buku / Resensi

Maya

“Jika cinta menempuh jalan yang salah, jangan putus asa terhadap cinta.”

Maya

Maya adalah buku ketiga dari seri Bilangan Fu yang ditulis Ayu Utami. Salah satu seri cerita favorit gue sih yang tentunya nggak akan gue lewatkan.

Maya masih mengisahkan karakter-karakter dari cerita Bilangan Fu. Kali ini adalah Parang Jati. Ditambah, di sini juga muncul Yasmin, serta Saman dan sedikit tentang Larung. Saman dan Larung, masing-masing punya cerita yang ditulis dalam novel tersendiri sekitar belasan tahun lalu (gue lupa tepatnya, tapi gue baca kedua buku sekitar 10-11 tahun lalu).

Kisah ini dibuka oleh kedatangan Yasmin ke padepokan Suhubudi dengan membawa surat-surat yang baru diterima dari Saman serta sebuah batu mustika. Yasmin ingin mencari tahu di mana Saman sekarang serta apa yang terjadi kepada pria itu ketika dulu pergi menyelamatkan tiga aktivis mahasiswa yang diselundupkan ke luar negeri. Di padepokan, Suhubudi menitipkan Yasmin kepada Parang Jati. Di padepokan juga, Yasmin bertemu dengan Maya, perempuan albino yang mengalami pertumbuhan badan tidak sempurna, bagian dari Klan Saduki. Dan cerita berputar di antara Yasmin, Maya, Parang Jati, dan batu mustika.

Terlalu banyak nostalgia di Maya. Membuat baca buku ini serasa buka buku kenangan Yasmin dan Parang Jati. Ceritanya masih menarik seperti halnya buku sebelumnya. Namun, itu tadi, yang mengusik gue adalah nostalgia di mana-mana.

Cerita ini memang perjalanan Yasmin nyari jawaban. Parang Jati yang harus nurutin ayahnya sementara ia ingin bergabung dengan aksi mahasiswa yang lagi panas di luar sana. Semua hal saling kait mengait. Yasmin dan Parang Jati sama-sama dapat teguran, jawaban, dan pelajaran.

Nostalgia itu yang bikin gue ngerasa cerita ini lebih lemah daripada Lalita atau Manjali dan Cakrabirawa. Kali ini lebih menyerempet tentang kenangan politik dan aksi Menolak Lupa. Sementara dua buku sebelumnya, kental dengan sejarah budaya. Rasanya itu juga yang bikin gue kurang terikat ke cerita ini. Meski, Ayu Utami nyeritain bagaimana seramnya masa itu dengan baik banget. Horor dan tegangnya kerasa.

Bahkan Parang Jati yang biasa brilian, di sini kelihatan biasa aja dan cenderung ceroboh. Cerita dia tentang batu mustika–batu supersemar juga nggak semenarik biasanya. Bisa jadi efek nggak ada Yuda, jadi Parang Jati kelihatan biasa-biasa saja.

Favorit gue dalam buku ini adalah tentang sejarah Candi Prambanan. Tentang Roro Jonggrang. Juga tentang Ramayana. Sayangnya, bagian ini nggak dikulik sedalam waktu Lalita cerita tentang Borobudur.

Kepiawaian Ayu Utami menyusun kata-kata dan membangun struktur cerita jadi favorit gue dari buku ini. Dan kayaknya itu selalu jadi alasan gue untuk balik ke buku-bukunya. Gimana dia membungkus mana dalam kalimat-kalimat sederhana. Suka banget.

Di akhir, jawaban yang dicari Yasmin mengapa surat itu baru datang sekarang, ternyata sangat sederhana. Seharusnya Yasmin yang rasional dan moderen bisa memecahkan itu dengan mudah, kalau saja dia mau melihat lebih teliti. Dan hal itu adalah yang selalu terjadi kepada gue atau banyak orang, kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata malah tersembunyi. Jawaban-jawaban yang kamu cari, mungkin ada di bawah hidungmu selama ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s