film / Resensi

Reign of Fire

reign of fire bale

Jauh dari jaman kejayaan naga di layar kecil dan layar besar seperti sekarang, dulunya ternyata Matthew McConaughey pernah jadi seorang dragon slayer tahun 2002.

Pada masa itu, ras naga bangkit dan menguasai Bumi. Membakar dan menjadikan banyak kota menjadi abu. Salah satu kelompok yang selamat dipimpin oleh Quinn (Christian Bale) dan sahabatnya, Creedy (Gerard Butler) berada di luar kota London. Setelah beberapa orang yang ceroboh keluar dari kastil, naga pun membaui kediaman mereka. Bersamaan itu datanglah serombongan orang Amerika dengan senjata lebih canggih yang dipimpin oleh Denton Van Zan (Matthew McConaughey). Van Zan bersama pasukannya dan dibantu oleh Quinn bisa membunuh satu naga. Mereka kemudian bersikeras untuk datang ke London mencari satu pejantan. Kalau pejantan itu mati maka spesies naga akan punah.

Gue suka naga. Gagah dan serakah. Angkuh dan anggun sekaligus. Kejam dan tamak pada saat bersamaan. Terbang dan berapi-api, apa yang nggak indah dari mereka? Meski kadang digambarin kayak reptil yang jelek. Hih.

Naga di sini, nggak terlalu bagus. Lebih banyak shoot dari jauh atau tertutup asap sehingga nggak jelas detailnya. Begitu pula apinya, sering kentara banget itu CGI-an, jadi nggak terasa terlalu real.

Namun, gue suka sinematografinya. Kesan dystopia-nya dapet banget. Kumuh dan suram. Bahkan orang-orangnya kelihatan lusuh. Gue suka kalau yang diambil gambar lanskap. Kenapa nggak ngambil banyak gambar lanskap aja sih ya. Favorit gue adalah adegan ketika Quinn ngeliat Van Zan berdiri menghadap api unggun besar yang berkobar. Sosoknya kayak siluet dalam kegelapan dan membelakangi nisan-nisan sederhana dari ranting kayu. Gosh, itu bagus dan hidup banget. Apalagi sebelum itu didahului adegan Van Zan berkaca-kaca dan hampir nangis. Tragis dan magis jadi satu.

Reign-of-Fire

Bagian favorit gue tentunya ngeliat dua aktor utama di sini adu akting: Christian Bale dan Matthew McConaughey. Beneran deh, tanpa dua orang itu film ini bakal kerasa membosankan dan nggak hidup. Bukan karena alasan gue suka McConaughey, tapi beneran, rasain sendiri, hahaha. Bale memerankan Quinn yang depresi, pemikir, dan banyak pertimbangan–agak pengecut menurut gue. Tentunya, nggak mengecewakan sama sekali dan di sini Bale kelihatan ganteng deh. Hehe.

Sementara McConaughey, jauh dari kata ganteng. Jauh banget. Gue suka karakter dia di sini. Cuma karena karakternya kurang dalam dan entahlah dari skenario atau arahan sutradara atau editingnya, karakter dia jadi kerasa dangkal. Padahal, kepalanya udah gundul, brewokan, kulitnya gelap kusem (nggak pernah mandi kali ya?), tapi jelas kharismanya nggak penah luntur. Gue nggak suka ending untuk karakter McConaughey, heroik yang sia-sia. Pengin deh lain kali lihat mereka main bareng lagi, tentunya kali ini dalam kapasitas yang berbeda. Serius deh, mereka berdua keren banget.

Sesungguhnya tema dystopia yang ini menarik. Hanya saja, latar belakang naga-naga ini kurang dieksplorasi dan nggak disajikan. Jadinya ini semua cuma kayak perang antara monster dan manusia aja. Lagipula, masalah begini nggak bisa diselesaikan dengan mereka berdua aja. Ini kan masalah global. Itu bikin cerita ini nggak terasa realistis.

Serius deh. Gue nonton dengan ekspektasi biasa-biasa dan hasilnya malah terhibur abis. Memang hiburan banget sih, jadi nontonnya nggak perlu sambil banyak mikir. Enjoy aja keseruan-keseruannya dan kegantengan Bale serta McConaughey! Yeah, McConaughey the Dragon slayer!

reign_of_fire_005

Van Zan, the dragon slayer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s