film / Resensi

We are Marshall

we_are_marshall_xlg

Membangun dari awal dan mempertahankan adalah sesuatu yang sama-sama sulit. Karena keduanya bertahap. Karena keduanya menghadapi masalah yang berbeda. Terlebih untuk memulai dari awal dan membangun sesuatu yang sedang dilanda duka—itu bakal sulit banget. Sebab luka. Sebab nostalgia.

Itulah kisah tentang We are Marshall yang diangkat dari kisah nyata. Sebuah kota kecil di West Virginia yang dalam satu malam kehilangan seluruh pemain futbol, pelatih, staf, serta beberapa warga pada sebuah kecelakaan pesawat. Marshall University pun berencana untuk menghentikan sementara program futbol di sekolah tersebut. Sampai beberapa anggota yang tersisa menentang ide tersebut. Kesulitan mencari pelatih pun sempat mendera MU. Hingga pada suatu hari, datang telepon dari Jack Lengyel, yang merupakan pelatih futbol dari sebuah sekolah swasta, yang bersedia untuk melatih tim futbol Marshall University.

Datang dengan bersemangat dan optimisme, tidak membuat jalan Jack menuntaskan duka dan masalah terkait futbol lainnya dengan mudah. Dengan sisa pemain yang ada, beberapa pelatih baru yang direkrut, dan dibantu Red (Matthew Fox), asisten pelatih tim lama, dimulailah pekerjaan berat Jack.

Bukan membangun tim baru yang sulit, melainkan melawan kedukaan yang menyelimuti warga kota Marshall. Luka dan duka nggak akan bisa membuat menerima sesuatu yang baru. Kesan itu kerasa banget dalam film ini. Kamu akan ngeliat orang tua yang berduka, kekasih yang ditinggalkan, sisa-sisa pemain yang depresi, teman yang menyesal. Satu kota kecil yang kehilangan tujuh puluh orang penduduknya… tidak akan mudah. Memakamkan di hari yang sama, seliweran mobil jenazah yang bolak-balik mengantar… bukanlah sesuatu yang mudah dihadapi. Dan itu membekas banget buat warga kota Marshall.

Di Amerika Serikat, terutama di film ini, diliatin banget kalau futbol adalah bagian dari budaya. Menjadi pemain futbol adalah kebanggan keluarga. Dapat beasiswa dan jadi idola kota. Ketika Jack mulai merekrut pemain-pemain baru untuk Marshall, mereka harus minta izin dulu ke orang tua para siswa itu. Bahkan ketika pertandingan, orang berbondong-bondong untuk nonton.

Film ini nggak terlalu membahas futbol secara teknis. Karena intinya adalah gimana bangkit dari keterpurukan. Menurut gue, pesan itu dapet banget dari keseluruhan cerita. Meski ada beberapa adegan yang didramatisir berlebih, tetapi secara umum film ini cocok ditonton bareng keluarga dan beberapa bagian malah bikin berkaca-kaca.

Dari seluruh duka itu, harapan ada pada sosok Jack Lengyel yang diperankan dengan apik oleh Matthew McConaughey. Ini adalah film olahraga kedua setelah Two for the Money. Tapi, jangan ngarep adegan shirtless karena nggak ada sama sekali. Karakter Jack adalah sosok yang kharismatik, percaya diri, dan optimis. Ketika pertama kali ditanya apa yang dia harapkan dari ngelatih tim Marshall, jawabannya adalah ‘kalau kalian minta keajaiban, kalian bakal kecewa’. Gue juga suka banget gerak tubuh karakter Jack ini. Unik banget dari karakter-karakter yang pernah dimainin McConaughey lainnya. Meskipun, kalau kamu udah nonton Dazed and Confused, kamu bakal setuju kalau Jack ini versi tua dari David Wooderson. All right, all right, all right.

Dan jangan lewatkan matanya yang biru kayak lautan dalam di sepanjang film. Pokoknya jangan sampai lewat. So beautiful.

we are marshall mcconaughey 2

Pemeran pembantu lainnya ada Kate Mara. Perannya cuma sedikit sih, tapi dia narasiin pembuka dan penutup film ini. Karakter-karakter cewek lainnya juga terasa kalau Cuma tempelan aja. Mendingan film ini dibuat maskulin sekalian deh, menurut gue.

Pada akhirnya, tim baru Marshall University bisa terbentuk. Meski belum terus-terusan menang di bawah asuhan Jack. Seenggaknya harapan baru sudah tumbuh dan itu lebih baik daripada nggak ada sama sekali. Luka dan duka nggak akan pergi ke manapun, kalau nggak diikhlaskan. Dengan memelihara itu pun, kita juga nggak akan sampai ke mana-mana. Padahal waktu nggak pernah mau menunggu. Kayak kata Coach Lengyel: ‘kita nggak punya waktu’. Yup, karena waktu selalu lewat, nggak pernah bisa membeku di tangan kita. Namun, meski suatu kali, waktu mengantarkan duka, waktu juga yang menuntun kita untuk bertemu bahagia.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s