creepy gitu lho. Atau mungkin karena suasananya udah kebangun lewat gambar, lagu-lagu tersebut jadi kerasa bikin bergidik. Jempol buat musiknya.

The Paperboy_Nicole Kidman

Dimulai dari True Detective, gue baru tahu kalau ada genre fiksi yang namanya Southern Gothic. The Paperboy yang diangkat dari novel berjudul sama ini, termasuk dalam judul tersebut, ditambah noir, thriller. Apapun yang pasti ceritanya gelap dan suram. Southern Gothic ini kisah yang latarnya di Amerika Serikat bagian selatan, Texas, Lousiana, Missisippi, yah yang kali ini Florida. Biasanya menceritakan keadaan yang mistis, misterius, memudar, pokoknya sesuatu yang menuju mati. Hamparan lapangan yang kering, hamparan rawa-rawa yang gelap dan mengerikan, hamparan ladang yang sunyi dan sepi, atau daerah kota/desa yang kumuh dan orang-orangnya kelihatan depresi. Bukan cuma itu, ada juga yang menyangkut hal-hal supranatural kayak ritual pembunuhan, voodo, sesuatu yang kuno, sesuatu yang menakutkan. Itu. Southern Gothic. Film McConaughey lainnya yang agak nyerempet adalah Bernie dan Killer Joe. Dua judul itu nggak sedepresi ini, cuma, kamu akan tahu misteri yang sejalan di situ. Serial yang genrenya begini selain True Detective, yaitu American Horror Story: Coven, serta The Walking Dead. Kalau buku, kamu bisa baca The Call of Cthulhu-nya H.P. Lovecraft atau buku-bukunya William Faulkner.

Pokoknya, buat gue film ini lebih bikin depresi dari pada film horor yang pernah gue tonton sebelum-sebelumnya. Setelah True Detective habis minggu depan, gue rasa akan berhenti nonton yang bergenre Southern Gothic begini. Nggak mau lagi lihat rawa-rawa mengerikan itu. Meski begitu, ini adalah film yang apik, meski gue harus kasih peringatan buat kamu kalau nanti nonton film ini mungkin banyak nyisain perasaan melankolis. Atau yang lebih parah, depresi, kayak gue.

paperboy-poster-matthew-mcconaughey

Si ganteng

Kalau mau baca cerita lengkapnya, lanjutan dari di atas. gue udah nulis ini sebelumnya, tapi karena terlalu spoiler akhirnya gue pindah ke bawah karena sayang mau dihapus.

Perjalanan nyari keterangan nggak berenti sampai di situ. Ward dan Jack pergi ke rawa-rawa yang terletak di sekitar daerah situ untuk nyari sodara Hillary. Masuk keluar lumpur dan pohon-pohon yang mengerikan banget (ugh gue benci rawa), sampai juga mereka ke sebuah rumah yang dihuni keluarga yang jelas melakukan incest. Mereka nggak dapat keterangan banyak. Waktu kembali ke kota, Yarsley bilang udah dapet keterangan dari anonim dan akhirnya pulang ke Miami duluan. Ward masih bertahan karena nggak percaya dengan Yarsley. Ketika mereka mau pergi lagi ke rawa-rawa itu, Ward yang ternyata gay, jadi korban kekerasan seksual. Matanya hilang dan sebagian wajahnya terluka.

Setelah kejadian itu, Charlotte milih untuk pulang. Tapi Jack menghalangi dan terus bilang kalau dia nggak cinta Hillary. Charlotte bersikeras. Nggak lama setelah itu, Hillary beneran bebas dan maksa Charlotte untuk ikut dia pindah ke rawa-rawa. Sementara itu, Yarsley mau menerbitkan ceritanya sendirian tanpa nama Ward dan malah ditawari kontrak penerbitan buku. Jack sampai nyamperin Yarsley di Miami, tapi ya nggak bisa ngubah apapun.

Di pernikahan kedua ayahnya, Jack nerima surat dari Charlotte. Setelah itu, Jack mau pergi ke rawa-rawa sendirian tapi dihadang Ward. Akhirnya, mereka pergi berdua. Perjalanan kedua menuju ke sana ini lebih mengerikan. Namun, keduanya sampai lagi di rumah yang dulu pernah dikunjungi. Rumah itu tampak kosong. Jack pun manggil-manggil nama Charlotte, tapi yang keluar malah Hillary dengan pisau di tangannya. Ward nyuruh Jack untuk kembali ke kapal motor mereka. Tapi Jack nggak dengerin Ward dan malah nantangin Hillary. Ward cepet-cepet ngelindungin Jack, yang bikin dia langsung ketangkep Hillary dan digorok lehernya. Jack melarikan diri, sempat nyebur ke rawa karena diburu Hillary. Sampai pagi Hillary nyari, tapi nggak ketemu. Ketika balik ke rumah, Hillary ngeliat mayat Ward dan Charlotte udah nggak ada lagi.Akhirnya, Hillary pun dibunuh mati atas pidana pembunuhan Ward Jansen dan Charlotte Bless.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s