Jurnal

“We’re reaching a point where we can’t let the shows we love breathe and tell their story anymore. Hundreds of thousands of online commenters want to finish the story before the writers do. Then they criticize the writers for not telling the story they imagined was going to be told.”

HBO's "True Detective" Season 1 / Director: Cary Fukunaga

Baca itu dari artikel Tom+Lorenzo dalam konteks ngomongin ending True Detective. Gue suka banget serial tersebut dan secara pribadi endingnya adalah sesuatu yang memuaskan. Karena ending adalah yang paling banyak dikritisi oleh orang-orang (dan media). Karena mereka nggak mengharapkan penyelesaian yang sesederhana itu setelah dua bulan berteori ini dan itu.

Sebelum ending, gue sengaja nggak ngikutin berbagai teori tentang akhir dari kisah ini. Gue mau nikmatin aja dan apapun endingnya, gue akan suka. Dan karena dari awal gue tahu kisah ini berdasarkan karakter, gue cuma pengin Nic ngasih ending yang sesuai dengan apa yang udah dijalanin karakter sepanjang cerita. Nic ngasih itu.

Pernyataan di atas juga yang bikin gue gerah sama fandom Sherlock. Gue suka banget Sherlock season 1 dan 2. Cerdas, menghibur, dan, ya, mind-blowing. Ketika sampai di season 3, gue ngerasa kayak baca fanfiksi Sherlock. Itu bikin gue bingung dan sebel sendiri. Berkali-kali nanya, kenapa orang bisa keiket ke cerita baru sementara gue nggak.

Lainnya, adalah gimana di tumblr, fan bikin meta dan analisis kalau seharusnya karakter begini dan karakter begitu. Capek banget bacanya. Gue suka diceritain. Dan ketika si pencerita bahkan nggak bisa bikin ceritanya sendiri dan malah ngikutin mau gue (atau fan lain)… itu mengecewakan banget. Meski itu bermaksud bikin fan senang setelah nunggu lama.

Mungkin gue udah berenang terlalu ke tengah di fandom Sherlock. Saatnya minggir dulu atau ngeliat dari tepi kolam. Gue masih ngefans dengan Sherlock (terutama S1&2) dan tentunya gue masih menikmati banget Benedict Cumberbatch. Gue harap season 4 nanti, penulis-penulis Sherlock bisa lebih mandiri dan pede dengan cerita mereka sendiri. Gue inget ketika pertama kali kecebur ke fandom tersebut, karena gue suka banget cara bertutur dan karakter Sherlock yang misterius.

tumblr_mz5sk3sMbf1qgae0ho1_1280

Nonton serial yang episodenya datang perminggu memang beda dengan baca buku. Meski buku yang berserial bisa mengalami hal kayak gini juga, tapi gue sendiri nggak pernah terlalu nyebur kalau mengenai plot buku. Sementara kalau serial, internet memang menggoda banget untuk cari tahu. Dari kecintaan karakter sampai pengin tahu apa yang orang-orang pikirkan dan prediksikan tentang misteri-misteri.

Di situ sih godaannya. Apalagi kalau yang narik ke cerita adalah misterinya. Kayak ngerjain puzzle sama-sama. Tapi, coba lagi pikir tentang puzzle. Teka-teki kayak puzzle udah punya gambaran besar dan gimana akhirnya–pasti jadi seperti itu. Bukan karena gue nggak suka akhirnya seperti itu lalu nyusun potongannya sendiri.

Membuat ending yang baik dan sesuai memang nggak mudah. Perlu belajar, banyak mencerna cerita dan banyak berlatih sendiri. Ending bisa datang di depan, tapi sejalan dengan hidup bareng karakter selama proses kreatif, penulis bakal tahu ending yang terbaik buat karakter dan ceritanya. Ya, walau nggak dipungkiri setiap penulis punya ego sendiri gimana cerita itu harus berakhir.

Gue sendiri nggak menyangkal pernah bikin cerita dengan ending-ending yang buruk dan sampai sekarang masih belajar untuk adil. Adil bagi gue sendiri sebagai storyteller dan adil bagi karakter gue. Gue udah mencemplungkan mereka dalam masalah, bikin mereka memilih dalam dilema, dan sesuatu harus mereka dapatkan. Reward. Karma. Atau apalah namanya.

Belajar dari Sherlock dan True Detective, mungkin gue akan menjaga diri dari meta dan analisa-analisa di internet. Meski fun untuk ngikutin semua itu. Gue harus inget kalau cerita adalah punya si pencerita. Gue senang mereka berbagi dan bikin gue jatuh cinta sama cerita atau karakternya. Tetapi, bukan hak gue untuk menentukan akhir ceritanya kayak apa. Belajar lagi untuk menikmati cerita karena ceritanya sendiri.

Kecewa memang lumrah, apalagi setelah ngabisin banyak waktu dan sebagainya untuk ‘menikmati’ cerita dan karakter. Hal itu juga kadang-kadang nggak bisa gue hindarkan. Terlebih kalau udah berekspektasi besar. Ekspektasi adalah hal baik. Cukup ekspektasi akan memuaskanmu. Terlalu banyak ekspektasi akan membunuhmu. Yang baik: sedang-sedang saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s