Resensi / Serial

House of Cards season 1

“Money is the Mc-mansion in Sarasota that starts falling apart after 10 years. Power is the old stone building that stands for centuries. I cannot respect someone who doesn’t see the difference.”

House_of_Cards_Season_1_Poster

Ini drama tentang politik. Jahat dan pedas. Nggak suka kejam-kejamnya politik… gue udah memperingatkan lho.

Gue rasa politik itu yang bikin drama ini bercitarasa tinggi, elegan, anggun, sekaligus menakutkan. Dipawangi oleh duet Kevin Spacey dan Robin Wright yang cemerlang banget, bikin show ini jadi luar biasa.

Kevin Spacey memerankan Frank Underwood, seorang kongresman di Washington yang ditolak untuk menjadi Secretary of State oleh presiden terpilih. Merasa udah berjasa besar dalam memuluskan langkah si presiden terpilih (dan kita percaya dia melakukan itu!), Frank pun menyusun rencana. Dan perlu tahu, kalau Frank ini adalah perencana yang hebat dan punya tangan di mana-mana. Sosok yang bakal mengajarimu bedanya uang dan kekuasaan.

Pertama, Frank menyingkirkan calon Secretary of State yang dipilih si presiden. Ini sih gampang dan langsung ngeganti dengan orang yang direkomendasikan Frank. Usaha selanjutnya, Frank mengambil alih perancangan pengurusan dana pendidikan untuk presiden terpilih. Kemudian, Frank mendorong Peter Russo, seorang kongresman muda yang berbakat dan tampan untuk maju menjadi gubernur Pennysilvania. Namun, insiden di tengah-tengah itu, bikin rencananya berantakan dan pencalonan Russo pun gagal. Frank mendorong, Matthews si vice president untuk maju, agar nantinya Frank bisa menempati jabatan tersebut. Meskipun Frank begitu cermerlang dan cermat, di dunia nyata, nggak pernah ada rencana yang sempurna.

Semua usaha Frank itu nggak akan terwujud tanpa dorongan dan bantuan dari istrinya, Claire. Dia adalah karakter yang gue favoritkan banget dari serial ini. Pertama kali lihat Claire, kamu bakal tahu kalau Frank ada di tangan yang tepat, didampingi oleh orang yang pas banget. Gue rasa kekompakan Frank dan Claire ini salah satu faktor yang bikin penonton jadi memilih simpatik kepada mereka. Claire sama menakutkanya dengan Frank, pragmatis, tajam, dan tipe orang yang bikin takluk orang lain dengan kharismanya. Suka banget style berpakaiannya yang anggun dan elegan abis. Pokoknya, Claire Underwood idolaku banget deh!

house of cards frank claire

Bukan berarti dia mendampingi Frank kemudian, punya konflik yang sama dengan Frank. Claire memimpin sebuah NGO, Clear Water Initiative, yang kadang-kadang dipakai Frank untuk membantu rencana-rencananya. Di episode ini, terutama ketika pencalonan Peter Russo. Di mana Claire harus mengorbankan setengah stafnya untuk dirumahkan dan menolak bantuan dana $1.5 juta dari SanCorp, sebuah perusahaan energi gitu. Dia merekrut Gillian, seorang inisiator proyek WaterWell di Afrika. Akhirnya, mereka berantem, karena Claire harus ngambil keputusan menerima bantuan SanCorp demi memasukkan sebuah kapal bantuan ke Sudan, sementara Frank nggak bisa bantu apa-apa sama sekali. Gillian yang merasa nggak sejalan, menuntut Claire atas pemecatan dengan alasan hamil, padahal Claire nggak pernah ngomong begitu. Dari situ, gue sebel banget sama si Gillian.

Gara-gara Claire ngambil dana dari SanCorp dan bikin dua kongresman batal nge-vote untuk proyek Watershed Russo, mereka pun berantem besar. Claire sempat nemui Zoe Barnes, sebelum kabur ke New York untuk bertemu Adam Galloway, seorang fotografer yang juga cinta diam-diam Claire. Gue suka ngeliat Claire dan Frank–tangguh dan mengagumkan, tetapi gue nggak bisa nggak senang ngeliat Claire dan Adam. Adam yang seksi, bebas, hidup dari momen ke momen, itulah kenapa Claire cinta sama Adam. Sesuatu yang nggak bisa dia dapetin dari Frank. Gue suka adegan-adegan Claire dan Adam di apartemen Adam, kayak akhirnya setelah sekian lama ngadepin situasi yang tegang dan terjadwal banget, bisa bernapas lega dikit. Dan gue juga agak sedih dengan keputusan Claire dan Adam, perpisahan mereka, itu sedih banget.

