Resensi / Serial

True Detective S01E08 (finale): Form and Void

“Once, there was only dark. Ask me, the light’s winning.”

true detective e8 4

Ambil bir Lone Star-mu, atau kalau nggak ada ayo ngobrol dengan secangkir teh aja. Yap, setelah malam yang panjang, terang yang berganti gelap, kamu akan butuh secangkir teh hangat.

Kamu tahu ketika sebuah cerita selesai, ada lega yang ngalir dalam hati. Lega karena konflik si karakter selesai dan si karakter siap untuk meneruskan hidupnya dengan pengalaman yang udah bertambah. Itu adalah apa yang gue rasakan di episode final dari True Detective. Haru dan hangat. Pilu dan lega. Salut sekali sama Nic Pizzolatto, Cary Fukunaga, dan segenap orang-orang belakang layar True Detective. Gue pengin bilang terima kasih.

Di episode yang lalu, Rust dan Marty ada di kapal untuk mengintrogasi Steve Geraci (gue nggak lupa lagi nama dia) tentang Marie Fontenot. Setelah dapet keterangan dari Geraci dan mereka bikin Geraci ninggalin sidik jari di video ritual, mereka turun dari kapal. Geraci sempat mau ngancam mau ngapa-ngapain Rust, tapi dengan keren banget Rust bawa sniper (bapak-bapak yang punya bar tempat Rust kerja) dan cu…cu…cu…cu…cu bolong-bolong deh Maserati si Geraci. Badass banget deh Rust pokoknya, harus lihat waktu dia kasih kode untuk nembak.

Dari situ mereka nyari lagi si monster spageti dan nemuin titik terang dari sebuah rumah yang dicat hijau. Rumah ini dulu di episode satu atau dua pernah didatangi Rust. Nah, dari situ akhirnya mereka bisa ngelacak keberadaan Childress. Keduanya pun melacak ke sana, setelah sebelumnya Marty ngasih tahu Papania tentang rencana mereka. Sampai di sana… di Carcosa. Di depan altar The Yellow King. Topeng-topeng akan dilepaskan.

Gue nggak mau spoiler. Cupicup!

true detective e8 3

Lupain semua teori. Ternyata penyelesaiiannya sesederhana itu aja kok. Apa yang udah disajikan di depan ya dijawab di sini. Konflik utamanya selesai, nggak melebar. Meski banyak pertanyaan yang tersisa, tapi rasanya itu bukan hal-hal yang essensial kok.

Episode ini menghadirkan ketegangan dan horor. Di setengah jam terakhir, ketika diajak masuk ke Carcosa, kayaknya tuh nyess gitu darah ngalir dari kepala ke kaki. Ada takut dan ingin tahu jadi satu. Ada juga rasa pengin narik Rust dari situ. Tapi, dia adalah Rust, siapa sih yang bisa ngejinakkin dia?

Dan pengelihatan itu datang lagi ke Rust. Hal-hal yang nggak pernah benar-benar hilang dari kepalanya. The Void. Lingkaran serupa yang tertinggal di pohon tempat mayat Dora Lange ditemukan ketika Rust berkunjung di 2002.

Ada adegan yang bikin menggigil di sini. Bener-bener bikin gue duduk di ujung bangku sambil gigit bibir dan ketakutan sendiri. Bikin ngilu dan memekik ngeri. Bukan kok, bukan sesuatu yang supranatural. Hanya terang dan gelap.

Horor itu juga dibangun dari desain setting yang bagus banget. Detail banget. Carcosa yang megah sekaligus mengerikan. Yang penuh misteri dan terasa mistik. Yang gelap dan suram. Gue terpesona oleh Carcosa, tapi nggak mau menginjakkan kaki di sana. Belum lagi sinematografi yang apik. Ada beberapa adegan yang menyentuh banget, di altar Yellow King, terutama. Dan gue suka banget ketika montase dari beberapa latar penting dalam True Detective disajikan, dari Carcosa sampai ke Erath–nostalgia yang membuat lega. Erath yang di sana udah hijau, nggak lagi kelabu. Permainan warna yang apik.

Selain ke kru di balik layar, dua orang yang patut banget dapet apresiasi adalah Matthew McConaughey dan Woody Harrelson. Ayo, kasih tepuk tangan! Keduanya di episode ini benar-benar total. Kalau kamu nggak ngerasa nyeri waktu lihat ekspresi mereka di Carcosa atau haru ketika mereka akhirnya tumpah perasaannya, nggak tahu di mana hatimu deh. Keduanya adalah bromance favorit gue sekarang. Kamu bakal ngerasa itu ketika mereka ngobrol satu sama lain di sepanjang episode ini. Obrolan yang ngasih jawaban-jawaban, obrolan yang lakik banget.😀

Ending ini bikin gue berurai air mata. Gue nggak tahu mana yang lebih bikin gue sedih, apakah karena cerita ini berakhir atau karena Rust nggak akan kembali lagi di musim tayang depan. Kayaknya sih gabungan keduanya. Ini adalah ending yang indah. Rasanya kayak baca novel. Sesaat setelah selesai kamu nggak benar-benar tahu apa yang terjadi, karena banyak, karena ada pikiran-pikiran dan nostalgia merubung dalam kepalamu.

Adegan terakhir True Detective–adegan yang jadi bukti kalau Nic Pizzolatto memang menyukai sebuah cerita dengan akhir. Adegan itu adalah akhir. Akhir pertarungan gelap dan terang. Akhir dari cerita Rust tetang Alaska. Akhir dari… gue nggak tahu lagi. Yang jelas gue tahu, gue lega ketika lagu di ujung mulai main dan credit title keluar. Mungkin Rust dan Marty nggak akan kembali, tetapi ini adalah akhir yang terbaik buat mereka. Hidup dalam kenangan yang heroik dan manusiawi. Hidup dalam salah satu cerita yang bakal dikenang banyak orang, sepanjang masa.🙂

3 thoughts on “True Detective S01E08 (finale): Form and Void

  1. Ini film mantabss abisss …
    Salut gw sama ini film. Horor sih gak, tpi misterinya itu lhoo … Hahaha
    “Waktu adalah lingkaran datar” fredrich nitze … Filsafatnya dapet banget.
    Hehehe
    Pokoknya … Gak bosenin ini film.hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s