buku / Resensi

Bumi

2014-03-28 16.15.34

Menulis fantasi memang tricky. Sebenarnya menulis apa aja jatuhnya memang tricky sih. Cuma karena buku yang mau gue bahas ini genrenya fantasi. Jadi, mari kita bahas tentang itu.

Tere Liye adalah salah satu penulis kesukaan gue. Setelah bereksperimen dengan genre thriller ekonominya di Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk, beliau ngeluarin buku baru lagi berjudul Bumi, yang dari teman-teman gue, gue baru tahu kalau genrenya fantasi. Gue jadi lebih bersemangat baca dong karena fantasi memang salah satu genre bacaa favorit.

Bumi ini bakal bersekuel ya, entah tiga atau empat. Pokoknya bersambung aja.

Raib, ya namanya Raib, adalah remaja yang memiliki kemampuan bisa menghilang. Sejak melihat ada sosok bermata hitam dan guru matematikanya yang bersikap aneh, kejadian tidak wajar mulai menghampiri Raib. Yang paling besar adalah ketika nyaris kejatuhan kabel listri dan tertimpa tiang listrik. Raib tidak menyangka menyangka bahwa sahabanya, Seli, bisa mengeluarkan petir dari tubuhnya. Dan Raib yang waktu itu panik langsung menghilangan tiang listrik itu entah ke mana. Sialnya, kejadian itu dipergoki oleh Ali, cowok cerdas, nyebelin, dan pindahan dari sekolah lain.

Sebelumnya Raib kehilangan kucing imajinasinya. Ternyata, kucing tersebut adalah kiriman si sosok bermata hitam. Sosok itu mengajari Raib untuk menghilangkan benda-benda. Sampai akhirnya Raib fasih dan bisa menggunakan kemampuannya.

Pada suatu siang, di aula, ketiganya didatangi oleh si sosok mata hitam bersama pasukannya. Dia mau membawa Raib pergi lewat sebuah lorong gitu. Nah, pada saat yang tepat muncul si guru matematika, Miss Selena. Pertarungan pun tak terelakkan. Dan Miss Selena mengirim ketiganya ke rumah Raib. Dengan berbekal buku matematika yang ternyata adalah buku kehidupan, ketiganya terkirim ke dimensi lain.

Di dunia yang lain ketiganya ditolong oleh Ilo yang seorang desainer pakaian terkenal. Dimensi itu berbeda dengan dimensi yang Raib dkk tinggali. Oleh Ilo, mereka ditolong ke perpustakaan sentral untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Tamus, si sosok mata hitam, nggak tinggal diam. Dia membuat kekacauan dan menculik Miss Selena. Ketiganya pun berusaha membebaskan Miss Selena. Setelah pertarungan sengit dan monolog super panjang si Tamus, mereka berhasil mengirim Tamus dan Buku Kehidupan ke dimensi antah berantah.

Gitu ceritanya. Sampai di situ.

Sebenarnya penulisan novel ini cukup bagus sih. Ya, Tere Liye gitulah ya, gaya nulisnya udah kerasa lah enaknya. Diksinya sederhana dan cukup variatif. Kalimat-kalimatnya mudah dicerna.  Meski di sini kerasa dia coba bereksperimen dengan nulis dengan bahasa remaja yang lebih gaul dan ringan. Pakai istilah-istilah yang lebih gaul, kayak trending topic dan bahasa korea untuk cute.

Eksperimen gaya nulis itu apakah yang mengakibatkan alurnya jadi lambat abis, bisa jadi. Tapi, alur yang lambat itu emang diperluin untuk pengenalan karakter dan menjelaskan dimensi lain, serta sejarah dari empat klan yang bersinggungan di dalam cerita ini: makhluk tanah, klan bulan, klan matahari, dan klan bintang. Sayangnya, kedetailan ini bikin dialog-dialognya terasa kaku dan nggak natural. Perlu berlembar-lembar untuk ngomongin jerawat si Raib dan mesin cuci–apa fungsinya? Gue nggak nemu sampai belakang.

Ceritanya dikisahkan dari sudut pandang Raib. Karena semua event melibatkan si gadis ini. Mungkin ini juga yang menyebabkan Raib banyak nggumun (mikir dan berkomentar sendiri) dan mikirin jerawat yang kemudian bisa dia ilangin dengan kekuatannya itu.

Karakter utamanya ada tiga, Raib, Seli, dan Ali. Nggak ada yang menarik dari ketiganya. Semua biasa-biasa aja. Ali malah stereotype banget. Dari ketiga geng itu yang nggak bisa apa-apa kan cuma Ali. Tapi dia cerdas dan mau belajar. Di akhir, dia kahirnya bisa nguasain bahasa dunia lain itu dan membantu Raib untuk menemukan lokasi. Ali ini cuma mahkluk tanah aka klan tanah, sementara Raib ternyata adalah klan bulan, dan Seli ternyata adalah klan matahari.

Jadi, udah ketebak banget ya kalau ceritanya pakai trope the chosen one. Gue kira ini awalnya cuma anak yang punya kekuatan supernatural dan gimana dia hidup di tengah orang-orang biasa, ternyata beneran murni fantasi. Trope the chosen one ini udah pasaran banget sejak meledaknya Harry Potter dan mengulang-ulang pola yang sama. Kayak, kalau ternyata orang tua Raib di dunia bukanlah orang tuanya, gue nggak kaget sama sekali. Kalau nanti ternyata Tamus masih hidup dan sebenarnya nggak jahat, gue juga nggak akan kaget. Twist kayak gitu, sekali lagi udah biasa banget di fantasi YA.