Apa yang bikin Claire kembali ke Washington adalah insiden yang menimpa Russo. Setelah Watershed bill ditolak senat, langsung pupus harapan dan kampanye Russo sebagai gubernur. Peter Russo ini ganteng, muda, berbakat, dan penuh potensi. Cuma dia masih rapuh dan lemah banget. Gue ngedukung dia ketika digebrak-gebrak oleh Frank. Russo memang sosok yang butuh digituin. Nyata, Russo nggak sekuat itu. Ketika ngeliat dia jatuh pelan-pelan, tanpa tahu kalau Frank sebenarnya udah punya rencana yang lain… itu bikin berbalik nggak simpati lagi. Poor him.

Kematian Peter Russo ini yang bikin Zoe Barnes bareng Janine dan Lucas untuk menyelidiki. Sebelumnya Zoe udah terlibat sama Frank, mereka saling memanfaatkan satu sama lain. Zoe ini wartawan muda, tadinya di media cetak Washington Herald, akhirnya pindah ke media online Slugline (semacam buzzfeed gitu kali ya, ehehehe). Dia haus pengakuan banget dan dapet kesempatan dari dapet momen foto pas banget yang berkaitan sama Underwood, kemudian ya gitulah… ngeblackmail Frank. Claire tentu tahu hubungan Frank dan Zoe yang cuma asas manfaat aja. Sampai, Zoe akhirnya minta berhenti berhubungan di luar hubungan profesional. Dan apa… habis itu dia dapet Lucas, ih banget deh.

Salah satu yang diincar Zoe untuk nyari tahu tentang kematian Peter Russo adalah seorang pelacur namanya Rachel yang sempat terlibat sama Russo atas perintah Doug Stamper. Namun, Rachel berakting dengan baiknya dong. Juga Christina, asiste Russo yang diburu oleh Janine. Semuanya dibacking sama Doug Stamper, yang orang kepercayaan Frank dan karakter favorit gue setelah Claire. Tanpa Doug, jelas banget Frank nggak bisa semulus ini dan itu untuk mengerjakan semuanya.

houseofcards

Zoe Barners, Frank Underwood, Claire Underwood, Doug Stamper

Tapi kayak yang gue bilang di atas, permaian yang banyak melibatkan orang nggak akan pernah berjalan semulus rencana. Di episode terakhir, Lucas tahu kalau Rachel bohong dengan pura-pura nggak kenal Frank dan Doug. Dan bersambung deh ke season dua. Ehehe….

Karakter-karakter di atas itulah yang bikin cerita House of Cards ini solid dan ngalir banget. Mereka saling bicara dengan dialog yang panjang-panjang dan penuh kode, tapi sama sekali nggak bosenin. Malah kalimat-kalimatnya sungguh quotable. Dan setiap orang punya tone dan kekhasan bicara yang berbeda, bikin kelihatan banget siapa yang tangguh dan siapa yang rapuh.

Jadi, ini sebenarnya adalah cerita tentang karakter yang penuh ambisi dan berusaha mewujudkan ambisinya dengan kekuatan yang dimilikinya. Kebetulan dia dalah kongresman dan dengan setting kehidupan politik yang rumit. Politik, itu juga rasanya kenapa orang-orang demen ke show ini. Karena pada dunia nyata, politik itu suka nyebelin dan nggak benar-benar bisa dimengerti (karena terbatas dan ruwetnya informasi yang sengaja diembuskan).

Gue suka show ini, awalnya nggak mau nerusin ke season dua, tapi karena ada beberapa subplot yang nggak terselesaikan di season satu, tanggung banget nggak mau ke season dua. Kayak tuntutan Gillian ke Claire dan penyelidikan Zoe n’ geng, serta tentunya sepak terjang Francis selanjutnya! Horaaah!

Episode favorit gue adalah episode 8, mungkin karena terasa melankolis banget dan isinya nostalgia Frank serta Russo. Episode 12-13 juga solid banget, bikin deg-deg karena sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ternyata ada orang yang memang sengaja ngasih nasihat ke presiden untuk nggak ngangkat Frank jadi Secretary of State dulu. Dan orang itu sama hebatnya dengan Frank serta ngerti perbedaan antara uang dan kekuasaan. Kayak, akhirnya Frank ketemu juga musuh terbesarnya. King versus King.

Dalam perang, hanya ada satu pihak yang menang. Dia yang tahu kartu apa yang ada di tangannya.

house of cards

House of Cards season 1 recap:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s