film

13 Conversations About One Thing

“I believe that if there is such thing as luck. I just hope I’m lucky enough to notice it when it comes my way.” – Troy

Thirteen-Conversations-About-One-Thing-affiche-12429

Di tengah-tengah nonton ini terbersit sebuah pikiran di kepala gue: ‘keberuntungan itu cuma ada di dunia nyata, di dunia fiksi keberuntungan itu nyaris hal terlarang.’ Dalam dunia fiksi, segala hal adalah bentuk kasualitas, ada sebab dan akibat, yang pembaca, penonton, dan kreator tahu tentang itu. Sementara di dunianya, banyak hal yang nggak kita tahu dan mempengaruhi hidup kita… akhirnya kita sebut itu keberuntungan atau musibah.

Mereka bicara tentang keberuntungan. Tentang seorang pengacara muda (Matthew McConaughey) yang merayakan keberhasilannya dan mempertanyakan apa itu keberuntungan. Tentang seorang dosen (John Turturro) yang bertemu perempuan yang membuat hidupnya lebih berwarna. Tentang seorang pekerja rumah tangga (Clea DuVall) yang percaya keajaiban. Tentang seorang manajer (Alan Arkin) yang baru saja kehilangan pekerjaannya dan anaknya dimasukkan ke dalam penjara karena kasus narkoba.

Keberuntungan bisa hilang dan datang dalam sekejab. Si manajer berbagi cerita kepada si pengacara muda, tentang rekan sekantornya yang memenangkan lotere bernila dua juta dolar. Ah, bahagia! Rekan kerjanya itu langsung resign dari pekerjaannya dan berniat menikmati uangnya. Uang itu seperti gula bagi semut, pelan-pelan orang-orang merubung, mencoba mengais bagian dari keberuntungan si rekan kerja. Akhirnya, tinggallah utang dan tuntutan di sana sini. Keluarganya hancur, anaknya nyaris diculik mafia, dan banyak ketidakberuntungan lain yang datang menghampiri.

13-conversations-about-one-thing-645-75

Awal mula pembicaraan mereka adalah tentang bahagia. Si pengacara menraktir si manajer minuman dan memberikannya sebuah lagi dari mesin pemutar musik. Si pengacara pulang dengan wajah berseri dan senyum sumringah. Dalam perjalanan menuju rumah dia merasa sebagai orang paling bahagia di dunia, sampai dia menabrak seorang pejalan kaki. Antara bingung dan ragu, akhirnya si pengacara muda meninggalkan pejalan kaki itu tergeletak di trotoar. Dia pergi!

Si pejalan kaki, dulu pernah hampir mati sekali dan karena itu dia percaya keajaiban. Dia percaya selalu ada hal baik setelah waktu yang buruk. Dia bekerja sebagai pengurus rumah tangga di rumah orang-orang yang selalu mengkritik pekerjaannya dan bahkan menuduhnya mencuri. Pada suatu hari, ketika akan mengembalikan kemeja si pemilik rumah, dia tertabrak. Kejadian itu mengakibatkan dia harus istirahat berhari-hari dan kehilangan pekerjaan. Pelan-pelan, dia mulai merasa betapa hidup tidak adil kepadanya.

Si pengacara yang trauma dengan kejadian tabrakan itu akhirnya menjual mobilnya kepada seorang dosen yang baru ditinggal istrinya. Mereka berpisah karena si dosen berselingkuh dengan istri orang lain. Dosen itu bahagia melakukannya meski tahu itu semua salah. Sampai kemudian, kejadian itu ketahuan oleh suami selingkuhannya dan suaminya meminta dia berhenti. Hidup dosen itu pun kehilangan warna.

Hidup yang tanpa warna pun dialami si manajer. Dia bertanya-tanya mengapa ada seseorang yang selalu bisa tersenyum dan melihat hal baik dari segala sisi. Salah satu pekerjanya, selalu membuat kantornya penuh tawa dan santai. Namun, si manajer tidak menyukai hal itu. Katanya pada salah satu rekannya, si pekerja itu hidup di bawah ilusi. Rekannya bertanya, apakah istri si manajer pernah membuatkan cookies seenak pemberian pekerjaannya itu? Si manajer menjawab tidak ingat. Sewaktu kesempatan itu datang, si manajer memecat si pekerja. Hatinya terusik ketika si pekerja bahkan masih tersenyum ketika mereka berpisah. Dan pada pertemuan yang selanjutnya. Dan yang kesekian kali. Akhirnya, dengan bantuan temannya, si manajer meminta agar si pekerja yang suka tersenyum itu dipekerjakan. Di akhir cerita, si manajer itu sendiri kehilangan pekerjaan akibat perampingan perusahaan.

What a life!

13conversations_640x360

Ketika nonton film ini, mungkin kamu udah akan bisa menebak yang terjadi. Namun, segala sesuatunya di dalam film ini digambarkan deket banget dengan kehidupan sehari-hari. Gue yakin satu dari sekian banyak pembicaraan di sana, pernah kamu alami. Satu dari kejadian di sana, pernah menimpamu.

Itulah yang bikin gue tetap betah nonton sampai akhir. Kayak lihat drama yang diangkat dari diari. Pertanyaan satu yang dijawab oleh orang lain. Karakter-karakter yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain, namun merasa asing.

Dialog-dialognya sederhana, tapi sekali lagi, deket banget kayak apa yang dibicarakan keseharian. Pertanyaan tentang kebahagiaan. Interaksi dengan orang asing. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab dengan sepenuhnya jujur. Orang yang kita tahu tapi tidak pernah benar-benar kita kenal. Film yang quotable banget deh!

Yang sama di antara mereka semua adalah: mencari kebahagiaan.

Dengan cara yang beda-beda, semuanya berusaha mencari hal yang sama meski dengan definisi sendiri-sendiri. Kayak reflektif. Kayak gue nulis ini karena senang dan pengin berbagi kebahagiaan dengan yang baca. Bahagia nggak perlu rumit.

Meski sinematografinya biasa-biasa aja–ya, ini film indie. Gue suka banget dengan musik latarnya yang nempel banget di kepala. Serta akting dari aktor-aktornya yang semuanya bagus! Matthew McConaughey kelihatan kayak Rust Cohle banget di sini dan ternyata, eh ternyata, Elizabeth Reaser (pemeran Laurie di True Detective) jadi figuran juga di sini. Film ini dirilis tahun 2001 dan disutradari oleh Jill Sprecher.

13 conversation mcconaughey

Matthew McConaughey sebagai Troy, pengacara muda

Thirteen Conversation about One Thing memang hanya drama slice of life, bercerita kehidupan sehari-hari. Namun, kadang-kadang kita butuh yang begitu. Butuh diingatkan. Nggak semua orang beruntung pernah jadi agen rahasia, atau pembunuh naga, atau beruntung ketemu meet the cute. Kebanyakan cuma biasa-biasa aja, kayak si dosen, si pekerja rumah tangga, atau si manajer.

Bahagia itu bisa hilang dalam sekejab. Dan biasanya, kamu sadar ketika itu udah lepas dari genggaman. Hari ini, coba tanya pada dirimu sendiri: apakah kamu bahagia?

“I wish, I wish we could see into the future sometimes. That’s the problem, isn’t it? I mean, life – it only makes sense when you look at it backwards. Too bad we gotta live it forwards.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s