film / Resensi

The Wedding Planner

2001_the_wedding_planner_009

Eugh, gue lupa kapan terakhir kali nonton romantic comedy. Kemudian, demi menyusuri jejak Matthew McConaughey sampai juga gue ke bagian nonton rom-comnya dia. Gue sempat mulai dengan How to Lose a Guy in 10 Days (tapi nggak selesai-selesai juga nontonnya karena geli) dan lanjut ke Wedding Planner. 

Di sini Matthew McConaughey berpasangan dengan Jennifer Lopez. Dan lagu sontreknya Love Don’t Cost a Thing dong. Itu jaman gue pakai seragam putih biru banget. Hahaha.

Ceritanya sih si J.Lo yang karakternya namanya Mary ini jadi wedding planner. Suatu hari dia nyaris celaka kalau nggak ditolong seorang dokter namanya Steve. Udah jatuh cinta gitu, dansa di bawah langit malam yang kemudian tiba-tiba turun ujan pas mau ciuman, eh, Mary tahu kalau si Steve aka Eddie atau nama lengkapnya adalah Steve Edison itu adalah calon suami kliennya. Tepatnya klien super kaya yang nggak masalah dengan berapapun uang yang dikeluarin untuk pesta anaknya.

Mary udah mau mundur, tapi kemudian dia meyakinkan diri bisa profesional. Pada saat yang sama ada cowok deketin Mary. Karena Mary ngerasa hopeless dengan cintanya sama Eddie, akhirnya dia terima lamaran itu cowok. Sementara itu, Eddie juga mulai mempertanyakan perasaannya ke Fran, tunangannya. Bener nggak cinta atau cuma nyaman karena terbiasa. #eeaaaa.

Pas hari pernikahan, akhirnya si Eddie ngajak ngomong Fran tentang itu. Gue mikir kenapa harus pas hari pernikahan sih. Kenapa nggak cerdas dikit sebelum pernikahan jadi nggak buang-buang uang. Dan Fran gitu aja mencerna omongan Eddie. Mereka batal nikah deh. Nah pas hari yang sama si Mary ini juga mau nikah. Terus Eddie pun ngeburu-buru untuk sampai ke tempat nikahan si Mary. Eh, ternyata Marynya juga batal nikah. Mereka ketemuan deh di taman bermain pas dulu dansa di bawah bintang gitu. Dan… haaaa… happy ending!

Film ini menghibur, mungkin kalau lagi dalam kondisi serupa Mary atau lagi jatuh cinta, film ini bakal lebih menarik. Banyak adegan manis. Ya gitu sih. Dan akhirnya bahagia. Film ini bisa menghibur hati banget. Mungkin bikin percaya lagi kalau cinta itu ada dan bisa datang dari mana aja. Meski berliku-liku cinta itu bakal kembali kepada hati yang dipilihnya.

Banyak adegan yang nggg… banget. Terasa cheesy karena tiba-tiba. Hehe. Kayak waktu si Mary baru aja ditolong Eddie. Coba ngapain si Eddie lama-lama nidurin badan si Mary. Emangnya dia nggak bisa berdiri? Malah ngomong dan nanya macem-macem (serta tebar pesona pastinya). Heuheu banget.

Atau mungkin film ini kerasa aneh buat gue karena belum menikah. Jadi nggak tahu seberapa ribetnya nyiapin pernikahan. Dan atau mungkin sesederhana gue lagi nggak jatuh cinta jadi film ini kerasa krik krik krik… jangkrik berderik garing.

Hehehe.

Lanjut ngebahas McConaughey aja ya. Karena itu alasan gue nonton film ini. Eddie. Gue nggak suka dia. Terlalu too good to be true. Dokter, baik hati, pinter dansa… apalagi coba? Punya senyum menawan, lesung pipi, mata biru gelap. Tapi, errrr rambutnya aneh banget! Nggak ngerti rambutnya itu diapain. Pirang-pirang jerami gitu kan tapi dipotong pendek dan dibikin berdiri berantakan gitu. Ini gaya rambut dia paling enggak banget dari belasan film dia yang udah gue lihat.

Dan… mukanya kegantengan banget buat main romcom. Serius. Kayak muka dia yang udah ganteng itu telalu dibedakin sampai kelihatan berpendar dan bersinar. Jadi, the real beauty of him malah nggak kelihatan. Kulit kecokelatan, frekles di muka, kepolosan, dan keanggunannya kayak hilang gitu dipakaiin topeng. Bahkan McConaughey di Contact jauh lebih romantis dan ganteng dibanding dua peran dia di romcom yang udah gue tonton itu.

Gue nggak mau protes sih. Cuma setelah nonton segambreng film dia, terus pindah ke romcom, rasanya tuh kayak kecebur ke rawa-rawa. Udah kegantengan aslinya ketutup, kemampuan dan kualitas dia sebagai aktor itu nggak kelihatan sama sekali. Ya ampun, sepanjang film dia tinggal ngomong bla bla bla, senyum simpul sampai giginya yang super rapi itu ngintip, dan mandangin lawan mainnya aja. Begitu aja. Gue inget dia di Reign of Fire yang badass banget (dan gue suka banget penampilan dia di situ), kasar, cowok banget, dan pesonanya tuh keluar banget. Atau tentu aja, favorit gue, Rust Cohle yang kasar dan nggak dibuat ganteng, malah justru kelihatan ganteng dan memukau serta seksi banget.

Setelah tiga belas tahun berlalu dan dia berhasil dapet Oscar, lalu gue kena McConaissance, dengan gampangnya gue membanding-bandingkan kerjaan dia mana yang lebih baik dan mana yang buruk. Rasanya nggak adil ya mencela buruk pilihannya ketika milih main romantic comedy. Namun, itu kan langkah yang dia ambil, pelajaran yang dia dapatkan untuk akhirnya bisa sampai sekarang. Seharusnya gue mengapresiasi, tapi gue memang bukan penikmat romcom. Senang akhirnya dia kembali ke jalan yang benar–maksudnya sesuai dengan kualitas akting dia. Seenggaknya dengan ngelihat penampilan dia di romcom, bisa terbayang betapa manisnya ketika dia harus berakting romantis.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s