Raib, sebagai the chosen one, juga sama sekali nggak dapet kerepotan apa-apa dari kemampuannya itu. Too good to be true aja. Harusnya ada harga yang harus dibayar dari kemampuan yang dia miliki di dunia yang mestinya dihuni orang-orang normal ini. Bukan bayaran dia harus nyelesaiin masalah di dimensi lainnya itu, masalah yang bikin dia terlibat sama sosok-sosok dan keanehan yang nggak pernah dipikirkannya–tapi implikasi dalam hidup sehari-hari dia lho. Itu yang kurang dari cerita ini dan bikin terasa nggak realistis sama sekali. Raib boleh beda, tapi dia bagian dari manusia biasa kayak gue, kayak yang lain.

Worldbuilding-nya lumayanlah, cukup detail juga dijelasin. Jadi, kayak dunia paralel, bagus sih si Ali mengumpamakannya kayak lapangan di sekolah yang bisa dipakai untuk macem-macem olahraga. Meski kadang-kadang terlalu banyak informasi yang dijejalkan dan jadinya malah lepas semua. Konsep dimensinya juga menarik, orang-orang yang hidup di atas awan, di bawah tanah, kapsul transportasi canggih, lubang transportasi antar dimensi. Klan selain manusia itu diceritakan jauh lebih canggih daripada manusia. Cuma ada beberapa poin, ketika kayak kapsul transportasi itu mau dijelaskan secara fisika. Sementara Buku Kehidupan dan Buku Bulan… nggak bisa dijelaskan secara fisika, itu murni supernatural, termasuk juga kemampuan-kemampuan yang dimiliki Raib dan Seli. Itu memang dari sananya, keturunan, dan belum dijelasin dengan detail. Jadi, kayak ada tumpang tindih fiksi ilmiah dan fantasi di sedikit bagian.

Dari awal gue mikir kenapa diberi nama Raib. Kebetulan? Ternyata itu adalah nama dari leluhur dia. Raib. Iya, Raib. Aneh banget kan namanya? Satu lain poin yang bikin cerita ini nggak realistis.

Hal menjengkelkan lainnya adalah monolog super panjang si Tamus di tengah-tengah pertempuran final. Gue sampai cengok kok sempat-sempatnya si Tamus ini cerita panjang lebar sementara Seli atau Raib nggak ada inisiatif nyerang? Monolog kayak gitu, kalau buat orang yang bangga dan drama kayak Tamus bisa 5-10 menit lho. Cukup untuk ngeluarin kaiju dari lubang terobosan… eh, oke gue ngelantur. Ya, memang sih sejarah itu penting, tapi ya mbok jangan ditaruh pas berantem. Coba bayangin lagi nonton film, terus ketika pihak si baik udah mulai loyo dan si jahat pakai itu buat cerita sejarah kenapa dia di buang? Itu nurunin ketegangan banget. Jadi, terasa anti klimaks di akhir. Dan ya, apalagi ini bersambung… sungguh anti klimaks.

Untuk penulis sekelas Tere Liye, prolog cerita ini mengecewakan banget. Setelah milih trope the chosen one yang standar, pembukanya haduh standar juga. Itu udah dipakai di beberapa fantasi YA, gue lupa apa aja, tapi pernah banget baca yang mirip kayak gitu.

Sekali lagi, nulis fantasi memang tricky. Nggak semua bisa nerima fantasi yang dikasih. Padahal itu fantasi! Bisa ditulis sesuka hati! Nah, itulah sulitnya, menuangkan fantasi sesuka hati di kepala dan disesuaikan dengan hal-hal yang harus diperhatikan ketika nulis fantasi. Novel Bumi ini bukan untuk pembaca high fantasy atau magic, karena memang lebih ke paranormal fantasy/myth. Iya, sub genre fantasi itu ada banyak lho, dan suka satu sub, bukan berarti bisa suka sub yang lain.

Beberapa teman yang udah baca, berpendapat buku ini menarik dan mereka suka, salah satunya punya Dian (bukan pembaca genre fantasi), yang bisa dibaca di sini. Ada juga teman penggemar fantasi yang ngaku berhenti di beberapa halaman awal.

Menulis fantasi memang tricky–kayak bikin film scifi, antara kamu mau ngejual hiburan dengan dasar ilmiah yang bodong, kayak Armageddon, atau bikin se-scientific mungkin tapi mungkin nggak diterima penonton non-scifi, kayak film Contact. Jadi, pelajaran dari buku ini untuk nulis fantasi adalah kenali sasaran pembacamu. Itu bisa membentuk tulisanmu bakal seperti apa jadinya nanti.

2 thoughts on “Bumi

  1. Cukup untuk ngeluarin kaiju dari lubang terobosan…

    Tak bisa lepas dari mereka ya? Hihi.

    Balik lagi ke Bumi, itu yg pertama kali ambu pikir: namanya Raib dan dia bisa ‘menghilang’. Kok seperti sengaja dibuat sama penulis (ya semua juga dibuat sama penulis XD) maksudnya: enggak alami…

    Tapi, baiklah. Nanti diterusin bacanya. Kapan-kapan. Engga janji, hihi

    • Kalau di bukunya sih, penjelasan nama Raib itu karena nama milik leluhur gitu, Ambu. Mungkin di buku-buku selanjutnya dibahas. hihi

      Iya nih, susah move on dari kaiju *lagi nunggu pesenan novelisasinya dateng*😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s