film / Resensi

Heathers

heathers-movie-poster

Gue nemu judul ini ketika browsing film-film remaja yang wajib ditonton versi Guardian. Tergoda karena di review singkatnya itu kisah film ini tentang tragedi. Yup, gue memang konsumen cerita-cerita tragedi. Remaja dan tragedi, gue rasa itu paduan bagus. Film ini dirilis bulan Oktober 1988. Meski, udah 25 tahun, tapi ceritanya nggak lekang sama waktu deh.

Kisahnya tentang geng ‘Heathers’ yang populer gitu dan tiga anggotanya bernama ‘Heathers’, kecuali Veronica. Veronica ini kesel banget sama ketua geng Heathers, Heather Chandler, yang suka ngebully dan maksa. Sampai mereka bertengkar setelah dari pesta kampus gitu, Veronica langsung dendam banget dan pengin bunuh si Heathers. Veronica yang lagi deket dengan cowok namanya James Dean atau J.D., akhirnya merencanakan pembunuhan iseng. Mereka ngasih minum Heather Chandler dengan cairan pembersih gitu dan Veronica pura-pura bikin suicide note biar kematian Heather Chandler dianggap sebagai bunuh diri.

Setelah itu, Veronica dan J.D. juga membunuh dua cowok populer sekolah yang suka ngebully. Bikin kematian mereka seolah-olah bunuh diri karena keduanya saling mencintai (padahal keduanya nggak gay). Gelombang kematian itu ternyata menular, ke satu cewek yang suka dibully karena berat badan, dia nyoba bunuh diri. Namun percobaan bunuh dirinya gagal. Juga salah satu anak geng Heathers, Heather McNamara, mau bunuh diri. Kali ini juga digagalkan oleh Veronica.

Akhirnya Veronica pun memutuskan hubungan dengan J.D. tapi cowok itu nggak tinggal diam. Dia mengancam akan membunuh Veronica dan alhasil Vero pun harus pura-pura bunuh diri. Ternyata cowok itu berniat meledakkan sekolah karena hal itu bisa jadi tragedi. Karena si J.D. ngerasa nggak ada yang sayang sama dia. Veronica pun berusaha menggagalkan rencana J.D. Sayangnya cowok itu selalu punya back-up plan. Seenggaknya Veronica nggak berhenti berusaha.

heathers 1

Gue nggak nyangka sama sekali kalau filmnya bakal seperti ini. Gue kira cuma masalah bullying biasa dan sampai parah. Ternyata nggak seperti itu. Jujur aja, di akhir film gue ngerasa nggak nyaman. Meski nggak separah seperti nonton The Paperboy tempo hari.

Veronica yang diperankan Winona Ryder keren dan asik. Tapi, lebih mencuri perhatian si Christian Slater yang meranin J.D. sih. Psikopat banget gitu mukanya. Akting keduanya asik. Begitu juga pemeran-pemeran lainnya.

Ini film yang remaja banget. Ketika masuk ke ceritanya gue bisa ngeliat dari sudut pandang remaja. Masalah kayak gitu kan biasanya bakal beda ketika dilihat dari kaca mata orang dewasa, tapi film ini bikin bisa ngerasain emosi dan maklum dengan sikap impulsif para remaja. Rasanya kayak di dunia ini cuma ada mereka dan masalah mereka. Nggak peduli dengan konsekuensi yang mungkin bakal diterima nantinya. Gue suka ini.

Akan tetapi, itu jadi ganjalan juga sih di gue. Jadi mikirin, ya masa polisi nggak ada olah TKP dan sebagainya. Nyari sidik jari sampai bisa ketahuan itu pembunuhan. Cuma karena ceritanya ngalir banget, itu sedikit-sedikit bisa tersingkirkan.

Latarnya tahun 80-an dan gue suka lihat style tahun segitu. Apalagi dibuatnya juga tahun 80-an, jadi kerasa otentik aja. Haha. Sountracknya sendiri pakai lagu Que Sera, Sera yang diaransemen ulang. Cakep deh. Pas sama ceritanya.

Ini cerita remaja yang nggak bisa. Ngasih sudut pandang yang remaja banget buat masalah bullying dan gimana mereka keluar dari masalah tersebut. Kehidupan remaja memang keras, bung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s