Resensi / Serial

Hannibal S02E02: Sakizuki

hannibal s02e02

Setelah nonton episode dua ini, gue mengakui kalau season dua ini jelas kelihatan banget peningkatan kualitasnya dibanding season sebelumnya. Paling bikin gue terkesan adalah gambar-gambarnya yang minimalis, artistik, sekaligus menghantui. Palet warna yang dipakai di episode ini, udah jelas banget nujukkin kesuraman ceritanya. Kesuraman Will Graham. Ketakutan dan misteri dari mural manusia di tengah kebun jagung.

Di akhir episode satu lalu, adegan terakhir adalah mural manusia tersebut yang ada di dalam gudang. Di episode ini, terungkap siapa pembunuh dan artis dari mural tersebut. Sayangnya, tanpa tahu motifnya, si artis ini dijadiin bagian dari mural duluan sama Hannibal. Kakinya jadi tropi buat Dr. Lecter sendiri dan disajikan dengan menerbitkan air liur gitu deh. Haha. Top markotop deh.

Mural manusia ini jadi latar berkali-kali dalam episode ini. Nggak menjijikkan kok. Kalau dilihat dari atas, itu kayak iris mata manusia.

Supblot lainnya adalah psikiater Hannibal yang memutuskan untuk nggak lagi ngurusin Hannibal. Terakhir dia dateng untuk bilang kepada Will kalau dia percaya sama Will dan jelas itu alasan dia kenapa mundur dari kehidupan sosial.

Adegan pembuka episode ini juga juara banget! Bikin ngilu dan sakit di sekujur tubuh. Bagian terbaik dari episode ini ada di situ! Haha.

Gara-gara pakai adegan pembuka kayak gitu di episode satu kemarin, gue ngerasa misteri dari Hannibal ini nggak ada lagi. Ceritanya lurus aja, karena tahu apa yang bakal terjadi di akhir. Buat gue ketegangannya terasa turun. Jadi, gue cuma lihat buat sisi artistiknya aja, makanan dan korban-korbannya terutama.

Apalagi di episode ini kita udah dikasih lihat gimana Hannibal berakting. Dia ngomong, tapi bukan nyampein apa yang dia pikirin. Iya sih, dia jadi nakutin. Tapi, beneran deh itu mengganggu gue banget. Naratif kayak gitu ngeganjel buat gue pribadi.

Hannibal ini bukan show yang ngajak mikir dalem-dalem dan filosofis karena udah tahu apa yang bakal terjadi di belakang, tapi ngajak menikmati cerita dan teror yang dihadirkan oleh Dr. Lecter. Plus, kasus-kasus yang korbannya ditata oleh tangan seniman. Gue belum baca bukunya sih, tapi apa di bukunya juga diperlakukan kayak gitu juga ya? Dan tentunya makanan-makanan yang kelihatannya enak banget. Haha. Jadi, dinikmati aja gambar-gambar yang memanjakan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s