film / Resensi

Young Adult

young_adult_ver2

Sebenernya gue udah nonton film ini tahun lalu. Sebagai penggemar berat film-filmnya Jason Reitman (Thank You for Smoking, Juno, dan Up in The Air), gue nggak akan melewatkan ini dong. Apalagi karakter utamanya adalah penulis. Yup, judulnya sih Young Adult, tapi ceritanya sama sekali bukan buat remaja.

Mavis Gary (Charlize Theron), 37 tahun, adalah seorang penulis, tepatnya ghostwriter, seri young adult yang pernah jaya. Yap, pernah, karena sekarang Mavis sedang menghadapi deadline untuk seri terakhir novel yang dia tulis karena penjualannya terus menurun. Di tengah-tengah deadline, dia nerima sebuah email dari Beth (Elizabeth Reaser), istri mantan pacarnya waktu SMA, Buddy Slade (Patrick Wilson). Beth mengabarkan kalau mereka baru saja dikaruniai seorang anak. Mavis merasa undangan itu seharusnya buat orang-orang dekat aja, sementara dia udah bertahun-tahun nggak bicara dengan Buddy. Karena merasa itu pertanda Buddy mengundang kembali Mavis ke kehidupannya, akhirnya Mavis memutuskan untuk kembali ke Mercury, kampung halamannya.

Udah bertahun-tahun Mavis yang dulunya prom queen dan anak populer waktu sekolah nggak pulang ke Mercury. Kelihatan banget gimana Mavis yang selama ini tinggal di Minneapolis, kaya alien ketika kembali ke Mercury. Dia ketemu dengan Matt (Patton Oswalt), temen sekolahnya, di salah satu bar. Kepada Matt, Mavis ngebeberin rencananya terhadap Buddy. Matt nganggep Mavis gila dan nggak bisa dewasa, tapi Mavis tetep maju. Sampai akhirnya, Mavis dateng ke acara pemberian nama anak Buddy dan Beth. Dia ngejalanin semua sesuai rencananya, tetapi ternyata nggak bisa berjalan semudah itu.

Sebenarnya banyak yang terjadi sepanjang cerita. Gue pengin tulis semua karena satu adegan dengan yang lain berkaitan. Tapi, semua itu enakan ditonton langsung sih.

young adult

Mavis (Charlize Theron), Buddy (Patrick Wilson), dan Beth (Elizabeth Reaser)

Young Adult yang dirilis tahun 2011 ini kerasa bedanya dengan Juno dan Up in The Air, kalau dua judul itu menyentuh banget dan bikin simpati sama karakter utamanya. Sementara YA ini, ngasih karakter utama yang sama sekali nggak likeable, kekanak-kanakan, dan pokoknya sebel deh. Kecuali… mungkin kalau kamu penulis, kamu bisa mengerti cara kerja otak si Mavis ini.

Dalam ngegambarin kehidupan penulis, film ini dapet banget sih. Ya nggak semua seberantakan Mavis sih, tapi banyak yang gitu. Bawa laptop di manapun, nulis kapanpu, nguping pembicaraan orang lain untuk dijadikan bagian cerita, dan ngehindar-hindar dari editor (terutama kalau ada hal-hal di luar nulis yang lagi bikin berantakan dan menyita perhatian). Haha. Gue suka voice over apa yang ditulis Mavis ketika ngetik. Itu bener kok, penulis kalau lagi nulis itu cuma nyalin apa yang bersuara di dalam kepalanya.

Charlize Theron keren banget meranin Mavis yang ‘psikotik’ dan nyebelin. Seperti yang gue bilang di atas, dapet banget aura penulisnya gitu. Patton Oswalt, yang meranin Matt juga dapet banget ngimbangin Theron dan perannya sebagai cowok geek yang cacat juga bagus.

Yang gue suka dari film-filmnya Reitman itu karena pasti ada adegan yang kayak nyentil dan membekas banget. Di film ini, ada dua adegan favorit gue. Di bagian Mavis dateng ke pestanya Buddy dan Beth, ketika Mavis baru aja ngomong sama Buddy kemudian di depan orang-orang dia marah-marah. Gue suka banget bagian itu. Gue bisa ngerasain frustasi dan keselnya Mavis serta perasaan benci ke Beth. Okelah, Beth mau baik dan ngerasa nggak enak… tapi nggak gitu juga caranya. Bagian kedua yang jadi favorit gue adalah ketika Mavis bareng Buddy dateng ke salah satu baru untuk lihat penampilan Beth dan bandnya. Di penampilan mereka itu, Beth dan bandnya bawain lagunya Teenage Fanclub yang judulnya The Concept untuk Buddy. Padahal lagu itu, ada di mixtape yang dulu dibuatin Buddy buat Mavis dan Mavis dengerin sepanjang jalan dari Minneapolis sampai ke Mercury. Ekspresi Mavis saat denger itu langsung kaget, tapi Buddy yang ada di sampingnya malah menikmati banget. Gue tahu banget tuh rasanya, sebel banget pastinya.

Dan seperti film-film Reitman yang lain, gue suka lagu-lagu soundtracknya. Kali ini dikerjain sama Rolfe Kent, yang sebelumnya kerja bareng Reitman untuk Up in The Air. Habis nonton film ini pastilah langsung terngiang-ngiang The Concept-nya Teenage Fanclub. Enak banget buat nyanyi keras-keras gitu. Haha.

Film ini memang nggak sekeren Juno atau Up in The Air. Akan tetapi, sama membekasnya ke gue seperti dua judul itu. Rasanya karakter Mavis tuh deket banget dan kerasa nyata. Banyaklah orang yang kayak gitu. Tapi, bukan berarti nulis young-adult kemudian nggak bisa dewasa gitu ya.

Gue bikin review ini karena inget Wooderson di Dazed and Confused. Dia bikin dirinya ngerasa muda dengan gaul bareng anak-anak SMA. Sementara Mavis tetep muda dengan nulis cerita young-adult yang ternyata perilaku remajanya itu kebawa-bawa sampai kehidupan nyata. Sebenarnya masalah Mavis itu alkoholic sih, soalnya dia bilang begitu pas akhir. Dia mabuk sejak sampai di Mercury. Mabuk dan ‘mabuk’.

Ending Young Adult, Mavis pergi dari Mercury setelah ngobrol panjang dengan Sandra, adik Matt yang sejak sekolah kagum sama dia. Sandra ngasih kayak pencerahan ke Mavis kalau Mercury memang menyebalkan dan orang kayak Mavis lebih pantes tinggal di kota besar. Sebelum Mavis pergi, Sandra minta Mavis ngajak dia ke Mini Apple–Minneapolis. Mavis pergi, sendiri, bareng Mini Cooper-nya yang depannya ringsek, ninggalin kota kecil Mercury dan melanjutkan hidup. Yup, everyone gets old. But not everyone grows up.

2 thoughts on “Young Adult

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s